Sejarah Satra periode 1953 sampai 1961 part 3 | Anak Pantai

Sejarah Satra periode 1953 sampai 1961 part 3

Para Pengarang

NugrohoNotosusanto (Rembang, 15 Juli 1930)
Nugroho Notosusanto terkenal sebagai penulis prosa, terutama pengarang cerpén. Tetapi sesungguhnya ia pertama-tama menulis sajak-sajak yang sebagian besar dimuat dalam majalah yang dipimpinnya, Kompas. Tidak merasa mendapat kepuasan dalam menulis sajak, ia lalu mengkhususkan diri sebagai pengarang prosa, terutama cerpén dan ésai. Nugroho telah menerbitkan tiga buah kumpulan cerpén, diantaranya:
  1. Hujan Kepagian (1958), memuat cerpén-cerpén tentang perjuangan kemerdékaan nasional yang dilakukan oléh para pemuda dan pelajar muda usia.
  2. Tiga Kota (1959) memuat cerpén-cerpen yang ditulis karena inspirasi dan tiga kota: Rembang, Yogyakarta dan Jakarta.
  3. Rasa Sayange (1963) yang antara lain memuat cerpénnya yang paling berhasil berjudul ‘Jembatan’.
Setelah menerbitkan ketiga buku itu, Nugroho lebih mencurahkan perhatiannya kepada penulisan ilmiah dan sejarah. Ia menjadi kepala Pusat Sejarah Angkatan Bersenjata dari sejak 1968 diangkat menjadi kolonél titulér, kemudian brigadir jenderal.

Di antara para pengarang semasanya, Nugroho dikenal sebagai penulis ésai. Ketika para pengarang lain hanya menulis cerpen dan sajak, Nugroholah yang banyak menulis ésai yang mencoba menyelami situasi zamannya, terutama tentang sastera dan kebudayaan. Ia merupakan salah seorang pengambil inisiatif untuk mengadakan simposium sastera Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jakarta tahun 1953 yang kemudian dijadikan tradisi tahunan sampai dengan tahun 1958. Ia sendiri pada simposium tahun 1957 menjadi pemrasaran yang mengemukakan prasaran tentang cerita péndék.

Ali Akbar Navis (Padangpanjang, 17 November 1924)
Ali Akbar Navis yang kalau menulis menyingkat namanya menjadi A.A. Navis itu baru muncul dalam gelanggang sastera Indonesia pada tahun 1955. Ia merupakan pengarang islam. Beberapa cerpen yang dihasilkannya aantara lain:
  1. Robohnya Surau Kami’ yaitu sindiran terhadap orang yang kelihatannya patuh melakukan syari’at agama tetapi sebenarnya rapuh di dalam, sehingga mudah saja terhasut untuk bunuh diri. Melalui cerpennya yang pertama ini ia menjadi terkenal. Cerpén ini kemudian diterbitkan bersama-sama dengan beberapa buah cerpén lain dengan judul Robohnya Surau Kami (1956). Ketika dicétak ulang beberapa tahun kemudian, buku ini mengalami perubahan isi. Ada cerpén-cerpén baru ditambahkan, tetapi ada juga cerpén lama yang dicabut.
  2. Hujan Panas (1964) dan
  3. Bianglala (1964). Pada umumnya cerpén-cerpén Navis padat dan mempunyai latar belakang sosial psikologis yang luas. Banyak pula yang merupakan sindiran akan tingkah laku dan keimanan tokoh-tokohnya. Navis juga mengkritik orang-orang yang mempraktékkan syariat agama (Islam) secara membuta dan taklid saja, karena menurut dia Islam harus dthayati secara rasional dan penuh perikemanusiaan.
Selain menulis cerpen Navis pun menulis roman  seperti Kemarau (1967) dalam roman ini masalah agama dan pelaksanaannya mendapat sorotan pengarang secara tajam. Tokoh utamanya seorang pemeluk Islam yang dalam menafsirkan takdir dan ayat-ayat kitab sucinya tidak begitu saja mengikuti orang banyak sehingga ia dicurigai oléh orang-orang sekelilingnya. Dengan jelas Navis melukiskan konflik sia-sia yang timbul hanya karena masih berkuasanya kesempitan pandangan dan kefanatikan dalam ber-Islam.

Trisnoyuwono (Yogyakarta 5 Desémber 1929)
Trisnoyuwono sudah mulai menulis cerpén-cerpén picisan pada tahun lima puluhan awal, dimuat dalam majalah-majalah hiburan seperti Terang Bulan. Tetapi baru pada pada tahun 1955 cerpénnya muncul dalam majalah sastera. Ia meninggalkan penulisan cerpén-cerpén picisannya dan mulai menulis secara lebih sungguh-sungguh. Kumpulan cerpénnya adalah sebagai berikut:
  1. Laki-Laki dan Mesiu (1957) mendapat hadiah sastera Nasional dan BMKN tahun 1957-1958. Kumpulan itu memuat kisah-kisah révolusi yang sebagian besar berdasarkan pengalaman-pengalamnnya sendiri. Cerpén-cerpén Trisnoyuwono menarik karena ia melukiskan manusia dalam situasinya lengkap dengan ketakutan, nafsu berahi, kelemahan dan kekuatan.
  2. Angin Laut(1958) tidak begitu meyakinkan.
  3. Di Médan Perang (1961) nilainya lebih baik. Terutama cerpen ‘Di Médan Perang’ yang dijadikan judul kumpulan ini sangat kuat dan mengesankan. Tak kelirulah kalau cerpén ini dianggap sebagai cerpén terbaik yang pernah ditulis oléh Trisnoyuwono. Buku kumpulan cerpénnya yang terakhir ialah Kisah-kisah Révolusi(1965).
Selain itu ia juga menulis roman seperti:
  1. Pagar Kawat Berduri (1962). Merupakan salah satu cerpen yang dimuat dalam “Laki-laki danMesiu” yang dikerjakannya kembali menjadi sebuah roman, judulnya sama dengan judul cerpén asalnya. Roman ini dibuat filem oléh Asrul Sani yang menjadi penulis skénario dan menjadi sutradara dan roman ini telah pula menyebabkan Trisnoyuwono mendapat Hadiah Sastera Yamin.
  2. Bulan Madu (1926),
  3. Petualang (1963) dan lain-lain.
Iwan Simatupang
Iwan Simatupang (lahir di Sibolga pada tanggal 18 Januari 1928) mula-mula menulis sajak, kemudian ésai. Sesudah itu ia menulis cerpén, drama dan roman. Sajak akhirnya kelihatan dia tinggalkan. Mémang pelarian Iwan terpenting di lapangan prosa. Esai-ésainya memberikan gaya dan kaki langit baru. Ia yang merasa tidak puas dengan segala alam pikiran yang sudah karatan, kemudian mencari ufuk-ufuk baru dengan logika dan kebébasan bahasa kata-kata. Cerpén-cerpén, drama-drama dan roman-romanyang ditulisnya, tidaklãh terikat oléh logika, plot dan perwatakan yang biasa, juga yang menonjol dari masing-masing karyanya adalah gayanya yang padat.

Drama-drama yang ditulisnya, banyak yang dibuat dalam majalah-majalah, antara lain:
  1. Bulan Bujur Sangkar
  2. Taman
  3. RT Nol/RW Nol Kebanyakan drama sebabak. ‘Taman’ kemudian diterbitkan sebagai buku kecil berjudul Petang di Taman (1966).
Dalam esai-ésainya terasa vitalitas Iwan yang dengan gigih mempertahankan individualitas dan kebébasan martabat manusia. Sebagai indvidu yang bébas, ia bébas melakukan percobaan-percobaan dalam mencari ufuk-ufuk baru sastera. Di antara cerpén-cerpénnya patut disebut ‘Lebih Hitam dari Hitam’ (Siasat Baru 1959) sebagai cerpén yang baik sekali menyelam ke gua dasar jiwa manusia, mencari kebenaran antara sadar dan tak sadar.

Iwan pun menulis roman, di antaranya:
  1. Ziarah melukiskan kehidupan nisbi mencari nilai-nilai yang nisbi pula, berada dalam daérah takdir yang tak bisa diatasi oléh filsafat. Roman ini unik dalam sastera Indonesia karena dalam mengemukakan persoalanpersoalan yang menjadi témanya, Iwan membuat plot menjadi lepas dan longgar.
  2. Kering dan
  3. Mérahnya Mérah (1968), roman ini pelaku-pelakunya bukanlah manusia-manusia yang berada dalam norma-norma biasa, tetapi merupakan penjelmaan dan gagasan pengarang tentang manusia.
Toha Mohtar
Pengarang yang sejak awal tahun lima puluhan produktif menulis cerpén-cerpén dalam majalah-majalah hiburan (anéhnya tak pernah dia menulis dalam majalah sastera atau kebudayaan) dengan nama samaran yang selalu berganti-ganti ialah Toha Mohtar. Roman yang ditulisnya antara lain:
  1. Pulang (1958) yang mengejutkan dunia sastera Indonesia karena mendapat hadiah sastera nasional BMKN tahun 1958. Roman ini sangat sederhana, tetapi justru karena kesederhanaannya, ia terasa jernih bening. Yamin yang menjadi tokoh utama roman ini bekas Héiho yang tidak segera menemukan kedamaian ketika ia pulang ke désanya. Ia selalu diburu-buru oléh perasaan berdosa, karena sepulangnya dan Birma ia tidak menggabungkan diri berjuang dengan para pemuda Indonesia lain untuk mempertahankan kemerdekaan Tanah Air, melainkan ikut membantu tentara sekutu lantaran tidak tahu. Meskipun tak ada orang yang menggugat hal itu kepadanya, namun nuraninya tak pernah dapat dia bohongi. Konflik psikologis ini dengan meyakinkan dilukiskan pengarangnya secara halus dan teliti. Roman ini sekarang telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing. Cerita ini lebih dahulu pernah dimuatkan sebagai cerita bersambung dalam sebuah majalah hiburan dan pernah dibuat filem oléh Turino Djunardi beberapa tahun sebelumnya dengan judul yang sama.
  2. DaérahtakBertuan (1963), sebuah kisah révolusi yang digali dan pengalaman perjuangan di Surabaya ketika para pemuda mempertahankannya dari serbuan tentara sekutu. Ada pengkhianatan dan ketamakan yang berakhir dengan sia-sia, meskipun cukup menarik, roman ini tidaklah menandingi Pulang yang ditulisnya lebih dahulu.
Subagio SastrowardojoMeskipun Subagio Sastrowardojo belakangan ini lebih terkenal sebagai penyair dan bukunya yang pertama pun merupakan kumpulan sajak, yaitu Simphoni (1957), sesungguhnya ia juga penting dengan prosa-prosanya baik yang berupa cerpén maupun yang berupa ésai. Cerpén-cerpénnya dibukukan antara lain:
  1. Kejantanan di Sumbing (1965). Bahasanya sangat jernih dan bersih. Lukisan-lukisan kejiwaan cerita-ceritanya sangat mengesan. Ia mempunyai keistiméwaan dalam meneliti gerak-gerik batin pelaku-pelaku ceritanya.
  2. Perawan Tua sangat menyaran, melukiskan keadaan jiwa seorang gadis yang karena mau setia kepada kekasihnya yang gugur dalam pertempuran melawan Belanda lalu menghadapi hidupnya yang sepi. “PerawanTua’ merupakan salah sebuah prosa terindah yang perah ditulis dalam bahasa Indonesia.
Dalam cerpén-cerpén dan sajak-sajaknya banyak dilukiskan manusia yang gampang dirangsang nafsunya. Manusia-manusia Subagio ialah manusia-manusia yang dalam mencoba mempertahankan kewajiban tergoda oléh sifat-sifat kedagingannya. Selain yang dimuat dalam Simphoni, masih banyak lagi sajak Subagio yang belum diterbitkan sebagai buku, antara lain yang termuat dalam naskahnya Daérah Perbatasan dan salju. Nada sajak-sajaknya rendah dan muram, diberati oléh pemikiran-pemikiran tentang manusia, nasib, kemerdékaan, mati dan lain-lain. Dalam menghadapi zaman yang penuh penindasan dan penderitaan, ia menganggap dirinya berada di médan perjuangan dan berdo’a: Esai-esainya banyak yang mencoba menyelami latar persoalan manusia Indonesia sekarang secara jujur dan tajam. Dengan bahasanya yang jernih dan dengan analisanya yang cemerlang, esai-ésainya akan merupakan kekayaan penting bagi khazanah sastera Indonesia. Yang menarik ialah uraian-uraiannya tentang sajak-sajaknya sendiri.

Motinggo Boesje (Kupang, Kota Lampung, 21 November 1937)
Motinggo Boesje hingga sekarang dikenal sebagai pengarang Indonesia yang paling produktif. Dalam tempo kurang dari sepuluh tahun berpuluh-puluh buku yang ditulis dan diterbitkannya. Kebanyakan berupa roman, ada yang agak péndék, tetapi banyak juga yang merupakan trilogi yang masing-masing mencapai 500 halaman lebih tebalnya. Ia pun banyak menulis cerpén dan drama. Drama-drama yang ditulisnya umumnya berbentuk novéla. Drama-drama yang dihasilkannya antara lain:
  1. MalamJahanammerupakan drama yang menarik perhatian orang kepadanya, yaitu ketika ia mendapat hadiah pertama dalam sayémbara penulisan drama yang diadakan tahun 1958. Drama itu sendiri sebenarnya bukan merupakan karya sastera Motinggo yang paling baik. Hadiah pertama yang diberikan kepadanya lebih banyak menimbulkan tanda tanya daripada kepuasan para peminat.
  2. BadaisampaiSore (1962),
  3. NyonyadanNyonya (1963),
  4. Malam Pengantin di Bukit Kera (1963),
  5. MataharidalamKelam (1963)
Selain menulis drama, Motinggo juga menulis roman yang merupakan simbolis perjuangan manusia dalam mempertahankan eksisténsinya dan cara berceritanya yang lancar dan mengikat, hidup pula, ia berhasil membawa para pembaca untuk mengikuti seluk-beluk kehidupan yang dilukiskannya, gaya bahasa yang sederhana dan seperti main-main tetapi sering secara tepat melukiskan suatu situasi, umumnya pula roman-roman itu meninggalkan kesan bahwa beberapa bagian atau beberapa tokoh tidak dilukiskan secara cermat, sehingga menimbulkan kesimpulan bahwa ía telah dikeijakan secara terburu-buru yang adang-kadang kelemahan-kelemahan itu sangat merusak komposisi keseluruhannya tetapi untunglah sering terbayan oléh kemahirannya bercerita, diantaranya:
  1. TidakMenyerah (1962) merupakan cerita menarik yangsecara simbolis melukiskan Palimo pemburu tua yang kesepian pantang menyerah kepada harimau tua yang mengganas di kampungnya.
  2. SejutaMatahari (1963) mengemukakan persoalan sosial: seorang wanita yang hidupnya sudah ternoda sebagai wanita tuna susila ingin kembali menjadi wanita baik-baik, menjadi ibu rumah tangga yang terhormat. 1949 (terbit 1962) merupakan roman révolusi.
  3. BuangTon jam (1963) merupakan cerita rakyat Lampung ditulis kembali dengan baik sekali oléh Motinggo.
  4. Dosa Kita Semua (1963),
  5. Tiada Belas Kasihan (sebuah roman péndek, 1963),
  6. Batu Serampok (juga sebuah legenda, 1963),
  7. Titisan Dosa di Atasnya (1964),
  8. AhimHa, Manusia sejati (1963),
  9. Perempuan itu Bernama Barabah (1963),
  10. Dia Musuh Keluarga (1968).
Selain roman, Motinggo juga menulis beberapa roman trilogi yang sangat megangumkan meskipun terkesan terburu-buru diantaranya:
  1. RetnoLestari (1968) misalnya, mempunyai beberapa bagian yang sesungguhnya masih dapat diperbaikinya. Bagian ketiga (MbakyuRetno) terasa seperti dongéngan di tengah-tengah lukisan-lukisan lain yang naturalistis.
  2. Bibi Marsitti (1967),
  3. Tante Maryati (1967),
  4. Sri Ayati (1968) dan lain-lain.

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar. Kritiklah sesuka Anda!

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA