Anak Pantai : Sejarah Sastra

Sejarah Satra periode 1953 sampai 1961 part 3

Para Pengarang

NugrohoNotosusanto (Rembang, 15 Juli 1930)
Nugroho Notosusanto terkenal sebagai penulis prosa, terutama pengarang cerpén. Tetapi sesungguhnya ia pertama-tama menulis sajak-sajak yang sebagian besar dimuat dalam majalah yang dipimpinnya, Kompas. Tidak merasa mendapat kepuasan dalam menulis sajak, ia lalu mengkhususkan diri sebagai pengarang prosa, terutama cerpén dan ésai. Nugroho telah menerbitkan tiga buah kumpulan cerpén, diantaranya:
  1. Hujan Kepagian (1958), memuat cerpén-cerpén tentang perjuangan kemerdékaan nasional yang dilakukan oléh para pemuda dan pelajar muda usia.
  2. Tiga Kota (1959) memuat cerpén-cerpen yang ditulis karena inspirasi dan tiga kota: Rembang, Yogyakarta dan Jakarta.
  3. Rasa Sayange (1963) yang antara lain memuat cerpénnya yang paling berhasil berjudul ‘Jembatan’.
Setelah menerbitkan ketiga buku itu, Nugroho lebih mencurahkan perhatiannya kepada penulisan ilmiah dan sejarah. Ia menjadi kepala Pusat Sejarah Angkatan Bersenjata dari sejak 1968 diangkat menjadi kolonél titulér, kemudian brigadir jenderal.

Di antara para pengarang semasanya, Nugroho dikenal sebagai penulis ésai. Ketika para pengarang lain hanya menulis cerpen dan sajak, Nugroholah yang banyak menulis ésai yang mencoba menyelami situasi zamannya, terutama tentang sastera dan kebudayaan. Ia merupakan salah seorang pengambil inisiatif untuk mengadakan simposium sastera Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jakarta tahun 1953 yang kemudian dijadikan tradisi tahunan sampai dengan tahun 1958. Ia sendiri pada simposium tahun 1957 menjadi pemrasaran yang mengemukakan prasaran tentang cerita péndék.

Ali Akbar Navis (Padangpanjang, 17 November 1924)
Ali Akbar Navis yang kalau menulis menyingkat namanya menjadi A.A. Navis itu baru muncul dalam gelanggang sastera Indonesia pada tahun 1955. Ia merupakan pengarang islam. Beberapa cerpen yang dihasilkannya aantara lain:
  1. Robohnya Surau Kami’ yaitu sindiran terhadap orang yang kelihatannya patuh melakukan syari’at agama tetapi sebenarnya rapuh di dalam, sehingga mudah saja terhasut untuk bunuh diri. Melalui cerpennya yang pertama ini ia menjadi terkenal. Cerpén ini kemudian diterbitkan bersama-sama dengan beberapa buah cerpén lain dengan judul Robohnya Surau Kami (1956). Ketika dicétak ulang beberapa tahun kemudian, buku ini mengalami perubahan isi. Ada cerpén-cerpén baru ditambahkan, tetapi ada juga cerpén lama yang dicabut.
  2. Hujan Panas (1964) dan
  3. Bianglala (1964). Pada umumnya cerpén-cerpén Navis padat dan mempunyai latar belakang sosial psikologis yang luas. Banyak pula yang merupakan sindiran akan tingkah laku dan keimanan tokoh-tokohnya. Navis juga mengkritik orang-orang yang mempraktékkan syariat agama (Islam) secara membuta dan taklid saja, karena menurut dia Islam harus dthayati secara rasional dan penuh perikemanusiaan.
Selain menulis cerpen Navis pun menulis roman  seperti Kemarau (1967) dalam roman ini masalah agama dan pelaksanaannya mendapat sorotan pengarang secara tajam. Tokoh utamanya seorang pemeluk Islam yang dalam menafsirkan takdir dan ayat-ayat kitab sucinya tidak begitu saja mengikuti orang banyak sehingga ia dicurigai oléh orang-orang sekelilingnya. Dengan jelas Navis melukiskan konflik sia-sia yang timbul hanya karena masih berkuasanya kesempitan pandangan dan kefanatikan dalam ber-Islam.

Trisnoyuwono (Yogyakarta 5 Desémber 1929)
Trisnoyuwono sudah mulai menulis cerpén-cerpén picisan pada tahun lima puluhan awal, dimuat dalam majalah-majalah hiburan seperti Terang Bulan. Tetapi baru pada pada tahun 1955 cerpénnya muncul dalam majalah sastera. Ia meninggalkan penulisan cerpén-cerpén picisannya dan mulai menulis secara lebih sungguh-sungguh. Kumpulan cerpénnya adalah sebagai berikut:
  1. Laki-Laki dan Mesiu (1957) mendapat hadiah sastera Nasional dan BMKN tahun 1957-1958. Kumpulan itu memuat kisah-kisah révolusi yang sebagian besar berdasarkan pengalaman-pengalamnnya sendiri. Cerpén-cerpén Trisnoyuwono menarik karena ia melukiskan manusia dalam situasinya lengkap dengan ketakutan, nafsu berahi, kelemahan dan kekuatan.
  2. Angin Laut(1958) tidak begitu meyakinkan.
  3. Di Médan Perang (1961) nilainya lebih baik. Terutama cerpen ‘Di Médan Perang’ yang dijadikan judul kumpulan ini sangat kuat dan mengesankan. Tak kelirulah kalau cerpén ini dianggap sebagai cerpén terbaik yang pernah ditulis oléh Trisnoyuwono. Buku kumpulan cerpénnya yang terakhir ialah Kisah-kisah Révolusi(1965).
Selain itu ia juga menulis roman seperti:
  1. Pagar Kawat Berduri (1962). Merupakan salah satu cerpen yang dimuat dalam “Laki-laki danMesiu” yang dikerjakannya kembali menjadi sebuah roman, judulnya sama dengan judul cerpén asalnya. Roman ini dibuat filem oléh Asrul Sani yang menjadi penulis skénario dan menjadi sutradara dan roman ini telah pula menyebabkan Trisnoyuwono mendapat Hadiah Sastera Yamin.
  2. Bulan Madu (1926),
  3. Petualang (1963) dan lain-lain.
Iwan Simatupang
Iwan Simatupang (lahir di Sibolga pada tanggal 18 Januari 1928) mula-mula menulis sajak, kemudian ésai. Sesudah itu ia menulis cerpén, drama dan roman. Sajak akhirnya kelihatan dia tinggalkan. Mémang pelarian Iwan terpenting di lapangan prosa. Esai-ésainya memberikan gaya dan kaki langit baru. Ia yang merasa tidak puas dengan segala alam pikiran yang sudah karatan, kemudian mencari ufuk-ufuk baru dengan logika dan kebébasan bahasa kata-kata. Cerpén-cerpén, drama-drama dan roman-romanyang ditulisnya, tidaklãh terikat oléh logika, plot dan perwatakan yang biasa, juga yang menonjol dari masing-masing karyanya adalah gayanya yang padat.

Drama-drama yang ditulisnya, banyak yang dibuat dalam majalah-majalah, antara lain:
  1. Bulan Bujur Sangkar
  2. Taman
  3. RT Nol/RW Nol Kebanyakan drama sebabak. ‘Taman’ kemudian diterbitkan sebagai buku kecil berjudul Petang di Taman (1966).
Dalam esai-ésainya terasa vitalitas Iwan yang dengan gigih mempertahankan individualitas dan kebébasan martabat manusia. Sebagai indvidu yang bébas, ia bébas melakukan percobaan-percobaan dalam mencari ufuk-ufuk baru sastera. Di antara cerpén-cerpénnya patut disebut ‘Lebih Hitam dari Hitam’ (Siasat Baru 1959) sebagai cerpén yang baik sekali menyelam ke gua dasar jiwa manusia, mencari kebenaran antara sadar dan tak sadar.

Iwan pun menulis roman, di antaranya:
  1. Ziarah melukiskan kehidupan nisbi mencari nilai-nilai yang nisbi pula, berada dalam daérah takdir yang tak bisa diatasi oléh filsafat. Roman ini unik dalam sastera Indonesia karena dalam mengemukakan persoalanpersoalan yang menjadi témanya, Iwan membuat plot menjadi lepas dan longgar.
  2. Kering dan
  3. Mérahnya Mérah (1968), roman ini pelaku-pelakunya bukanlah manusia-manusia yang berada dalam norma-norma biasa, tetapi merupakan penjelmaan dan gagasan pengarang tentang manusia.
Toha Mohtar
Pengarang yang sejak awal tahun lima puluhan produktif menulis cerpén-cerpén dalam majalah-majalah hiburan (anéhnya tak pernah dia menulis dalam majalah sastera atau kebudayaan) dengan nama samaran yang selalu berganti-ganti ialah Toha Mohtar. Roman yang ditulisnya antara lain:
  1. Pulang (1958) yang mengejutkan dunia sastera Indonesia karena mendapat hadiah sastera nasional BMKN tahun 1958. Roman ini sangat sederhana, tetapi justru karena kesederhanaannya, ia terasa jernih bening. Yamin yang menjadi tokoh utama roman ini bekas Héiho yang tidak segera menemukan kedamaian ketika ia pulang ke désanya. Ia selalu diburu-buru oléh perasaan berdosa, karena sepulangnya dan Birma ia tidak menggabungkan diri berjuang dengan para pemuda Indonesia lain untuk mempertahankan kemerdekaan Tanah Air, melainkan ikut membantu tentara sekutu lantaran tidak tahu. Meskipun tak ada orang yang menggugat hal itu kepadanya, namun nuraninya tak pernah dapat dia bohongi. Konflik psikologis ini dengan meyakinkan dilukiskan pengarangnya secara halus dan teliti. Roman ini sekarang telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing. Cerita ini lebih dahulu pernah dimuatkan sebagai cerita bersambung dalam sebuah majalah hiburan dan pernah dibuat filem oléh Turino Djunardi beberapa tahun sebelumnya dengan judul yang sama.
  2. DaérahtakBertuan (1963), sebuah kisah révolusi yang digali dan pengalaman perjuangan di Surabaya ketika para pemuda mempertahankannya dari serbuan tentara sekutu. Ada pengkhianatan dan ketamakan yang berakhir dengan sia-sia, meskipun cukup menarik, roman ini tidaklah menandingi Pulang yang ditulisnya lebih dahulu.
Subagio SastrowardojoMeskipun Subagio Sastrowardojo belakangan ini lebih terkenal sebagai penyair dan bukunya yang pertama pun merupakan kumpulan sajak, yaitu Simphoni (1957), sesungguhnya ia juga penting dengan prosa-prosanya baik yang berupa cerpén maupun yang berupa ésai. Cerpén-cerpénnya dibukukan antara lain:
  1. Kejantanan di Sumbing (1965). Bahasanya sangat jernih dan bersih. Lukisan-lukisan kejiwaan cerita-ceritanya sangat mengesan. Ia mempunyai keistiméwaan dalam meneliti gerak-gerik batin pelaku-pelaku ceritanya.
  2. Perawan Tua sangat menyaran, melukiskan keadaan jiwa seorang gadis yang karena mau setia kepada kekasihnya yang gugur dalam pertempuran melawan Belanda lalu menghadapi hidupnya yang sepi. “PerawanTua’ merupakan salah sebuah prosa terindah yang perah ditulis dalam bahasa Indonesia.
Dalam cerpén-cerpén dan sajak-sajaknya banyak dilukiskan manusia yang gampang dirangsang nafsunya. Manusia-manusia Subagio ialah manusia-manusia yang dalam mencoba mempertahankan kewajiban tergoda oléh sifat-sifat kedagingannya. Selain yang dimuat dalam Simphoni, masih banyak lagi sajak Subagio yang belum diterbitkan sebagai buku, antara lain yang termuat dalam naskahnya Daérah Perbatasan dan salju. Nada sajak-sajaknya rendah dan muram, diberati oléh pemikiran-pemikiran tentang manusia, nasib, kemerdékaan, mati dan lain-lain. Dalam menghadapi zaman yang penuh penindasan dan penderitaan, ia menganggap dirinya berada di médan perjuangan dan berdo’a: Esai-esainya banyak yang mencoba menyelami latar persoalan manusia Indonesia sekarang secara jujur dan tajam. Dengan bahasanya yang jernih dan dengan analisanya yang cemerlang, esai-ésainya akan merupakan kekayaan penting bagi khazanah sastera Indonesia. Yang menarik ialah uraian-uraiannya tentang sajak-sajaknya sendiri.

Motinggo Boesje (Kupang, Kota Lampung, 21 November 1937)
Motinggo Boesje hingga sekarang dikenal sebagai pengarang Indonesia yang paling produktif. Dalam tempo kurang dari sepuluh tahun berpuluh-puluh buku yang ditulis dan diterbitkannya. Kebanyakan berupa roman, ada yang agak péndék, tetapi banyak juga yang merupakan trilogi yang masing-masing mencapai 500 halaman lebih tebalnya. Ia pun banyak menulis cerpén dan drama. Drama-drama yang ditulisnya umumnya berbentuk novéla. Drama-drama yang dihasilkannya antara lain:
  1. MalamJahanammerupakan drama yang menarik perhatian orang kepadanya, yaitu ketika ia mendapat hadiah pertama dalam sayémbara penulisan drama yang diadakan tahun 1958. Drama itu sendiri sebenarnya bukan merupakan karya sastera Motinggo yang paling baik. Hadiah pertama yang diberikan kepadanya lebih banyak menimbulkan tanda tanya daripada kepuasan para peminat.
  2. BadaisampaiSore (1962),
  3. NyonyadanNyonya (1963),
  4. Malam Pengantin di Bukit Kera (1963),
  5. MataharidalamKelam (1963)
Selain menulis drama, Motinggo juga menulis roman yang merupakan simbolis perjuangan manusia dalam mempertahankan eksisténsinya dan cara berceritanya yang lancar dan mengikat, hidup pula, ia berhasil membawa para pembaca untuk mengikuti seluk-beluk kehidupan yang dilukiskannya, gaya bahasa yang sederhana dan seperti main-main tetapi sering secara tepat melukiskan suatu situasi, umumnya pula roman-roman itu meninggalkan kesan bahwa beberapa bagian atau beberapa tokoh tidak dilukiskan secara cermat, sehingga menimbulkan kesimpulan bahwa ía telah dikeijakan secara terburu-buru yang adang-kadang kelemahan-kelemahan itu sangat merusak komposisi keseluruhannya tetapi untunglah sering terbayan oléh kemahirannya bercerita, diantaranya:
  1. TidakMenyerah (1962) merupakan cerita menarik yangsecara simbolis melukiskan Palimo pemburu tua yang kesepian pantang menyerah kepada harimau tua yang mengganas di kampungnya.
  2. SejutaMatahari (1963) mengemukakan persoalan sosial: seorang wanita yang hidupnya sudah ternoda sebagai wanita tuna susila ingin kembali menjadi wanita baik-baik, menjadi ibu rumah tangga yang terhormat. 1949 (terbit 1962) merupakan roman révolusi.
  3. BuangTon jam (1963) merupakan cerita rakyat Lampung ditulis kembali dengan baik sekali oléh Motinggo.
  4. Dosa Kita Semua (1963),
  5. Tiada Belas Kasihan (sebuah roman péndek, 1963),
  6. Batu Serampok (juga sebuah legenda, 1963),
  7. Titisan Dosa di Atasnya (1964),
  8. AhimHa, Manusia sejati (1963),
  9. Perempuan itu Bernama Barabah (1963),
  10. Dia Musuh Keluarga (1968).
Selain roman, Motinggo juga menulis beberapa roman trilogi yang sangat megangumkan meskipun terkesan terburu-buru diantaranya:
  1. RetnoLestari (1968) misalnya, mempunyai beberapa bagian yang sesungguhnya masih dapat diperbaikinya. Bagian ketiga (MbakyuRetno) terasa seperti dongéngan di tengah-tengah lukisan-lukisan lain yang naturalistis.
  2. Bibi Marsitti (1967),
  3. Tante Maryati (1967),
  4. Sri Ayati (1968) dan lain-lain.

Sejarah sastra periode 1953 sampai 1961 part 2

Sastera Majalah
Salah satu alasan utama yang dikemukakan oléh meréka yang menuduh ada krisis sastera Indonesia ialah karena kurangnya jumlah buku yang terbit. Roman-roman karangan Pramoedya Ananta Toer yang dalam tahun-tahun 1950-1951-1952-1953 selalu muncul dengan judul-judul baru, tebal-tebal pula, diélakkan oléh para penuduh itu dengan alasan bahwa roman-roman itu ditulis Pram dalam penjara, jadi sebelum tahun 1950.

Sejak tahun 1953, Balai Pustaka yang sejak zaman sebelum perang merupakan penerbit utama buat buku-buku sastera, kedudukannya tidak menentu. Penerbit ini yang bernaung di bawah kementrian PP&K berkali-kali mengalami perubahan status. Perubahan-perubahan status yang dilakukan antara sebentar, ditambah oléh penempatan pimpinan di tangan orang yang bukan ahli, pula kian tak mencukupi anggaran yang tersedia, menyebabkan kemacetan produksinya. Demikian pula penerbit Pustaka Rakyat yang tadinya di samping Balai Pustaka merupakan penerbit nasional yang banyak menerbitkan buku-buku sastera, agaknya terlibatdalam berbagai kesukaran. Begitu juga dengan penerbit-penerbit lain seperti Pembangunan, Tintamas dan lain-lain.

Maka aktivitas sastera terutama hanya dalam majalah-majalah seperti Gelanggang/Siasat, Mimbar Indonesia, Zenith, Pudjangga Baru dan lain-lain. Karena sifat majalah maka karangan-karangan yang mendapat tempat terutama yang berupa sajak, cerpén, dan karangan-karangan lain yang tidak begitu panjang. Sesuai dengan yang dibutuhkan oléh majalah-majalah, maka tak anéhlah kalau para pengarang pun lantas hanya mengarang cerpén, sajak dan karangan-karangan lain yang péndék-péndék.

Keadaan seperti inilah yang menyebabkan lahirnya istilah “sastera majalah”. Istilah ini pertama kali dilansir oléh Nugroho Notosusanto dalam tulisannya ‘Situasi 1954’ yang tadi sudah disebut, dimuat dalam majalah Kompas yang dipimpinnya.

Pada masa sekitar persoalan “krisis kesusasteraan Indonesia’ diramaikan orang, ada pula persoalan lain yang menjadi pokok perhatian para peminat sastera, yaitu persoalan lahirnya angkatan sesudah ‘45, atau angkatan sesudah Angkatan Chairil Anwar. Dalam simposium sastera yang diselenggarakan oléh Fakultas Sastra Universitas Indonesia tahun 1955, Harijadi S. Hartowardojo memberikan prasaran yang berjudul ‘Puisi Indonesia Sesudah Chairil Anwar’. Juga dalam simposium-simposium di Yogjakarta, Solo dan kota-kota lain ada kecenderungan pikiran untuk menganggap telah lahir suatu angkatan para pengarang baru yang terasa tidak tepat lagi digolongkan kepada angkatan Chairil Anwar yang populér dengan nama Angkatan ‘45 itu.

Dalam simposium sastera yang diselenggarakan di Jakarta pada tahun 1960, Ajip Rosidi memberikan Prasaran tentang ‘Sumbangan Angkatan Terbaru Sasterawan Indonesia kepada Perkembangan Kesusasteraan Indonesia’. Dalam prasaran itu dicoba untuk dicari ciri-ciri yang membédakan Angkatan Terbaru dengan Angkatan‘45.

Lebih lanjut dalam prasaran itu dikemukakan bahwa sikap budaya para sasterawan yang tergolong kepada ‘Angkatan Terbaru’ merupakan sintésis dari dua sikap ekstrim mengenai konsép kebudayaanIndonesia. Yang pertama ialah sikap yang berpendapat bahwa kebudayaan nasional Indonesia itu merupakan persatuan dan puncak-puncak kebudayaan daérah. Yang kedua ialah sikap yang berpendapat bahwa kebudayaan Indonesia ialah mendunia dan mempersétankan kebudayaan daérah. Maka sikap sintésisnya ialah kebudayaan nasional Indonesia akan berkembang berdasarkan kenyataan-kenyataan dalam masyarakat Indonesia masa kini, yaitu adanya kebudayaan daérah dan adanya pengaruh dari luar.

Dalam seminar kesusasteraan yang diselenggarakan oléh Fakultas Sastera Universitas Indonesia tahun 1963, Nugroho Notosusanto dalam ceramahnya yang berjudul ‘Soal Périodisasi dalam Sastera Indonesia’, mengemukakan bahwa mémang ada période baru sesudah tahun ‘50 yang tidak lagi bisa dimasukkan ke dalam période sebelumnya. Nugroho menekankan pada kenyataan bahwa para pengarang yang aktif mulai menulis pada période 1950 ialah meréka yang telah mempunyai “Sebuah Tradisi Indonesia sebagai titik tolak”. Sifat imitatif dan Belanda atau Eropa berkurang. Pandangan ke luar negeri tidak hanya ke Eropa, melainkan ke seluruh dunia. Ditambah pula oléh penghargaan yang wajar kepada sasterawan-sasterawan Indonesia sendiri.

Dibandingkan dengan para pengarang Angkatan ‘45, para pengarang yang lebih muda-muda itu menghadapi kenyataan-kenyataan yang tidak menguntungkan kehadirannya. Meskipun meréka mendapat tempat di halaman-halaman majalah yang ada ketika itu tetapi kebanyakan majalah itu, bahkan semua majalah itu, redaksinya dipegang oléh para pengarang yang tergolong kepada Angkatan ‘45. Hal ini menyebabkan para pengarang muda ini tidak mendapat kesempatan yang luas untuk mencari identifikasi diri dari kawan-kawannya. Dan agaknya berbéda dengan para pengarang Pujangga Baru dan Angkatan ‘45, para pengarang période ‘50 ini lebih menitikberatkan pada penciptaan. Hal ini berhubungan juga tentu dengan kurangnya pengetahuan meréka pada saat itu. Baru kemudian setelah berkesempatan menambah pengetahuan pula, meréka merumuskan cita-cita dan kehadirannya.

Dalam hal ini peranan majalah Kisah (1953-1956) tidak bisa dibilang kecil, karena banyak pengarang yang muncul dalam période itu mengumumkan tulisan-tulisannya yang mula-mula dalam majalah ini. Juga banyak pengarang yang sudah menulis sebelum tahun 1953, mendapat kesempatan berkembang sebaik-baiknya dalam majalah Kisah. Patut disebutkan bahwa majalah ini, meskipun punya keterangan “bulanan cerita péndék” dan pada mulanya hanya memuatkan cerpén saja, namun kemudian berturut-turut memuatkan kritik, ésai bahkan akhirnya sajak. Karena itu nama-nama yang muncul di sini tidaklah terbatas kepada para pengarang cerpén atau prosa saja, melainkan juga kepada para penyair.

Di samping itu patut juga disebut majalah mahasiswa Kompas yang setelah dipimpin oléh Nugroho Notosusanto sangat banyak memberikan perhatian kepada persoalan-persoalan dan karya-karya sastera, majalah Prosa pimpinan Ajip Rosidi yang hanya terbit beberapa nomor, ruangan kebudayaan “Genta” dalam majalah Merdeka yang diasuh oléh S.M. Ardan dan kawan-kawan, majalah Seni (terbit hanya setahun genap), majalah Konfrontasi, majalah Tjerita dan majalah Budaya (terbit di Yogjakarta) dan beberapa majalah lain, di samping majalah-majalah yang sudah lama ada seperti Mimbar Indonesia, Gelanggang/Siasat dan Indonesia.

Sejarah sastra periode 1953 sampai 1961 part 1

Setelah Chafril Anwar meninggal dunia, lingkungan kebudayaan Gelanggang Seniman Merdeka seakan-akan kehilangan vitalitas. Asrul Sam yang beberapa lamanya asyik menulis esai, sudah jarang sekali menulis sajak atau hasil sastera lainnya. Demikian pula Rivai Apin. Padahal kedua orang itu tadinya dianggap sebagai tumpuan harap yang akan melanjutkan kepeloporan Chairil.

Sementara itu dalam kehidupan nasional pun kabut yang suram mulai tampak: mengisi kemerdekaan ternyata tidak semudah yang diangankan ketika masih dijajah dan ketika masih memperjuangkannya. Pemimpin-pemimpin banyak yang bosan berjuang lalu melakukan penyeléwéngan-penyeléwéngan. Bibit-bibit korupsi dan manipulasi mulai merasuk merusak masyarakat dan negara. Pertikaian antara golongan-golongan politik kian nyata membuktikan bahwa bagi meréka yang penting bukanlah kehidupan bangsa dan negara. Apa pula rakyat. Melainkan golongannya sendiri, partainya sendiri; bahkan dirinya sendiri saja.

Pada bulan April 1952 di Jakarta diselenggarakan simposium tentang “Kesulitan-kesulitan zaman peralihan sekarang”. Dalam simposium yang diselenggarakan oléh golongan-golongan kebudayaan Gelanggang, Lékra, Liga Komponis, PEN-Club Indonesia dan Pudjangga Baru itu dibahas kesulitan-kesulitan zaman peralihan, ditinjau dari sudut sosiologi, psikologi dan ékonomi. Di antara para pembicara ialah St. Sjahrir, Moh. Said, Mr. Sjafrudin Prawiranegara, Prof. Dr. Slamet Iman Santoso, Dr. J. Ismaél, Sutan Takdir Alisjahbana, Boejoeng Saléh dan lain-lain. Dalam simposium itu dilontarkan istilah “krisis akhlak”, “krisis ekonomi” dan berbagai krisis lainnya.

Tahun berikutnya, tahun 1953, di Amsterdam diselenggarakan simposium tentang kesusasteraan Indonesia. Antara lain berbicara dalam simposium itu Asrul Sani, Sutan Takdir Alisjahbana, Prof. Dr. Wertheim dan lain-lain. Di sinilah untuk pertama kali dibicarakan tentang impase (kemacetan) dan “krisis sastera Indonesia sebagai akibat dari gagalnya révolusi Indonesia”. Tetapi persoalan tentang krisis baru menjadi bahan pembicaraan yang ramai betul ketika terbit majalah Konfrontasi pada pertengahan tahun 1954. Dalam nomor pertama majalah itu dimuat ésai Soedjatmoko (lahir di Sawahlunto tanggal 10 Januari 1922) berjudul ‘Mengapa Konfrontasi’. Dalam karangan itu secara tandas dikatakan bahwa sastera Indonesia mengalami krisis.

Dalam Esainya itu Soedjatmoko melihat adanya krisis sastera sebagai akibat dari krisis kepemimpinan politik. Ia lebih lanjut mengatakan bahwa sastera Indonesia sedang mengalami krisis karena yang ditulis hanya cerpén-cerpén kecil yang “Berlingkar sekitar psikologisme perseorangan semata-mata”. Roman-roman besar tak ada ditulis.

Karangan Soedjatmoko ini mendapat réaksi hébat. Terutama dari kalangan sasterawan sendiri.

Nugroho Notosusanto, S.M. Ardan, Boejoeng Saléh dan lain-lain secara tandas disertai dengan bukti-bukti yang sukar untuk dibantah, menolak penamaan “krisis sastera”. Menurut meréka, sastera Indonesia sedang hidup dengan subur. H.B. Jassin dalam simposium sastera Universitas Indonesia di Jakarta pada bulan Désémber 1954, mengemukakan prasaran yang dengan tandas diberinya judul: ‘Kesusasteraan Indonesia Modéren Tidak Ada Krisis’. Dengan bukti-bukti dan dokuméntasi yang lengkap, Jassin pun menolak sebutan adanya krisis maupun impase dalam kehidupan sastera Indonesia.

Dalam tulisan berjudul ‘Situasi 1954’ yang ditujukan kepada sahabatnya Ramadhan K.H. yang ketika itu baru pulang dari Spanyol, Nugroho Notosusanto mencoba mencari latar belakang timbulnya penamaan “impase sastera Indonesia” yang bagi dia tidak lebih hanya sebuah “mite” (dongeng) belaka. Menurut Nugroho asal-usul timbulnya “mite” itu ialah pésimisme yang berjangkit di kalangan orang-orang tertentu pada masa sesudah pengakuan kedaulatan. Pésimisme itu berjangkit di kalangan meréka yang pada zaman federal hidup lebih énak dari meréka yang pada masa révolusi punya impian-impian yang muluk indah tentang zaman sesudah perang kemerdékaan. Nugroho pun melihat kemungkinan bahwa golongan “old crack” Angkatan ‘45 yang pada sekitar tahun 1945 mengalami zaman keemasan, pada masa sesudah tahun 1950 mengalami kemunduran lalu meréka berpegang pada zaman keemasan yang sudah lampau sambil menjelék-jelékkan zaman sekarang dengan banyak tokoh-tokoh baru.

Sitor Situmorang dalam tulisannya yang berjudul ‘Krisis H.B. Jassin’ dalam majalah Mimbar Indonesia (1955) mengemukakan pendapatnya bahwa yang ada bukanlah krisis sastera, melainkan krisis ukuran menilai sastera. Dan karena ketika itu sebagai kritikus yang terkemuka bahkan satu-satunya pula ialah HB. Jassin, maka Sitor berkesimpulan bahwa krisis yang teiadi ialah krisis dalam diri Jassin sendirii karena ukurannya tidak matang.

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA