Masalah dan solusi pengajaran bahasa Indonesia di Papua | Anak Pantai

Masalah dan solusi pengajaran bahasa Indonesia di Papua

Di Papua, pendidikan merupakan suatu hal yang perlu mendapat perhatian penuh dari semua pihak, bukan hanya pemerintah dan guru. Masalah menurunya kualitas pendidikan seolah melekat pada guru dan pemerintah sebagai penyebab tidak meningkatnya kinerja dan kesejahteraan seorang guru. Jika dilihat sekilas, hal tersebut dibenarkan karena di tangan merekalah sumber keberhasilan tujuan pendidikan itu sendiri. Namun demikian, hal tersebut juga tidak seratus persen dibenarkan, karena masih banyak pihak dan unsur-unsur lain yang menjadi penyebab sekaligus berperan aktif dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Berikut ini akan dijelskan faktor-faktor utama yang menyebabkan menurunya kualitas pendidikan terutama di di daerah pedalaman Papua.

Guru
Menurut hemat saya, yang memegang peranan terpenting dalam menentukan keberhasilan pengajaran adalah guru. Bagaimanapun baiknya sarana pendidikan yang lain, apabila guru tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik, maka pengajaran pastilah tidak akan memberikan hasil yang memuaskan. Banyak guru yang tidak ditempatkan sesuai dengan bidangnya terutama para guru yang yang berasal dari bidang lain namun mengajar mata pelajaran bahasa Indonesia karena mata pelajaran bahasa Indonesia dianggap mudah dan merupakan bahasa bangsa sendiri atau juga anggapan karena setiap hari sering menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi atau untuk interaksi antar sesama. Seorang guru yang baik ialah seorang yang memiliki pengetahuan yang cukup tentang bidang yang digelutinya, karena itu ia menguasai semua materi bahan pelajaran yang akan disuguhkannya kepada murid-muridnya.

Seorang guru yang baik haruslah kreatif dan berusaha agar murid-murid anak didiknya juga kreatif. Dia harus selalu mencari cara yang terbaik untuk menyajikan pelajarannya sehingga menarik murid, menimbulkan minat murid, dan membangkitkan kecintaan murid kepada mata pelajaran yang diasuhnya, bahasa Indonesia. Dia tidak puas dengan memberikan bahan pelajaran dari satu sumber saja, tetapi senantiasa mencari bahan-bahan baru yang up to date sehingga dapat memikat perhatian murid-muridnya. Dia selalu akan berusaha agar murid-muridnya tidak hanya pasif mendengarkan “ceramah”-nya, tetapi selalu bersikap kritis sehingga selalu akan mengajukan pertanyaan dengan tidak ragu-ragu dan takut terhadap apa yang diterimanya dari gurunya, tetapi kurang disetujuinya. Dia akan berusaha agar murid-muridnya tidak selalu hanya menerima saja dari gurunya, tetapi dapat “memberikan” sesuatu juga kepada gurunya atau kawan-kawannya dari hasil kreasinya (sajak, cerpen, karangan, dan lain-lain). Guru yang baik akan selalu berusaha agar kelasnya hidup. Kelas boleh saja agak ribut sedikit, tetapi terkendali karena guru dapat menguasai kelasnya itu dengan baik; kehangatan kelas yang timbul karena diskusi yang hidup sangatlah menggembirakan.

Buku
Harus diusahakan mengadakan buku-buku baku: tata bahasa, sastra, dan lain-lain untuk pegangan guru agar semua yang diajarkan di sekolah-sekolah sama. Bagi guru, yang penting dan perlu adalah yang sifatnya normatif. Guru harus selalu mengatakan kepada murid-muridnya, “ini yang betul, itu salah. ” Tidak dapat guru mengatakan bahwa yang berbeda-beda itu semuanya betul, boleh pilih mana saja.

Harus pula ditetapkan buku-buku mana yang boleh digunakan guru sebagai pelengkap, disebutkan judulnya, dan nama pengarangnya. Kalau kita mengharapkan murid-murid kita menjadi orang yang menguasai bahasa Indonesia dan terampil berbahasa Indonesia, kita tentu tidak dapat menyandarkannya hanya pada satu buku, yaitu buku paket untuk seluruh Indonesia.

Kekurangan jam tatap muka dengan murid dapat ditutup dengan bahan yang disusun guru sebagai pelajaran modul, di samping buku-buku pelengkap yang disinggung tadi. Murid dibiasakan untuk dapat belajar sendiri, tetapi guru harus menyediakan waktu untuk tanya jawab dengan murid-muridnya karena selalu ada hal-hal yang kurang jelas, yang memerlukan keterangan untuk memahaminya.

Menyusun buku seperti buku paket jangan selalu hanya dimonopoli oleh orang-orang di Jakarta, seakan-akan para ahli hanyalah orang yang ada di Jakarta. Tenaga-tenaga dari kota lain ada juga yang dapat membantu kalau diminta. Anggota penyusun buku haruslah orang yang ahli dalam bidangnya bukan hanya nama yang terpampang, tetapi mungkin sahamnya dalam penyusunan buku itu tidak ada.

Kurikulum
Kurikulum sebaiknya dibuat terperinci jelas, tidak terlalu sarat materinya, berurut baik materinya dan yang mudah hingga yang sukar, tidak tumpang tindih. Harus jelas untuk materi pokok yang sama, yang mana atau bagian mana yang diberikan di SD, yang mana di SMTP, dan yang mana pula di SMTA agar guru tidak selalu mengulang-ulang materi yang sama, yang sering membuat murid bosan dan tidak tertarik dengan pelajaran bahasa Indonesia.

Hasil penilaian terhadap materi kurikulum berbagai jenis/tingkat sekolah dalam lingkungan pendidikan dasar dan menengah menunjukan adanya kelemahan-kelemahan yang berkenaan dengan aspek keselarasan antara lingkup dan kedalaman bahan yang menyebabkan saratnya materi pelajaran, keselarasan veritikal yang menyangkut tata urutan pokok-pokok bahasan, dan kesesuaian materi dengan perkembangan-perkembangan baru yang terjadi.

Satu masalah pokok yang harus mendapatkan perhatian dalam penyusunan kurikulum ialah ketentuan materi yang tumpang tindih. Ada yang tercantum di kurikulum SMTP, tercantum seperti itu pula di kurikulum SMTA. Perinciannya tidak jelas: apa yang harus diajarkan di SMTP dan apa yang di SMTA sebagai lanjutannya. Kalau batasan itu tidak jelas, besar kemungkinannya bahan yang diberikan di SMTP diulang lagi di SMTA, sehingga pelajaran seolah-olah tidak ada habis-habisnya.

Tujuan Pengajaran dan Metode
Harus jelas apa tujuan atau sasaran yang ingin dicapai oleh pengajaran bahasa Indonesia ini. Akan menjadikan murid-murid kita orang yang banyak pengetahuannya tentang seluk-beluk bahasa Indonesia atau sastra Indonesia, ataukah ingin menjadikan mereka orang-orang yang terampil berbahasa Indonesia baik lisan maupun tulisan serta membangkitkan minat murid pada hasil karya sastra Indonesia?

Metode pengajaran tentulah harus sejalan dengan tujuan yang akan dicapai. Jika tujuan pertama yang ingin dicapai, metode ceramah mendapat tempat utama. Bila yang kedua yang ingin dicapai yaitu keterampilan berbahasa dan apresiasi sastra, tentulah diskusi, latihan, kegiatan sendirilah yang harus banyak diberikan.

Evaluasi
Bahwa pengajaran bahasa indonesia di sekolah-sekolah lebih cenderung kepada pengetahuan bahasa daripada keterampilan berbahasa, dapat kita lihat dari soal-soal tes atau soal-soal ulangan dan ujian. Corak pertanyaan guru lebih bersifat teoretis daripada praktis. Jawaban yang diminta guru dari soal-soal itu kebanyakan jawaban hafalan. Disinilah letak kegagalan itu.

Guru bahasa Indonesia harus selalu ingat akan tujuan pengajaran bahasa indonesia, baik tujuan umum maupun tujuan khusus. Tujuan umum yaitu membentuk manusia Indonesia seutuhnya, manusia indonesia yang pancasilais. Tujuan khusus yaitu membentuk manusia Indonesia yang cinta akan bahasa nasionalnya, serta terampil menggunakannya secara lisan maupun tulisan.


Sumber :
Badudu, J.S. 1993. Cakrawala Bahasa Indonesia. PT Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

=========
Oleh:
ariesrutung95

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar. Kritiklah sesuka Anda!

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA