Anak Pantai : Public Speaking

Konsep Dasar Rapat - Public Speaking

Istilah rapat sangat dikenal di kalangan masyarakat luas, dan masyarakat yang ada di perkotaan hingga masyarakat yang tinggal jauh di pedesaan. Rapat terkadang disebut juga musyawarah. Rapat dimaksudkan untuk membicarakan sesuatu, untuk menyampaikan sesuatu dari pihak tertentu ke pihak lain, untuk memutuskan sesuatu, atau untuk memberikan arah bagi suatu kegiatan atau pekerjaan. Rapat dilaksanakan bisa dalam bentuk yang amat sederhana, peserta rapatnya juga sangat terbatas, dan bahan yang dibicarakan juga sedikit. Rapat bisa juga dalam bentuk atau lingkup yang cukup luas. Rapat yang cakupannya luas, maka perencanaannya harus betul-betul matang, mungkin juga disertai dengan panduan tertentu yang harus ditaati oleh peserta rapat, serta membutuhkan biaya yang cukup besar. Rapat juga ada yang disebut rapat rutin, rapat dadakan (tanpa rencana, secara tiba-tiba), atau mungkin rapat luar biasa. Rapat rutin, bisa waktunya setiap bulan, persetengah bulan, pertiga bulan, atau rapat pertahun (misalnya rapat operasi yang berupa RAT atau Rapat Anggota Tahunan) yang aekaligus bisa dimanfaatkan sebagai sarana rapat pertanggungjawaban atas pelaksanaan tugas-tugas suatu organisasi atau lembaga. Rapat bisa bertujuan untuk mengefektifkan suatu pekerjaan (termasuk pembahasan dan pembuatan rencana kerja) atau dalam bentuk rapat kerja (raker), juga ada rapat konsultasi, rapat koordinasi, rapat monitoring, dan lain-lainnya.

Ada lagi istilah rapat akbar atau kadang disebut rapat raksasa. Rapat akbar ini biasa digunakan untuk rapat besar yang pesertanya sangat luas, misalnya dalam rangka kampanye pernilu. Karena itu, kampanye sering juga disebut rapat akbar. Walaupun, rapat akbar tidak selalu dikaitkan dan diidentikkan dengan kampanye pemilu.

Apapun namanya, dalam rapat lebih didominasi oleh kegiatan berbicara, saling berbicara satu sama lain, saling mengemukakan pemikiran atau pendapat, dan biasanya ada semacam keputusan atau kesimpulan yang diambil setelah rapat usai. Memang, tidak mutlak bahwa setiap rapat harus ada keputusan, bisa saja keputusan belum diperoleh, justru keputusannya adalah dengan langkah kegiatan untuk melakukan rapat berikutnya atau rapat lanjutan.

Suasana rapat juga berbeda-beda, sesuai dengan sifat, tujuan, dan mereka yang menjadi peserta rapat (termasuk bagaimana pimpinan rapat menjalankan tugasnya sebagai pengendali situasi atau pengarah jalannya rapat). Ada rapat yang suasananya santai, cenderung berjalan biasa-biasa saja, tanpa ‘gejolak’ sedikitpun. Sebaliknya, ada rapat yang suasananya ‘amat panas’, cenderung tak terkendali, dan sesekali ada rapat yang berakhir dengan rusuh atau bubar tanpa membuahkan hasil yang diharapkan. Sebenarnya, rapat apapun harus dijalankan dengan baik, harus ada persiapan dalam segala hal, jangan ‘asal rapat’. Sebab, sebuah rapat merupakan pertemuan pemikiran, karenanya setiap peserta rapat harus dapat menerima atau mendengarkan dengan baik pemikiran orang lain, tidak boleh memaksakan pemikiran atau kemauan sendiri atau katakanlah ‘menonjolkan kelompoknya’. Rapat hendaknya berjalan demokratis, penuh toleransi antar sesama peserta rapat. Yang diutamakan adalah akal sehat atau pemikiran yang jernih, bukan perasaan dan ‘hawa nafsu’ yang hanya mementingkan diri sendiri. Seseorang yang mengikuti rapat bukan untuk ‘mengadili’ orang lain atau ‘menghantam’ saudara sendiri.

Kiranya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan atau dipersiapkan untuk melaksanakan suatu rapat. Hal-hal tersebut dapat dibutiri seperti di bawah ini.

Pimpinan Rapat
Pimpinan rapat bisa dipegang oleh satu orang dan bisa pula oleh beberapa orang. Biasanya, pimpinan rapat ada yang langsung berperan sebagai pengendali atau pengatur jalannya rapat, dari awal hingga akhir. Kemudian, di samping pimpinan rapat tersebut, ada lagi sekretaris atau penulis rapat. Sekretaris bertugas mendampingi pimpinan rapat (atau bisa disebut ketua rapat) dan mencatat segala apa yang terjadi, termasuk berbagai masukan dari peserta rapat serta mencatat secara rapi dan sistematis hasil rapat. Pimpinan rapat hendaknya orang yang memiliki kemampuan yang memadai tentang berbagai hal. Di antara kriteria atau persyaratan seseorang untuk menjadi pimpinan rapat adalah sebagal berikut.
  1. Mampu mengendalikan diri, tidak emosional, atau memiliki sikap sabar;
  2. Menerima dengan lapang segala perbedaan pendapat yang berkembang saat rapat,
  3. Memahami dengan baik bahan atau mateni rapat
  4. Mampu mengendalikan jalannya rapat, termasuk dapat memberikan kesempatan berbicara kepada peserta rapat secara adil atau merata, tidak mendominasi dalam mengemukakan pendapat;
  5. Mampu meluruskan penyimpangan yang terjadi saat rapat, dapat memberikan peringatan, termasuk menghentikan peserta yang tampak berbicara tanpa arah dengan cara bijaksana atau penuh kearifan;
  6. Memiliki daya pikir dan daya tangkap memadai, sehingga ia dapat menyerap apa-apa yang dikemukakan oleh peserta rapat, dan;
  7. Mampu merangkum berbagai hal yang berkembang saat rapat.

Peserta Rapat
Secara umum, peserta rapat harus dapat menempatkan dirinya sebaik mungkin. Peserta rapat harus menyadari bahwa ia berkewajiban untuk ikut mensukseskan rapat. Karena itu, peserta rapat hendaknya dapat memenuhi kriteria yang antara lain sebagai berikut.
  1. Memahami bahan atau materi rapat (jika bahan rapat telah diperoleh sebelum rapat, maka hendaknya peserta dapat mempelajarinya dengan baik sebagai bekal untuk mengikuti rapat);
  2. Menghadiri rapat tepat waktu, jangan menduga bahwa setiap rapat pasti terlambat, hindarkan budaya ‘jam karet’;
  3. Memberikan andil secara langsung saat rapat dengan mengemukakan pendapat atau tanggapan yang memang sangat diperlukan;
  4. Mampu bersikap sabar, tidak emosional, tidak mendominasi pembicaraan, siap menerima perbedaan pendapat, dapat mendengarkan pembicaraan orang lain dengan seksama;
  5. Mengikuti rapat secara penuh, kecuali ada halangan yang mendadak atau ada sesuatu yang tak dapat dihindarkan (hendaknya meminta izin kepada pimpinan rapat);
  6. Mengikuti perkembangan rapat dan memahami dengan tuntas setiap keputusan atau hasil rapat, dan
  7. Menerima hasil rapat dengan ikhlas, karenanya jangan ‘menggerutu’ di luar rapat, jangan mementahkan hasil rapat, jangan melakukan tindakan anarkis dalam bentuk apapun.
Pengaturan Tempat Rapat
Tempat rapat juga turut menentukan kesuksesan rapat. Karena itu, usahakan tempat rapat dapat memberikan kenyamanan kepada peserta rapat. Tempat yang baik untuk rapat antara lain hendaklah memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut.
  1. Ruangannya tidak begitu sempit, juga tidak terlalu luas;
  2. mempunyai penerangan yang cukup;
  3. Keadaan udara tidak pengap, tidak panas, jauh dari kebisingan;
  4. Ruangannya cukup bersih;
  5. Ketersediaan pengeras suara atau pelantang (jika diperlukan) yang siap pakai atau dalam keadaan baik;
  6. Ketersediaan kursi (dan meja) yang memadai; dan
  7. Posisi duduk peserta yang lapang, terlihat tidak kaku, antar peserta dapat saling memandang agar interaksi antar peserta (juga dengan pimpinan rapat) berjalan lancar, tidak terhambat.


Itu tadi sekilas tentang konsep mengenai rapat, selamat membaca, semoga bermanfaat...
Salam....

Konsep dasar tentang Seminar - Public Speaking

Istilah seminar sangat populer di masyarakat, terutama Juga sebagaimana istilah diskusi, seminar sangat akrab di kalangan perguruan tinggi. Memang, agak sulit membedakan mana seminar dan mana pula diskusi. Kedua kegiatan ini juga membahas suatu masalah secara mendalam. Seminar bisa diartikan sebagai bentuk pertemuan atau persidangan untuk membahas suatu masalah di bawah pimpinan ahli atau guru besar atau para pakar (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1991:907). Jika berpegang pada pengertian seminar yang tercantum di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tersebut, maka salah satu ciri khas seminar adalah bahwa adanya peran atau keterlibatan langsung para ahli, guru besar, atau pakar bidang tertentu, berkaitan dengan masalah yang dibahas dalam seminar itu sendiri. Yang jelas, bahwa seminar merupakan forum atau pertemuan untuk membahas sesuatu secara mendalam, tuntas, dan dapat dijadikan sebagai acuan atau bahan pertimbangan atas keberadaan suatu masalah atau bisa dijadikan acuan dalam melakukan atau menyikapi sesuatu. Wajar jika seminar melibatkan para ahli agar segala yang muncul dan berkembang saat seminar dapat dipertanggungjawabkan dari segi kekuatan pemikirannya.

Seminar sebagai sebuah pertemuan ilmiah berarti juga hanyak melibatkan pengungkapan gagasan dan pemikiran yang dituangkan secara lisan dan juga tentu berdasarkan gagasan dari pemikiran yang telah ditulis oleh para penyaji makalah. Seminar tentu disertai dengan penyaji atau pembicara. Penyaji atau pembicara dalam seminar biasanya menyertakan gagasan, pemikiran, atau mungkin hasil penelitiannya yang ditulis dalam bentuk makalah.

Persiapan seminar tidak jauh berbeda dengan bagaimana menyiapkan sebuah diskusi. Dalam seminar juga terdapat penyaji makalah, moderator atau pemandu, sekretaris atau notulis, dan peserta. Segala hal yang berkaitan dengan diskusi kiranya dapat saja diterapkan dalam pelaksanaan seminar. Diskusi tidak jauh berbeda, agak sulit memberikan batas perbedaan di antara satu dengan yang lainnya. Seminar tampaknya lebih formal dan diskusi, mungkin bisa dianggap lebih besar. Amat jarang sebuah seminar yang pesertanya hanya sepuluh orang. Sebaliknya, dalam sebuah diskusi mungkin pesertanya bisa kurang dan sepuluh orang. Namun, diskusi tidak jarang juga dihadiri ratusan orang. Forum seminar terkadang juga disebut atau dinyatakan sebagai diskusi. Berapa jumlah yang ideal untuk peserta kedua forum ini memang sulit ditentukan, tidak ada jumlah minimal mutlak yang menjadi syarat layaknya sebuah diskusi atau seminar.

Istilah seminar juga sangat populer di masyarakat, terutama Juga sebagaimana istilah diskusi, seminar sangat akrab di kalangan perguruan tinggi. Memang, agak sulit membedakan mana seminar dan mana pula diskusi. Kedua kegiatan ini juga membahas suatu masalah secara mendalam. Seminar bisa diartikan sebagai bentuk pertemuan atau persidangan untuk membahas suatu masalah di bawah pimpinan ahli atau guru besar atau para pakar (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1991:907). Jika berpegang pada pengertian seminar yang tercantum di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tersebut, maka salah satu ciri khas seminar adalah bahwa adanya peran atau keterlibatan langsung para ahli, guru besar, atau pakar bidang tertentu, berkaitan dengan masalah yang dibahas dalam seminar itu sendiri. Yang jelas, bahwa seminar merupakan forum atau pertemuan untuk membahas sesuatu secara mendalam, tuntas, dan dapat dijadikan sebagai acuan atau bahan pertimbangan atas keberadaan suatu masalah atau bisa dijadikan acuan dalam melakukan atau menyikapi sesuatu. Wajar jika seminar melibatkan para ahli agar segala yang muncul dan berkembang saat seminar dapat dipertanggungjawabkan dari segi kekuatan pemikirannya.

Seminar sebagai sebuah pertemuan ilmiah berarti juga hanyak melibatkan pengungkapan gagasan dan pemikiran yang dituangkan secara lisan dan juga tentu berdasarkan gagasan dari pemikiran yang telah ditulis oleh para penyaji makalah. Seminar tentu disertai dengan penyaji atau pembicara. Penyaji atau pembicara dalam seminar biasanya menyertakan gagasan, pemikiran, atau mungkin hasil penelitiannya yang ditulis dalam bentuk makalah.

Persiapan seminar tidak jauh berbeda dengan bagaimana menyiapkan sebuah diskusi. Dalam seminar juga terdapat penyaji makalah, moderator atau pemandu, sekretaris atau notulis, dan peserta.

Segala hal yang berkaitan dengan diskusi kiranya dapat saja diterapkan dalam pelaksanaan seminar. Diskusi tidak jauh berbeda, agak sulit memberikan batas perbedaan di antara satu dengan yang lainnya. Seminar tampaknya lebih formal dan diskusi, mungkin bisa dianggap lebih besar. Amat jarang sebuah seminar yang pesertanya hanya sepuluh orang. Sebaliknya, dalam sebuah diskusi mungkin pesertanya bisa kurang dan sepuluh orang. Namun, diskusi tidak jarang juga dihadiri ratusan orang. Forum seminar terkadang juga disebut atau dinyatakan sebagai diskusi. Berapa jumlah yang ideal untuk peserta kedua forum ini memang sulit ditentukan, tidak ada jumlah minimal mutlak yang menjadi syarat layaknya sebuah diskusi atau seminar.
Sekian....

Konsep tentang sarasehan - Public Speaking

Sarasehan diartikan sebagai pertemuan yang diselenggarakan untuk mendengarkan pendapat para ahli mengenai suatu masalah dalam bidang tertentu atau disebut juga dengan istilah simposium (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1991:880). Istilah saresehan baru dikenal beberapa tahun terakhir. Karena itu istilah sarasehan tampak belum memasyarakat atau tidak begitu meluas seperti istilah diskusi dan seminar. Jika dicermati pengertian sarasehan yang ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia tersebut, maka sarasehan bisa saja disamakan dengan seminar, bahkan juga dengan diskusi. Karena itu, di dalam sarasehan, terkadang ada penyaji makalah atau pembicara, ada pemandunya, dan ada pula notulisnya, persis layaknya diskusi atau seminar.
Kenyataan menunjukkan bahwa sarasehan dalam pelaksanaannya terasa lebih longgar, dalam suasana agak santai, bahkan terkadang sarasehan dilaksanakan dengan cara yang betul-betul menyenangkan. Sarasehan lebih bersifat kekeluargaan (Siddiq, 1998:28). Tempat sarasehan juga terlihat tidak diatur serapi tempat seminar dan diskusi, tetapi bukan berarti tempatnya menjadi ‘semraut’.

Sarasehan terkadang dilaksanakan dengan posisi duduk santai dengan hanya ‘lesehan’. Memang, ada juga sarasehan yang mengambil tempat yang mewah, dengan posisi duduk sebagaimana layaknya seminar dan diskusi. Namun, tampaknya sarasehan mengandung nuansa tidak begitu terikat.

Di dalam sarasehan, sesuai dengan sifatnya yang lebih santai, lebih longgar, maka terkadang disertakan acara lain, seperti acara pentas seni, tentu sesuai dengan tempat dan topik sarasehannya. Tentu saja, bagaimanapun pelaksanaannya, sarasehan tentu harus dipersiapkan dengan baik. Jangan sampai terjadi, sarasehan akhirnya berlangsung tanpa arah, tanpa kendali, dan tidak mencapai hasil yang diharapkan. Jadi, sarasehan juga harus memiliki tujuan yang jelas, ada fokus pembicaraan, sehingga para peserta dapat memberikan masukan atau tanggapan yang selaras dengan yang dibicarakan.

Sebuah sarasehan seharusnya juga menghasilkan sesuatu atau berupa rumusan yang dapat dijadikan sebagai pegangan atau dapat menjadi bahan pertimbangan bagi peserta dan bagi semua pihak yang terkait dengan masalah atau topik yang dibicarakan saat sarasehan.
Sekian...

Manfaat kemampuan berbicara - Public Speaking

Ada banyak manfaat yang bisa dirasakan langsung jika seseorang mampu atau terampil berbicara. Beberapa manfaat tersebut dapat dikemukakan melalui beberapa butir di bawah ini.

Memperlancar Komunikasi antar Sesama
Komunikasi antar manusia terbanyak dilakukan dengan jalan atau melalui berbicara. Oleh karena itu, secara mendasar bahwa kemampuan berbicara menduduki peranan penting dalam kamunikasi antar sesama. Di mana-mana kita menyaksikan berbicara satu sama lain. Pembicaraan terjadi di pasar, di rumah, di sekolah, di bandara, di forum-forum resmi, pergaulan sehari-hari di kampung atau di masyarakat, dan tempat serta kesempatan lainnya yang sangat beragam. Antar sesama, orang berbicara dengan bahasa tertentu. Mereka saling memahami. Sudah menjadi kesepakatan alami bahwa jika orang berkomunikasi satu sama lain, maka harus menggunakan yang sama, ada yang harus menyesuaikan diri, jika sebelumnya yang terlibat bicara berlatar belakang bahasa yang berbeda.

Seseorang yang pandai berbicara dengan baik, maka dengan sendirinya, ia akan memperoleh kemudahan dan kelancaran dalam berkomunikasi dengan lawan bicaranya. Satu hambatan dalam berinteraksi sudah teratasi, saluran bahasanya tidak bermasalah. Bisa dibayangkan, jika seseorang berbicara tidak jelas, kurang lancar, tertahan-tahan, dan susunan kata dan kalimatnya sulit dicerna, tentu akan menyulitkan lawan bicaranya dalam menyerap dan menanggapi pembicaraan orang tersebut. Memang, dalam kasus tertentu bisa dipahami adanya ketidakjelasan, ketidaklancaran, dan ketidakteraturan susunan kata dan kalimat yang dialami seseorang. Kasus seperti ini sangat mungkin terjadi misalnya ketika pembelajar bahasa asing (misalnya orang yang baru belajar bahasa Arab) mengadakan pembicaraan dengan penutur aslinya atau antar pembelajar bahasa tersebut. Mereka mengalami kendala untuk saling memahami, tetapi biasanya penutur asing dapat menerima tuturan lawan bicaranya, berusaha memahaminya, atau dengan kata lain memberikan toleransi yang tinggi kepada lawan bicaranya. Yang penting, mereka dapat saling memahami.

Dalam berkomunikasi antar sesama, orang yang terlibat dalam pembicaraan tidak sekadar dapat saling memahami, tetapi komunikasi lewat pembicaraan harus berjalan efektif. Masing-masing yang terlibat dalam pembicaraan tidak mengalami kendala yang berarti, harus ada kemudahan atau kecepatan yang memadai dalam menerima dan memberi sesuatu dalam interaksi saat pembicaraan berlangsung.

Mempermudah Pemberian Berbagai Informasi
Ketepatan dan kecepatan informasi yang diberikan melalui lisan dari seseorang kepada yang lain amat bergantung pada mutu dan kejelasan pembicaraan pemberi informasi. Karena itu, orang yang mampu berbicara dengan baik kemungkinan besar dapat menyampaikan informasi secara tepat dan cepat kepada lawan bicaranya. Betapapun seseorang memiliki kemampuan secara intelektual, jika ia lemah dalam berbicara, maka Ia akan mengalami kesulitan dalam mengungkapkan ide atau gagasannya kepada orang lain. Banyak orang pandai gagal berkomunikasi, terhambat dalam menyampaikan ide atau pemikirannya kepada orang banyak, karena ia tidak memiliki kemampuan dalam berbicara di depan umum (Romli, 2003:64). Bisa dibayangkan akan sangat sulit informasi diserap oleh penerima, jika yang memberikan informasi memiliki kemampuan yang Iemah dalam mengkomunikasikan sesuatu secara lisan (melalui berbicara). Oleh karena itu, orang-orang yang sering bergelut di bidang pemberian informasi, termasuk mereka yang bergerak di bidang hubungan masyarakat atau kehumasan sangat perlu rneningkatkan kemampuan berbicaranya.

Sebenarnya setiap orang tidak bisa melepaskan din dan kegiatan memberi dan menerima informasi. Karena itu, setiap orang juga perlu meningkatkan kemampuannya dalam Iwrbicara, minimal apabila dihadapkan pada tugas-tugas yang herkaitan dengan pemberian informasi, ia akan dapat melakukannya dengan baik. Parajuru bicara yang bekerja untuk kml)aga tertentu atau untuk tokoh tertentu juga sangat berkewntingan dengan kemampuan berbicara. Seorang juru bicara presiden tentu harus mampu memberikan penjelasan kepada milNyarakat tentang sesuatu yang disampaikan presiden, jika priijelasan diwakilkan kepadajuru bicara. Juru bicara harus dapat memahami secara tuntas apa yang dikemukakan atau diinginkan olrh yang diwakilinya, tidak boleh ada pertentangan maksud.

Meningkatkan Kepercayaan Diri
Biasanya pembicara yang balk memiliki kepercayaan din yang tinggi. Ta dengan mantap mengungkapkan gagasan atau hunh pikirannya kepada orang lain, tanpa disertai keraguan. Pembicara yang baik lebih percaya diri dalam menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Pembicara yang baik juga mengandung pengertian bahwa yang bersangkutan memiliki ketegasan dalam menyampaikan sesuatu, tetapi bukan berarti ia menunjukkan kekakuan. Ia menyampaikan sesuatu dengan lapang, tanpa beban saluran komunikasi (melalui lisan) yang digunakannya untuk orang lain. Dengan demikian, orang lain yang menjadi lawan bicara atau mitra tuturnya lebih meyakini apa yang dikemukakan oleh pembicara.

Pembicara yang baik bukan berarti orang yang dianggap pandai bersilat lidah atau dalam pengertian negatif, bukan ‘asbun’ atau asal bunyi. Pembicara yang dimaksudkan bukan pula digambarkan seperti pembicara yang berapi-api atau tampil secara berlebih-lebihan. Pembicara yang baik adalah seseorang yang mampu mengungkapkan sesuatu kepada orang lain dengan jelas dan bisa memahami keadaan lawan bicara atau mitra tuturnya. Dengan kata lain, pembicara yang baik berarti juga dapat menguasai audiensnya.

Meningkatkan Kewibawaan Diri
Pembicara yang baik memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Karena itu, secara langsung akan dapat meningkatkan kewibawaan dirinya pada saat dia tampil sebagai pembicara, sekaligus dimungkinkan kewibawaan itu akan menyatu atau berpengaruh terhadap keberadaan dirinya secara utuh. Pengalaman menunjukkan bagaimana tingginya wibawa Bung Karno sebagai presiden pertama RI. Wibawa Bung Karno antara lain karena kemampuannya dalam berpidato. Kewibawaan yang dimaksud bukan hanya terletak pada kemampuan berbicaranya, tetapi masih banyak faktor yang mempengaruhinya. Seseorang yang berbicara bukan sekadar mampu mengungkapkan sesuatu secara lisan, tetapi kualitas apa yang diungkapkan jauh lebih penting dan wujud pengungkapannya sendiri. Hal ini terkait dengan kualitas pengetahuan atau penguasaan bahan pembicaraan.

Mempertinggi Dukungan Publik atau Masyarakat
Tidak diragukan lagi seseorang yang memiliki kemampuan berbicara yang baik atau katakanlah seseorang yang disebut sebagai orator akan lebih mudah mendapat simpati dan dukungan dari publik atau masyarakat. Biasanya masyarakat akan lebih mudah atau tertarik untuk memberikan dukungan kepada seseorang yang dapat berkomunikasi secara efektif dengan mereka. Bagi kalangan masyarakat awam, tampaknya akan lebih mudah mendapat pengaruh atau dipengaruhi oleh seseorang yang tergolong pembicara yang baik. Dalam kegiatan politik, terutama pada saat-saat kampanye, para jurkam yang sudah berpengalaman biasanya akan dapat menarik simpati massa untuk mendukung partai politiknya, bahkan dalam rangka Pemilihan secara langsung (misalnya sebagai calon anggota DPR, DPD, Kepala Daerah, dan Presiden serta Wakil Presiden) kedudukannya sebagai jurkam dari calon kemungkinan besar akan memperoleh suara yang banyak karena kepandaiannya dalam berbicara. Dalam pemilihan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia secara langsung tahun 2004 memperlihatkan betapa kemampuan berbicara atau kemampuan berkomunikasi cukup mempengaruhi peta pemerolehan suara. Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY sebagai calon presiden meraih perolehan suara terbanyak dibanding calon lain. Salah satu keunggulan SBY adalah kemampuannya dalam berbicara, keteraturannya dalam bertutur kata, tentu juga keruntutan dan kejelasannya dalam menjelaskan program dan pandangan politiknya. Susilo Bambang Yudhoyono berpasangan dengan Yusuf Kalla akhirnya terpilih sebagai presiden dan wakil presiden RI. Susiolo Bambang Yudhoyono memang pernah meraih predikat sebagai pengguna bahasa Indonesia terbaik atau mendapat penghargaan sebagai salah satu tokoh yang patut diteladani dalam hal kemampuannya menggunakan bahasa Indonesia. Untuk itu SBY mendapat penghargaan dari Pusat Bahasa pada saat Kongres Bahasa Indonesia tahun 2000 di Jakarta.

Para aktivis politik sangat pandai memanfaatkan kemampuan berbicaranya dalam meraih dukungan massa. Ia berbicara dengan jelas, tegas, dan disertai dengan penggunaan gaya bahasa yang dapat membuat massa tertarik, bahkan dengan mudah massa dapat diarahkannya untuk bersikap atau meyakini apa yang disampaikannya.

Satu hal yang perlu dicamkan bahwa kemampuan berbicara bukan satu-satunya penentu seseorang untuk memperoleh dukungan yang luas dan masyarakat. Masih banyak hal lainnya yang mempengaruhi besar-kecilnya dukungan masyarakat terhadap seseorang, seperti bagaimana sikap dan perilakunya dalam bergaul di masyarakat serta bagaimana jasa atau pengabdiannya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk tingkat kemampuan intelektual atau daya pikirnya dalam menyikapi dan memecahkan berbagai persoalan yang ada.

Jika kita amati, para tokoh masyarakat yang kemampuan berbicaranya baik, biasanya banyak menjadi ‘incaran’ para pengurus partai politik untuk dapat direkrut agar mau masuk ke partainya, termasuk untuk dimanfaatkan sebagai pengumpul dan penarik simpati massa. Tokoh masyarakat yang berpredikat orator biasanya diminta untuk menjadi calon anggota legislatif (DPR) karena diyakini akan dapat menguntungkan masa depan partai dan tentunya diharapkan jika ia terpilih akan dapat menyuarakan kepentingan rakyat. Memang, kenyataan menunjukkan bahwa dalam kegiatan politik peranan para tokoh yang handal bicaranya cukup besar dalam membesarkan suatu partai. Bukankah segala gagasan dan jalan perjuangan partai harus dikomunikasikan ke masyarakat dengan jelas. Di sinilah antara lain betapa pentingnya peran orator partai sebagai ‘corong” politik partai.

Menjadi Penunjang Meraih Profesi dan Pekerjaan
Banyak profesi atau lapangan pekerjaan yang memerlukan kemampuan berbicara. Orang yang ingin menjadi guru atau dosen juga harus dilatarbelakangi kemampuan berbicara yang memadai. Sebab, pekerjaan atau profesi sebagai guru atau dosen, sehari-harinya banyak berhadapan dengan murid atau mahasiswanya. Interaksi antar keduanya tentu lebih banyak disaranai dengan kegiatan berbicara. Guru atau dosen yang berkualitas hendaknya juga mampu berbicara di depan peserta didiknya dengan baik. Ia harus mampu menjelaskan ilmu pengetahuan yang diajarkan kepada murid atau mahasiswanya. Memang, keberhasilan seorang guru atau dosen dalam mengemban tugasnya di kelas tidak mutlak ditentukan oleh kemampuan berbicara, masih banyak hal lain lagi. Namun, bagaimanapun seorang guru atau dosen harus mampu berbicara atau berkomunikasi lisan dengan peserta didik yang dihadapinya. Seseorang yang bekerja sebagai wartawan juga dituntut untuk mampu berbicara. Wartawan akan banyak berhadapan dengan khlayak. Ia sering mendapat tugas untuk mewawancarai seseorang atau melaporkan suatu kegiatan dengan secara lisan. Wartawan terkadang terlibat dalam diskusi atau dialog. Kegiatan ini juga menuntut kemampuan berbicara para wartawan. Orang yang ingin menjadi penyiar di radio dan televisi juga harus dibekali dengan kemampuan berbicara yang memadai. Bagaimanapun, seorang penyiar setiap harinya bergelut dengan berita dan bicara. Sebagaimana layaknya wartawan, penyiar juga sering terlibat dalam kegiatan wawancara. Karena itu, penyiar juga harus handal dalam mewawancarai narasumber. Pendek kata, penyiar mutlak memiliki kemampuan berbicara yang memadai karena tugas kesehariannya didominasi oleh kegiatan berbicara.

Mereka yang berkecimpung di bidang hukum atau penegakan hukum juga memerlukan kemampuan berbicara yang memadai. Para jaksa dan hakim harus memiliki kemampuan berbicara yang handal. Dalam sidang di pengadilan, tentu saja jaksa dan hakim berperan banyak. Karenanya, para jaksa dan hakim harus betul-betul terlatih dalam mengemukakan sesuatu yang berkaitan dengan hukum. Bicaranya harus jelas, tegas, dan berdasar pada hukum tertentu. Dalam kaitan ini juga mereka yang berpredikat sebagai pembela atau pengacara juga sangat dituntut untuk mampu berbicara secara efektif. Kenyataan menunjukkan bahwa para pembela atau pengacara umumnya telah memiliki kemampuan berbicara yang memadai. Mereka sangat berpengalaman. Karena itu, dengan kemampuan berbicara yang mereka miliki, mereka dapat menjalankan tugasnya dengan baik, bahkan di antara mereka menjadi terkenal dan banyak diminati oleh berbagai kalangan untuk dimintai jasa dalam menyelesaikan banyak kasus.

Meningkatkan Mutu Profesi dan Pekerjaan
Kemampuan berbicara tidak sekadar bermanfaat untuk memperoleh profesi dan pekerjaan, tetapi sekaligus dapat meningkatkan mutu profesi dan pekerjaan yang diemban seseorang. Seorang kepala sekolah akan lebih berwibawa dan lebih berhasil dalam menjalankan tugas-tugasnya jika ia dapat berkomunikasi dengan para guru dan staf sekolah secara efektif. Ia dapat mengarahkan bawahannya secara tepat. Salah satu ‘senjatanya’ adalah dengan kemampuannya dalam menyampaikan segala gagasan atau arahan secara lisan. Para guru dan staf sekolah ditempatkannya sebagai mitra tutur sehari-hari. Ia berbicara dengan lancar, termasuk dapat memahami pola pikir dan tingkah laku bawahannya sebagai mitra tutur. Seorang pimpinan perusahaan juga perlu terampil berbicara. Ia harus dapat melakukan pembinaan terhadap karyawannya. Salah satu cara pembinaan adalah dengan memberikan arahan atau nasihat yang dilakukan secara lisan. Ia selalu menjaga kontak langsung atau tatap muka dengan karyawannya. Ia dituntut untuk mampu melakukan negosiasi (juga secara lisan) dengan karyawan dalam menyelesaikan sutau masalah perusahaannya. Sebagai pimpinan perusahaan (apapun levelnya) Ia banyak berhadapan dengan pihak luar atau rekanan. Ia barus mampu membangun komunikasi dengan segala pihak tersebut agar ia dapat membesarkan dan mengembangkan perusahaannya. Tentu saja, komunikasi tersebut banyak dilakukan dengan pembicaraan, misalnya saat-saat pertemuan khusus dalam rangka membahas atau memperluas jaringan kerjasama.

Seorang psikolog atau ahli jiwa juga dituntut untuk mampu herbicara dengan baik. Ia setiap harinya banyak terlibat dalam menangani orang-orang yang memerlukan bantuan atau bimbingan kejiwaan. Ia biasanya banyak berbicara langsung dengan pasien atau orang yang memerlukannya. Psikolog melakukan pendekatan kejiwaan kepada orang lain, sekaligus ia juga banyak menggunakan tuturan lisan karena sering bertatap muka dengan orang yang dilayaninya. Memang, seorang psikolog tidak harus seorang pembicara handal atau semacam orator, tetapi ia harus secara efektif dapat menggunakan bahasa lisannya untuk keperluan tugas-tugasnya. Bukankah kemampuan berbahasa seseorang (termasuk kemampuan berbicaranya) juga akan dapat mencerminkan suasana kejiwaan seseorang. Bahasa juga sangat erat kaitannya dengan pikiran. Orang yang herbahasa sebenarnya sekaligus berpikir. Lain halnya dengan orang yang sedang mengigau saat tidur, ia tidak berbahasa. Sebab, orang mengigau tentu dalam keadaan tidak sadar.

Seorang pengatur acara atau protokol, baik dalam arti sebatas pembawa acara maupun dalam pekerjaannya secara lebih luas, maka ia harus memiliki kemampuan berbicara secara prima atau handal. Ia betul-betul memusatkan perhatiannya pada hal-hal yang berkaitan dengan suatu acara, mengatur, atau mengendalikan acara dari awal hingga selesai. Suksesnya suatu acara amat bergantung pada pengatur acara atau dalam istilah yang lebih luas pranata adicara (Pringgawidagda, 2003). Tentang pengatur acara atau protokol atau pranata adicara ini akan dijelaskan secara tersendiri dalam buku ini.

Seorang artis juga harus memiliki kemampuan berbicara yang memadai. Hampir semua peran artis di film atau sinetron secara langsung berkaitan dengan penerapan kemampuannya dalam berbicara. Bukankah hampir semua interaksi yang ada di film atau sinetron melibatkan kegiatan berbicara. Hal ini berlaku untuk semua jenis film, termasuk film komedi. Kemudian, artis lawak juga sangat banyak melibatkan pembicaraan atau percakapan. Semua pelawak dikenal sebagai orang yang pandai memanfaatkan kemampuan berbicaranya. Tentu saja, kemampuan berbicara para pelawak lebih diarahkan untuk memunculkan percakapan yang dapat melahirkan humor atau percakapan yang menyebabkan audiens atau penikmat lawak tertawa. Salah satu senjata utama pelawak adalah kemampuannya dalam berbicara. Memang, masih ada hal lain yang menentukan kelucuan seorang pelawak. Yang jelas peran ‘bicara’ tetap penting dalam rangkaian lawakan. Ia bisa bercerita lucu. Kita juga dapat membuat kalimat-kalimat yang secara spontan membuat orang tertawa.


Masalah dan solusi pengajaran bahasa Indonesia di Papua

Di Papua, pendidikan merupakan suatu hal yang perlu mendapat perhatian penuh dari semua pihak, bukan hanya pemerintah dan guru. Masalah menurunya kualitas pendidikan seolah melekat pada guru dan pemerintah sebagai penyebab tidak meningkatnya kinerja dan kesejahteraan seorang guru. Jika dilihat sekilas, hal tersebut dibenarkan karena di tangan merekalah sumber keberhasilan tujuan pendidikan itu sendiri. Namun demikian, hal tersebut juga tidak seratus persen dibenarkan, karena masih banyak pihak dan unsur-unsur lain yang menjadi penyebab sekaligus berperan aktif dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Berikut ini akan dijelskan faktor-faktor utama yang menyebabkan menurunya kualitas pendidikan terutama di di daerah pedalaman Papua.

Guru
Menurut hemat saya, yang memegang peranan terpenting dalam menentukan keberhasilan pengajaran adalah guru. Bagaimanapun baiknya sarana pendidikan yang lain, apabila guru tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik, maka pengajaran pastilah tidak akan memberikan hasil yang memuaskan. Banyak guru yang tidak ditempatkan sesuai dengan bidangnya terutama para guru yang yang berasal dari bidang lain namun mengajar mata pelajaran bahasa Indonesia karena mata pelajaran bahasa Indonesia dianggap mudah dan merupakan bahasa bangsa sendiri atau juga anggapan karena setiap hari sering menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi atau untuk interaksi antar sesama. Seorang guru yang baik ialah seorang yang memiliki pengetahuan yang cukup tentang bidang yang digelutinya, karena itu ia menguasai semua materi bahan pelajaran yang akan disuguhkannya kepada murid-muridnya.

Seorang guru yang baik haruslah kreatif dan berusaha agar murid-murid anak didiknya juga kreatif. Dia harus selalu mencari cara yang terbaik untuk menyajikan pelajarannya sehingga menarik murid, menimbulkan minat murid, dan membangkitkan kecintaan murid kepada mata pelajaran yang diasuhnya, bahasa Indonesia. Dia tidak puas dengan memberikan bahan pelajaran dari satu sumber saja, tetapi senantiasa mencari bahan-bahan baru yang up to date sehingga dapat memikat perhatian murid-muridnya. Dia selalu akan berusaha agar murid-muridnya tidak hanya pasif mendengarkan “ceramah”-nya, tetapi selalu bersikap kritis sehingga selalu akan mengajukan pertanyaan dengan tidak ragu-ragu dan takut terhadap apa yang diterimanya dari gurunya, tetapi kurang disetujuinya. Dia akan berusaha agar murid-muridnya tidak selalu hanya menerima saja dari gurunya, tetapi dapat “memberikan” sesuatu juga kepada gurunya atau kawan-kawannya dari hasil kreasinya (sajak, cerpen, karangan, dan lain-lain). Guru yang baik akan selalu berusaha agar kelasnya hidup. Kelas boleh saja agak ribut sedikit, tetapi terkendali karena guru dapat menguasai kelasnya itu dengan baik; kehangatan kelas yang timbul karena diskusi yang hidup sangatlah menggembirakan.

Buku
Harus diusahakan mengadakan buku-buku baku: tata bahasa, sastra, dan lain-lain untuk pegangan guru agar semua yang diajarkan di sekolah-sekolah sama. Bagi guru, yang penting dan perlu adalah yang sifatnya normatif. Guru harus selalu mengatakan kepada murid-muridnya, “ini yang betul, itu salah. ” Tidak dapat guru mengatakan bahwa yang berbeda-beda itu semuanya betul, boleh pilih mana saja.

Harus pula ditetapkan buku-buku mana yang boleh digunakan guru sebagai pelengkap, disebutkan judulnya, dan nama pengarangnya. Kalau kita mengharapkan murid-murid kita menjadi orang yang menguasai bahasa Indonesia dan terampil berbahasa Indonesia, kita tentu tidak dapat menyandarkannya hanya pada satu buku, yaitu buku paket untuk seluruh Indonesia.

Kekurangan jam tatap muka dengan murid dapat ditutup dengan bahan yang disusun guru sebagai pelajaran modul, di samping buku-buku pelengkap yang disinggung tadi. Murid dibiasakan untuk dapat belajar sendiri, tetapi guru harus menyediakan waktu untuk tanya jawab dengan murid-muridnya karena selalu ada hal-hal yang kurang jelas, yang memerlukan keterangan untuk memahaminya.

Menyusun buku seperti buku paket jangan selalu hanya dimonopoli oleh orang-orang di Jakarta, seakan-akan para ahli hanyalah orang yang ada di Jakarta. Tenaga-tenaga dari kota lain ada juga yang dapat membantu kalau diminta. Anggota penyusun buku haruslah orang yang ahli dalam bidangnya bukan hanya nama yang terpampang, tetapi mungkin sahamnya dalam penyusunan buku itu tidak ada.

Kurikulum
Kurikulum sebaiknya dibuat terperinci jelas, tidak terlalu sarat materinya, berurut baik materinya dan yang mudah hingga yang sukar, tidak tumpang tindih. Harus jelas untuk materi pokok yang sama, yang mana atau bagian mana yang diberikan di SD, yang mana di SMTP, dan yang mana pula di SMTA agar guru tidak selalu mengulang-ulang materi yang sama, yang sering membuat murid bosan dan tidak tertarik dengan pelajaran bahasa Indonesia.

Hasil penilaian terhadap materi kurikulum berbagai jenis/tingkat sekolah dalam lingkungan pendidikan dasar dan menengah menunjukan adanya kelemahan-kelemahan yang berkenaan dengan aspek keselarasan antara lingkup dan kedalaman bahan yang menyebabkan saratnya materi pelajaran, keselarasan veritikal yang menyangkut tata urutan pokok-pokok bahasan, dan kesesuaian materi dengan perkembangan-perkembangan baru yang terjadi.

Satu masalah pokok yang harus mendapatkan perhatian dalam penyusunan kurikulum ialah ketentuan materi yang tumpang tindih. Ada yang tercantum di kurikulum SMTP, tercantum seperti itu pula di kurikulum SMTA. Perinciannya tidak jelas: apa yang harus diajarkan di SMTP dan apa yang di SMTA sebagai lanjutannya. Kalau batasan itu tidak jelas, besar kemungkinannya bahan yang diberikan di SMTP diulang lagi di SMTA, sehingga pelajaran seolah-olah tidak ada habis-habisnya.

Tujuan Pengajaran dan Metode
Harus jelas apa tujuan atau sasaran yang ingin dicapai oleh pengajaran bahasa Indonesia ini. Akan menjadikan murid-murid kita orang yang banyak pengetahuannya tentang seluk-beluk bahasa Indonesia atau sastra Indonesia, ataukah ingin menjadikan mereka orang-orang yang terampil berbahasa Indonesia baik lisan maupun tulisan serta membangkitkan minat murid pada hasil karya sastra Indonesia?

Metode pengajaran tentulah harus sejalan dengan tujuan yang akan dicapai. Jika tujuan pertama yang ingin dicapai, metode ceramah mendapat tempat utama. Bila yang kedua yang ingin dicapai yaitu keterampilan berbahasa dan apresiasi sastra, tentulah diskusi, latihan, kegiatan sendirilah yang harus banyak diberikan.

Evaluasi
Bahwa pengajaran bahasa indonesia di sekolah-sekolah lebih cenderung kepada pengetahuan bahasa daripada keterampilan berbahasa, dapat kita lihat dari soal-soal tes atau soal-soal ulangan dan ujian. Corak pertanyaan guru lebih bersifat teoretis daripada praktis. Jawaban yang diminta guru dari soal-soal itu kebanyakan jawaban hafalan. Disinilah letak kegagalan itu.

Guru bahasa Indonesia harus selalu ingat akan tujuan pengajaran bahasa indonesia, baik tujuan umum maupun tujuan khusus. Tujuan umum yaitu membentuk manusia Indonesia seutuhnya, manusia indonesia yang pancasilais. Tujuan khusus yaitu membentuk manusia Indonesia yang cinta akan bahasa nasionalnya, serta terampil menggunakannya secara lisan maupun tulisan.


Sumber :
Badudu, J.S. 1993. Cakrawala Bahasa Indonesia. PT Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

=========
Oleh:
ariesrutung95

Public Speaking


Seni berbicara di depan umum - Public Speaking

Berbicara di depan umum atau public speaking adalah proses berbicara kepada sekelompok orang dengan cara yang terstruktur dan disengaja yang dimaksukan untuk menginformasikan, mempengaruhi, atau menghibur penedengar sacara langsung tanpa ada media perantara antara pendengar (audiens) dan pembicara (komunikator).

Perbedaan antara komunikasi massa dengan public speaking yaitu komunikasi masa adalah jenis komunikasi menggunakan media massa atau media cetak seperti koran, media sosial sedangkan public speaking atau retorika adalah komunikasi langsung dengan massa tanpa ada perantara. Ciri-ciri public speaking antara lain: (1) Diucapkan atau dibawakan di depan orang banyak atau massa, (2) Topik yang dibicarakan berkaitan dengan masalah sosial bukan masalah pribadi kecuali masalah pribadi yang bersifat sosial.
“If iam to speak ten minutes, i need a week for preparation; if fiveteen minutes, three days; if half an hour, two days, if an hour, iam ready now.”
 Sejarah Berbicara di Depan Umum
Public speaking pertama kali di kembangkan oleh bangsa Yunani Kuno yang berkembang di dalam kelompok-kelompok sekolah filsafat yang diajarkan oleh kelompok filsuf jalanan “kaum sofis” yang memungut biaya untuk membuat argumen lemah menjadi kuat dan untuk membuat siswa mereka menjadi lebih baik.

Pada zaman Yunani Kuno, menjadi orator ulung butuh kerja keras dan menyediakan uang yang banyak untuk mendapatkan atau belajar ilmu retorika dari guru-guru terkenal. Bahkan banyak orator ulung yang belajar berpuluh-puluh tahun di gua-gua bahkan di tempat-tempat terpencil, demi mempelajari dan mendalami ilmu retorika. Mereka belajar mulai dari olah vokal, intonasi suara, gerak-gerik dan mimik muka yang diselaraskan dengan suara yang ada.

Ilmu retorika mempunyai beberapa fungsi antara lain: (1) Mencapai kebenaran atau kemenangan bagi seseorang atau sekelompok orang dalam masyarakat; (2) Meraih kekuasaan, yaitu mencapai kemenangan seseorang atau sekelompok orang dengan ejekan siapa yang menng dialah yang berkuasa; (3) Sebagai alat persuasi atau ajakan kepada seseorang dengan alasan untuk meyakinkannya dengan tujuan mempengaruhi orang lain.
Hal yang diperhatikan saat Berbicara di Depan Umum
Hal yang diperhatikan saat berbicara di depan umum untuk dapat menjadi seorang orator yang baik:
Teknik Berbicara
Penyampaian (pronuntiatio), olah suara (vocis) dan gerakan-gerakan anggota badan (gestus moderatio venustate).
Melatih suara
Keras lembutnya atau besar kecilnya suara seserang dalam berbicara belum tentu menjamin seseorang dapat menyampaikan isi pembicaraannya atau bahkan menyulitkan orang tersebut untuk tampil. Ada pun yang perlu diperhatikan adalah:
  1. Intonasi atau irama suara agar tidak datar
  2. Artikulasi atau pengucapan kata yang jelas benar sehingga mudah dipahami
  3. Phrassing atau jeda ketika berbicara
  4. Stressing atau energi dalam suara agar pendengar tidak loyo
  5. Infleksi atau lagu kalimat,perubahan nada suara. Infleksi naik berarti ada lanjutan kalimat tetapi kalau infleksi menurun menunjukan akhir kalimat.
Teknik memproduksi suara:
  1. Speed atau kecepatan suara, disesuaikan dengan situasi dan kondisi
  2. Volume suara harus bulat
  3. Tone, tinggi rendahnya suara agara audiens tidak loyo
  4. Timbre, mampu memberikan gambaran, maksud, gagasan, perasaan atas apa yang disampaikan
  5. Power, kekuatan suara harus tepat dengan pemakaian kata
  6. Nafas, berbicara dengan nafas perut karena suara yang dihasilkan lebih dalam, power lebih kuat dan lebih nikmat untuk didengar
Bahasa Tubuh yang Wajar
Saat berbiacara, kita tidak dapat memungkiri bahwa kita melibatkan bahasa non-verbal lewat  gerakan-gerakan anggota tubuh. Komunikasi non-verbal mempunyai sifat antara lain:
  1. Dilakukan secara tidak sadar
  2. Suatu emosi yang sesungguhnya
  3. Intuitif atau bisikan hati
  4. Informal atau tidak resmi
  5. Isi kebenaran dapat dipercaya
Wajah
Dalam pelatihan bahasa non-verbal ini sangatlah penting untuk menyesuaikan suara dengan gerak tubuh. Misalnya saat mengacungkan telunjuk, sambil mengeluarkan suara lantang. Jika bernada pelan, ia akan menngerakkan bibirnya secara pelan. Hal yang perlu menjadi perhatian adalah mencocokkan ekspresi wajah dengan ucapan. Jika ada kontradiksi  anatara ucapan dan ekspresi, akan menampakkan sesuatu yang dibuat-buat. Tetapi sebagian orang memiliki kemampuan untuk melakukan kontradiksi  antara ekspresi dan ucapan. Oleh karena itu dalam berbicara di depan umum sangatlah ditekankan ekspresi wajah disesuaikan dengan perasaan, intonasi, dan uraian isi yang dibicarakan.

MataSorotan mata seseorang memiliki kekuatan yang dapat mempengaruhi pribadi orang lain. Seperti seorang wanita dapat menjadi terpesona dan bergetar hatinya kekpada seorang pria karena tatapan matanya. Tatapan mata yang genit dari seorang wanita yang mampu mengalihkan hati dan perasaan seorang pria. Namun ada juga seseorang yang memiliki sorotan mata yang menakutkan sehingga banyak orang yang berusaha untuk menghindarinya. Perlu diingat bahwa sorotan mata yang baik dapat memnerikan suasana yang hidup.
Kepala
Ketika kita mendengarkan dengan seksama, maka secara otomatis bahasa tubuh yang tepat akan mengikuti. Misalnya saat kita menganggukan kepala, menunjukan bahwa kita perhatian dengan topik pembicaraan, atau mengeleng sedikit secara simpatik atau kagum. Tindakan tersebut hendaknya dilakukan pada saat yang tepat.

Mulut
Mulut memliliki peran yang sangat penting dalam berkomunikasi. Karena perkataan seseorang dapat terbaca pada setiap gerakan mulut orang tersebut. Namun bagian penting yang perlu dilatih adalah bibir dan lidah. Maka dalam setiap pembicaraan hendklah lidah harus diposisikan dengan baik sesuai dengan alur kata yang terungkap.

Rasa Ketertarikan pada Orang Lain
Saat berbicara di depan umum, kita harus mampu menunjukan rasa ketertarikan kepada pendengar atau audien kita. Kita harus berbicara tentang sesuatu yang dapat menarik minat mereka untuk menikmati atau mau mendengarkan apa yang akan kita sampaikan. Walaupun hal yang menarik perhatian itu tergantung pada situasi dan latar belakang khalayak/hadirin, namun hal-hal yang bersifat baru, menarik, dan indah, hal-hal yang menyentuh rasa kemanusiaan, petualangan, konflik, ketegangan, ketidakpastian, hal yang berkaitan dengan keluarga, humor, atau hal-hal yang memiliki manfaat bagi hadirin adalah topik-topik yang tepat dan akan menarik perhatian. Sedapat mungkin kita harus akrab dan memahami jalan pikiran serta kebutuhan batin mereka. Kita harus mampu menyentuh hati khalayak yaitu segi perasaan, emosi, harapan, kebencian, dan kasih sayang mereka (pathos).kelak para ahli retorika modern menyebutnya imbauan emotional (emotional appeals)

Mau Mendengarkan
Mengingat bahwa dalam pembicaraan pengetahuan lebih banyak diperoleh melalui telinga daripada melalui mulut. Saya memberikan tempat kedua kepada sikap diam diatara keutamaan yang henndak saya kembanngkan. Mendengarkan dengan seksama, akan dpat membantu anda memberi respoon lebih baik. Ketika berbicara biasanya kita mendengarkan dalam salah satu dari lima (5) tingkat:
  1. Kita mungkin mengabaikan orang itu dan benar-benar tidak mendengarkannya
  2. Mungkin berpura-pura tidak mendengarkannya
  3. Mendengarkan tapi lebih slektif pada bagian tertentu dari pembicaraan
  4. Mendengarkan secara atentif dan menaruh perhatian dan menfokuskan energi pada kata-kata yang diucapkannya
  5. Mendengarkan secara empatik, mendengarkan untuk mengerti tapi untuk menjawab persoalan yang ada. Dalam arti mendengar bukan hanya dengan telinga saja tetapi dengan mata dan hati.
Dengan melihat tingkatan mendengar diatas maka mendengarkan keterampilan khusus, sebagaimana berbicara. Kebanyakan pemimpin yang baik di dalam semua bidang kehidupan menghabiskan jauh lebih banyak waktu meminta nasihat dan meminta pendapat bawahannya daripada bnyak berbicara.

Menurut BS. Wibowo, dkk (2002:92) dari kupasan Geoff Nightingale dalam Synergenik mengatakan antara lain:
  1. Dengarkan gagasannya bukan fakta dan tanyalah diri sendiri apa yang pembicara maksudkan.
  2. Nilailah isinya, bukan cara penyampaiannya
  3. Dengarkan dengan penuh harapan, jangan langsung kehilangan minat
  4. Jangan cepat menarik kesimpulan
  5. Sesuaikan pencatatan anda dengan pembicaraan
  6. Pusatkan perhatian, jangan mulai bermimpi dan jagalah mata anda agar tetap tertuju pada pada pembicaraan
  7. Jangan mendahului pikiran pembicara, anda akan kehilangan jejak
  8. Dengarlah dengan sungguh-sungguh waspada dan bergairah
  9. Kendalikan emosi waktu mendengar
  10. Bacalah fikiran anda, berlatihlah untuk menerima informasi baru
  11. Bernanfaslah perlahan dan dalam-dalam
  12. Jangan tegang, santai sajalah
Seni mendengar yang efektif adalah sebagai berikut:
  1. Berikan sepenuh hati pada orang lain
  2. Mendengarkan dengan serius
  3. Tunjukan minat pada perkataan orang
  4. Usahakan bebas gangguan
  5. Tunjukan kesabaran
  6. Bukalah pikiran anda
  7. Dengarkan setiap gagasan
  8. Hargai isinya, bukan cara penyampaiannya
  9. Turunkan senapan anda
  10. Belajarlah mendengarkan apa yang tersirat
Mendengar dan bertanya bukan menunjukan kebodohan sesorang tetapi menunjukan kualitas hidupnya, apalagi bagi seorang pemimpin.

Perluas Pengetahuan
Topik harus sesuai dengan latar belakang pengetahuan anda. Topik yang paling baik adalah topik yang memberikan kemungknan bagi kita lebih tahu daripada khalayak, pembicara harus lebih ahli bila dibandingkan dengan kebanyakan pendengar. Seprti yang diungkapakan oleh aristoteles bahwa seorang pembicara harus sanggup menunjukan kepada pendengar bahwa dirinya memiliki pengetahuan yang luas, keperibadian yang terpercaya, dan status yang terhormat (ethos). Ini menjadi salah satu cara untuk mempengaruhi orang yang diajak berbicara. Yang selanjutnya adalah meyakinkan khalayak dengan mengajukan bukti atau yang kelihatan sebagai bukti. Disini pembicara mendekati pendengar lewat otaknya (logos).

Menyelipkan Humor atau Cerita LucuMenyelipkan humor di sela-sela pembicaraan sangatlah penting meski hanya bersifat sebagai pelengkap. Secara manusiawi orang butuh tertawa untuk merilekskan dan menghilangkan kejenuhan. Namun sayang, tidaklah semua orang mempunyai bakat humor. Dan ada juga yang tidak suka humor. Alasannya adalah, hal ini akan mengundang kesan yang kurang serius terutama pada acara-acara formal. Maka sebagai pembicara kita harus pandai-pandai membaca situasi. Humor yang tepat pada situasi dan kesempatan yang tepat akan sangat mendukung apa yang sedang kita bicarakan. Namun ketidaktepatan pembicara menyelipkan humor saat berbicara akan merusak situasi.

Jenis dan metode berbicara di depan umum
Jenis-jenis public speaking yang umum dikenal antara lain:
  1. Khotbah, adalah berbicara di depan umum yang dikaitkan dengan tema-tema keagamaan yang dilakukan oleh pemuka-pemuka agama dengan tujuan menyampaikan pesan-pesan agama.
  2. Propaganda, adalah berbicara di depan umum untuk menyampaikan ide-ide dengan tujuan untuk meyakinkan pendengar.
  3. Kampanye, adalah berbicara di depan umum untuk kelompok orang tertentu (partai) dengan tujuan mempengaruhi massa dan biasa dilakukan untuk memperkenalkan tokoh-tokoh tertentu atau menyampaikan program tertentu.
  4. Penerangan, adalah berbicara di muka umum untuk menjelaskan sesuatu, misalnya program, permaslahan, pembangunan dan lain sebagainya.
  5. Agitasi, adalah berbicara di depan umum dengan tujuan untuk membakar semangat massa.
  6. Orasi ilmiah, adalah berbicara di depan umum pada forum-forum tertentu untuk menyamapaikan ilmu pengetahuan.

===========
Oleh:
ariesrutung95

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA