Anak Pantai : Berbicara

Konsep Dasar Rapat - Public Speaking

Istilah rapat sangat dikenal di kalangan masyarakat luas, dan masyarakat yang ada di perkotaan hingga masyarakat yang tinggal jauh di pedesaan. Rapat terkadang disebut juga musyawarah. Rapat dimaksudkan untuk membicarakan sesuatu, untuk menyampaikan sesuatu dari pihak tertentu ke pihak lain, untuk memutuskan sesuatu, atau untuk memberikan arah bagi suatu kegiatan atau pekerjaan. Rapat dilaksanakan bisa dalam bentuk yang amat sederhana, peserta rapatnya juga sangat terbatas, dan bahan yang dibicarakan juga sedikit. Rapat bisa juga dalam bentuk atau lingkup yang cukup luas. Rapat yang cakupannya luas, maka perencanaannya harus betul-betul matang, mungkin juga disertai dengan panduan tertentu yang harus ditaati oleh peserta rapat, serta membutuhkan biaya yang cukup besar. Rapat juga ada yang disebut rapat rutin, rapat dadakan (tanpa rencana, secara tiba-tiba), atau mungkin rapat luar biasa. Rapat rutin, bisa waktunya setiap bulan, persetengah bulan, pertiga bulan, atau rapat pertahun (misalnya rapat operasi yang berupa RAT atau Rapat Anggota Tahunan) yang aekaligus bisa dimanfaatkan sebagai sarana rapat pertanggungjawaban atas pelaksanaan tugas-tugas suatu organisasi atau lembaga. Rapat bisa bertujuan untuk mengefektifkan suatu pekerjaan (termasuk pembahasan dan pembuatan rencana kerja) atau dalam bentuk rapat kerja (raker), juga ada rapat konsultasi, rapat koordinasi, rapat monitoring, dan lain-lainnya.

Ada lagi istilah rapat akbar atau kadang disebut rapat raksasa. Rapat akbar ini biasa digunakan untuk rapat besar yang pesertanya sangat luas, misalnya dalam rangka kampanye pernilu. Karena itu, kampanye sering juga disebut rapat akbar. Walaupun, rapat akbar tidak selalu dikaitkan dan diidentikkan dengan kampanye pemilu.

Apapun namanya, dalam rapat lebih didominasi oleh kegiatan berbicara, saling berbicara satu sama lain, saling mengemukakan pemikiran atau pendapat, dan biasanya ada semacam keputusan atau kesimpulan yang diambil setelah rapat usai. Memang, tidak mutlak bahwa setiap rapat harus ada keputusan, bisa saja keputusan belum diperoleh, justru keputusannya adalah dengan langkah kegiatan untuk melakukan rapat berikutnya atau rapat lanjutan.

Suasana rapat juga berbeda-beda, sesuai dengan sifat, tujuan, dan mereka yang menjadi peserta rapat (termasuk bagaimana pimpinan rapat menjalankan tugasnya sebagai pengendali situasi atau pengarah jalannya rapat). Ada rapat yang suasananya santai, cenderung berjalan biasa-biasa saja, tanpa ‘gejolak’ sedikitpun. Sebaliknya, ada rapat yang suasananya ‘amat panas’, cenderung tak terkendali, dan sesekali ada rapat yang berakhir dengan rusuh atau bubar tanpa membuahkan hasil yang diharapkan. Sebenarnya, rapat apapun harus dijalankan dengan baik, harus ada persiapan dalam segala hal, jangan ‘asal rapat’. Sebab, sebuah rapat merupakan pertemuan pemikiran, karenanya setiap peserta rapat harus dapat menerima atau mendengarkan dengan baik pemikiran orang lain, tidak boleh memaksakan pemikiran atau kemauan sendiri atau katakanlah ‘menonjolkan kelompoknya’. Rapat hendaknya berjalan demokratis, penuh toleransi antar sesama peserta rapat. Yang diutamakan adalah akal sehat atau pemikiran yang jernih, bukan perasaan dan ‘hawa nafsu’ yang hanya mementingkan diri sendiri. Seseorang yang mengikuti rapat bukan untuk ‘mengadili’ orang lain atau ‘menghantam’ saudara sendiri.

Kiranya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan atau dipersiapkan untuk melaksanakan suatu rapat. Hal-hal tersebut dapat dibutiri seperti di bawah ini.

Pimpinan Rapat
Pimpinan rapat bisa dipegang oleh satu orang dan bisa pula oleh beberapa orang. Biasanya, pimpinan rapat ada yang langsung berperan sebagai pengendali atau pengatur jalannya rapat, dari awal hingga akhir. Kemudian, di samping pimpinan rapat tersebut, ada lagi sekretaris atau penulis rapat. Sekretaris bertugas mendampingi pimpinan rapat (atau bisa disebut ketua rapat) dan mencatat segala apa yang terjadi, termasuk berbagai masukan dari peserta rapat serta mencatat secara rapi dan sistematis hasil rapat. Pimpinan rapat hendaknya orang yang memiliki kemampuan yang memadai tentang berbagai hal. Di antara kriteria atau persyaratan seseorang untuk menjadi pimpinan rapat adalah sebagal berikut.
  1. Mampu mengendalikan diri, tidak emosional, atau memiliki sikap sabar;
  2. Menerima dengan lapang segala perbedaan pendapat yang berkembang saat rapat,
  3. Memahami dengan baik bahan atau mateni rapat
  4. Mampu mengendalikan jalannya rapat, termasuk dapat memberikan kesempatan berbicara kepada peserta rapat secara adil atau merata, tidak mendominasi dalam mengemukakan pendapat;
  5. Mampu meluruskan penyimpangan yang terjadi saat rapat, dapat memberikan peringatan, termasuk menghentikan peserta yang tampak berbicara tanpa arah dengan cara bijaksana atau penuh kearifan;
  6. Memiliki daya pikir dan daya tangkap memadai, sehingga ia dapat menyerap apa-apa yang dikemukakan oleh peserta rapat, dan;
  7. Mampu merangkum berbagai hal yang berkembang saat rapat.

Peserta Rapat
Secara umum, peserta rapat harus dapat menempatkan dirinya sebaik mungkin. Peserta rapat harus menyadari bahwa ia berkewajiban untuk ikut mensukseskan rapat. Karena itu, peserta rapat hendaknya dapat memenuhi kriteria yang antara lain sebagai berikut.
  1. Memahami bahan atau materi rapat (jika bahan rapat telah diperoleh sebelum rapat, maka hendaknya peserta dapat mempelajarinya dengan baik sebagai bekal untuk mengikuti rapat);
  2. Menghadiri rapat tepat waktu, jangan menduga bahwa setiap rapat pasti terlambat, hindarkan budaya ‘jam karet’;
  3. Memberikan andil secara langsung saat rapat dengan mengemukakan pendapat atau tanggapan yang memang sangat diperlukan;
  4. Mampu bersikap sabar, tidak emosional, tidak mendominasi pembicaraan, siap menerima perbedaan pendapat, dapat mendengarkan pembicaraan orang lain dengan seksama;
  5. Mengikuti rapat secara penuh, kecuali ada halangan yang mendadak atau ada sesuatu yang tak dapat dihindarkan (hendaknya meminta izin kepada pimpinan rapat);
  6. Mengikuti perkembangan rapat dan memahami dengan tuntas setiap keputusan atau hasil rapat, dan
  7. Menerima hasil rapat dengan ikhlas, karenanya jangan ‘menggerutu’ di luar rapat, jangan mementahkan hasil rapat, jangan melakukan tindakan anarkis dalam bentuk apapun.
Pengaturan Tempat Rapat
Tempat rapat juga turut menentukan kesuksesan rapat. Karena itu, usahakan tempat rapat dapat memberikan kenyamanan kepada peserta rapat. Tempat yang baik untuk rapat antara lain hendaklah memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut.
  1. Ruangannya tidak begitu sempit, juga tidak terlalu luas;
  2. mempunyai penerangan yang cukup;
  3. Keadaan udara tidak pengap, tidak panas, jauh dari kebisingan;
  4. Ruangannya cukup bersih;
  5. Ketersediaan pengeras suara atau pelantang (jika diperlukan) yang siap pakai atau dalam keadaan baik;
  6. Ketersediaan kursi (dan meja) yang memadai; dan
  7. Posisi duduk peserta yang lapang, terlihat tidak kaku, antar peserta dapat saling memandang agar interaksi antar peserta (juga dengan pimpinan rapat) berjalan lancar, tidak terhambat.


Itu tadi sekilas tentang konsep mengenai rapat, selamat membaca, semoga bermanfaat...
Salam....

Konsep dasar tentang Seminar - Public Speaking

Istilah seminar sangat populer di masyarakat, terutama Juga sebagaimana istilah diskusi, seminar sangat akrab di kalangan perguruan tinggi. Memang, agak sulit membedakan mana seminar dan mana pula diskusi. Kedua kegiatan ini juga membahas suatu masalah secara mendalam. Seminar bisa diartikan sebagai bentuk pertemuan atau persidangan untuk membahas suatu masalah di bawah pimpinan ahli atau guru besar atau para pakar (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1991:907). Jika berpegang pada pengertian seminar yang tercantum di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tersebut, maka salah satu ciri khas seminar adalah bahwa adanya peran atau keterlibatan langsung para ahli, guru besar, atau pakar bidang tertentu, berkaitan dengan masalah yang dibahas dalam seminar itu sendiri. Yang jelas, bahwa seminar merupakan forum atau pertemuan untuk membahas sesuatu secara mendalam, tuntas, dan dapat dijadikan sebagai acuan atau bahan pertimbangan atas keberadaan suatu masalah atau bisa dijadikan acuan dalam melakukan atau menyikapi sesuatu. Wajar jika seminar melibatkan para ahli agar segala yang muncul dan berkembang saat seminar dapat dipertanggungjawabkan dari segi kekuatan pemikirannya.

Seminar sebagai sebuah pertemuan ilmiah berarti juga hanyak melibatkan pengungkapan gagasan dan pemikiran yang dituangkan secara lisan dan juga tentu berdasarkan gagasan dari pemikiran yang telah ditulis oleh para penyaji makalah. Seminar tentu disertai dengan penyaji atau pembicara. Penyaji atau pembicara dalam seminar biasanya menyertakan gagasan, pemikiran, atau mungkin hasil penelitiannya yang ditulis dalam bentuk makalah.

Persiapan seminar tidak jauh berbeda dengan bagaimana menyiapkan sebuah diskusi. Dalam seminar juga terdapat penyaji makalah, moderator atau pemandu, sekretaris atau notulis, dan peserta. Segala hal yang berkaitan dengan diskusi kiranya dapat saja diterapkan dalam pelaksanaan seminar. Diskusi tidak jauh berbeda, agak sulit memberikan batas perbedaan di antara satu dengan yang lainnya. Seminar tampaknya lebih formal dan diskusi, mungkin bisa dianggap lebih besar. Amat jarang sebuah seminar yang pesertanya hanya sepuluh orang. Sebaliknya, dalam sebuah diskusi mungkin pesertanya bisa kurang dan sepuluh orang. Namun, diskusi tidak jarang juga dihadiri ratusan orang. Forum seminar terkadang juga disebut atau dinyatakan sebagai diskusi. Berapa jumlah yang ideal untuk peserta kedua forum ini memang sulit ditentukan, tidak ada jumlah minimal mutlak yang menjadi syarat layaknya sebuah diskusi atau seminar.

Istilah seminar juga sangat populer di masyarakat, terutama Juga sebagaimana istilah diskusi, seminar sangat akrab di kalangan perguruan tinggi. Memang, agak sulit membedakan mana seminar dan mana pula diskusi. Kedua kegiatan ini juga membahas suatu masalah secara mendalam. Seminar bisa diartikan sebagai bentuk pertemuan atau persidangan untuk membahas suatu masalah di bawah pimpinan ahli atau guru besar atau para pakar (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1991:907). Jika berpegang pada pengertian seminar yang tercantum di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tersebut, maka salah satu ciri khas seminar adalah bahwa adanya peran atau keterlibatan langsung para ahli, guru besar, atau pakar bidang tertentu, berkaitan dengan masalah yang dibahas dalam seminar itu sendiri. Yang jelas, bahwa seminar merupakan forum atau pertemuan untuk membahas sesuatu secara mendalam, tuntas, dan dapat dijadikan sebagai acuan atau bahan pertimbangan atas keberadaan suatu masalah atau bisa dijadikan acuan dalam melakukan atau menyikapi sesuatu. Wajar jika seminar melibatkan para ahli agar segala yang muncul dan berkembang saat seminar dapat dipertanggungjawabkan dari segi kekuatan pemikirannya.

Seminar sebagai sebuah pertemuan ilmiah berarti juga hanyak melibatkan pengungkapan gagasan dan pemikiran yang dituangkan secara lisan dan juga tentu berdasarkan gagasan dari pemikiran yang telah ditulis oleh para penyaji makalah. Seminar tentu disertai dengan penyaji atau pembicara. Penyaji atau pembicara dalam seminar biasanya menyertakan gagasan, pemikiran, atau mungkin hasil penelitiannya yang ditulis dalam bentuk makalah.

Persiapan seminar tidak jauh berbeda dengan bagaimana menyiapkan sebuah diskusi. Dalam seminar juga terdapat penyaji makalah, moderator atau pemandu, sekretaris atau notulis, dan peserta.

Segala hal yang berkaitan dengan diskusi kiranya dapat saja diterapkan dalam pelaksanaan seminar. Diskusi tidak jauh berbeda, agak sulit memberikan batas perbedaan di antara satu dengan yang lainnya. Seminar tampaknya lebih formal dan diskusi, mungkin bisa dianggap lebih besar. Amat jarang sebuah seminar yang pesertanya hanya sepuluh orang. Sebaliknya, dalam sebuah diskusi mungkin pesertanya bisa kurang dan sepuluh orang. Namun, diskusi tidak jarang juga dihadiri ratusan orang. Forum seminar terkadang juga disebut atau dinyatakan sebagai diskusi. Berapa jumlah yang ideal untuk peserta kedua forum ini memang sulit ditentukan, tidak ada jumlah minimal mutlak yang menjadi syarat layaknya sebuah diskusi atau seminar.
Sekian....

Konsep tentang sarasehan - Public Speaking

Sarasehan diartikan sebagai pertemuan yang diselenggarakan untuk mendengarkan pendapat para ahli mengenai suatu masalah dalam bidang tertentu atau disebut juga dengan istilah simposium (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1991:880). Istilah saresehan baru dikenal beberapa tahun terakhir. Karena itu istilah sarasehan tampak belum memasyarakat atau tidak begitu meluas seperti istilah diskusi dan seminar. Jika dicermati pengertian sarasehan yang ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia tersebut, maka sarasehan bisa saja disamakan dengan seminar, bahkan juga dengan diskusi. Karena itu, di dalam sarasehan, terkadang ada penyaji makalah atau pembicara, ada pemandunya, dan ada pula notulisnya, persis layaknya diskusi atau seminar.
Kenyataan menunjukkan bahwa sarasehan dalam pelaksanaannya terasa lebih longgar, dalam suasana agak santai, bahkan terkadang sarasehan dilaksanakan dengan cara yang betul-betul menyenangkan. Sarasehan lebih bersifat kekeluargaan (Siddiq, 1998:28). Tempat sarasehan juga terlihat tidak diatur serapi tempat seminar dan diskusi, tetapi bukan berarti tempatnya menjadi ‘semraut’.

Sarasehan terkadang dilaksanakan dengan posisi duduk santai dengan hanya ‘lesehan’. Memang, ada juga sarasehan yang mengambil tempat yang mewah, dengan posisi duduk sebagaimana layaknya seminar dan diskusi. Namun, tampaknya sarasehan mengandung nuansa tidak begitu terikat.

Di dalam sarasehan, sesuai dengan sifatnya yang lebih santai, lebih longgar, maka terkadang disertakan acara lain, seperti acara pentas seni, tentu sesuai dengan tempat dan topik sarasehannya. Tentu saja, bagaimanapun pelaksanaannya, sarasehan tentu harus dipersiapkan dengan baik. Jangan sampai terjadi, sarasehan akhirnya berlangsung tanpa arah, tanpa kendali, dan tidak mencapai hasil yang diharapkan. Jadi, sarasehan juga harus memiliki tujuan yang jelas, ada fokus pembicaraan, sehingga para peserta dapat memberikan masukan atau tanggapan yang selaras dengan yang dibicarakan.

Sebuah sarasehan seharusnya juga menghasilkan sesuatu atau berupa rumusan yang dapat dijadikan sebagai pegangan atau dapat menjadi bahan pertimbangan bagi peserta dan bagi semua pihak yang terkait dengan masalah atau topik yang dibicarakan saat sarasehan.
Sekian...

Public Speaking


Seni berbicara di depan umum - Public Speaking

Berbicara di depan umum atau public speaking adalah proses berbicara kepada sekelompok orang dengan cara yang terstruktur dan disengaja yang dimaksukan untuk menginformasikan, mempengaruhi, atau menghibur penedengar sacara langsung tanpa ada media perantara antara pendengar (audiens) dan pembicara (komunikator).

Perbedaan antara komunikasi massa dengan public speaking yaitu komunikasi masa adalah jenis komunikasi menggunakan media massa atau media cetak seperti koran, media sosial sedangkan public speaking atau retorika adalah komunikasi langsung dengan massa tanpa ada perantara. Ciri-ciri public speaking antara lain: (1) Diucapkan atau dibawakan di depan orang banyak atau massa, (2) Topik yang dibicarakan berkaitan dengan masalah sosial bukan masalah pribadi kecuali masalah pribadi yang bersifat sosial.
“If iam to speak ten minutes, i need a week for preparation; if fiveteen minutes, three days; if half an hour, two days, if an hour, iam ready now.”
 Sejarah Berbicara di Depan Umum
Public speaking pertama kali di kembangkan oleh bangsa Yunani Kuno yang berkembang di dalam kelompok-kelompok sekolah filsafat yang diajarkan oleh kelompok filsuf jalanan “kaum sofis” yang memungut biaya untuk membuat argumen lemah menjadi kuat dan untuk membuat siswa mereka menjadi lebih baik.

Pada zaman Yunani Kuno, menjadi orator ulung butuh kerja keras dan menyediakan uang yang banyak untuk mendapatkan atau belajar ilmu retorika dari guru-guru terkenal. Bahkan banyak orator ulung yang belajar berpuluh-puluh tahun di gua-gua bahkan di tempat-tempat terpencil, demi mempelajari dan mendalami ilmu retorika. Mereka belajar mulai dari olah vokal, intonasi suara, gerak-gerik dan mimik muka yang diselaraskan dengan suara yang ada.

Ilmu retorika mempunyai beberapa fungsi antara lain: (1) Mencapai kebenaran atau kemenangan bagi seseorang atau sekelompok orang dalam masyarakat; (2) Meraih kekuasaan, yaitu mencapai kemenangan seseorang atau sekelompok orang dengan ejekan siapa yang menng dialah yang berkuasa; (3) Sebagai alat persuasi atau ajakan kepada seseorang dengan alasan untuk meyakinkannya dengan tujuan mempengaruhi orang lain.
Hal yang diperhatikan saat Berbicara di Depan Umum
Hal yang diperhatikan saat berbicara di depan umum untuk dapat menjadi seorang orator yang baik:
Teknik Berbicara
Penyampaian (pronuntiatio), olah suara (vocis) dan gerakan-gerakan anggota badan (gestus moderatio venustate).
Melatih suara
Keras lembutnya atau besar kecilnya suara seserang dalam berbicara belum tentu menjamin seseorang dapat menyampaikan isi pembicaraannya atau bahkan menyulitkan orang tersebut untuk tampil. Ada pun yang perlu diperhatikan adalah:
  1. Intonasi atau irama suara agar tidak datar
  2. Artikulasi atau pengucapan kata yang jelas benar sehingga mudah dipahami
  3. Phrassing atau jeda ketika berbicara
  4. Stressing atau energi dalam suara agar pendengar tidak loyo
  5. Infleksi atau lagu kalimat,perubahan nada suara. Infleksi naik berarti ada lanjutan kalimat tetapi kalau infleksi menurun menunjukan akhir kalimat.
Teknik memproduksi suara:
  1. Speed atau kecepatan suara, disesuaikan dengan situasi dan kondisi
  2. Volume suara harus bulat
  3. Tone, tinggi rendahnya suara agara audiens tidak loyo
  4. Timbre, mampu memberikan gambaran, maksud, gagasan, perasaan atas apa yang disampaikan
  5. Power, kekuatan suara harus tepat dengan pemakaian kata
  6. Nafas, berbicara dengan nafas perut karena suara yang dihasilkan lebih dalam, power lebih kuat dan lebih nikmat untuk didengar
Bahasa Tubuh yang Wajar
Saat berbiacara, kita tidak dapat memungkiri bahwa kita melibatkan bahasa non-verbal lewat  gerakan-gerakan anggota tubuh. Komunikasi non-verbal mempunyai sifat antara lain:
  1. Dilakukan secara tidak sadar
  2. Suatu emosi yang sesungguhnya
  3. Intuitif atau bisikan hati
  4. Informal atau tidak resmi
  5. Isi kebenaran dapat dipercaya
Wajah
Dalam pelatihan bahasa non-verbal ini sangatlah penting untuk menyesuaikan suara dengan gerak tubuh. Misalnya saat mengacungkan telunjuk, sambil mengeluarkan suara lantang. Jika bernada pelan, ia akan menngerakkan bibirnya secara pelan. Hal yang perlu menjadi perhatian adalah mencocokkan ekspresi wajah dengan ucapan. Jika ada kontradiksi  anatara ucapan dan ekspresi, akan menampakkan sesuatu yang dibuat-buat. Tetapi sebagian orang memiliki kemampuan untuk melakukan kontradiksi  antara ekspresi dan ucapan. Oleh karena itu dalam berbicara di depan umum sangatlah ditekankan ekspresi wajah disesuaikan dengan perasaan, intonasi, dan uraian isi yang dibicarakan.

MataSorotan mata seseorang memiliki kekuatan yang dapat mempengaruhi pribadi orang lain. Seperti seorang wanita dapat menjadi terpesona dan bergetar hatinya kekpada seorang pria karena tatapan matanya. Tatapan mata yang genit dari seorang wanita yang mampu mengalihkan hati dan perasaan seorang pria. Namun ada juga seseorang yang memiliki sorotan mata yang menakutkan sehingga banyak orang yang berusaha untuk menghindarinya. Perlu diingat bahwa sorotan mata yang baik dapat memnerikan suasana yang hidup.
Kepala
Ketika kita mendengarkan dengan seksama, maka secara otomatis bahasa tubuh yang tepat akan mengikuti. Misalnya saat kita menganggukan kepala, menunjukan bahwa kita perhatian dengan topik pembicaraan, atau mengeleng sedikit secara simpatik atau kagum. Tindakan tersebut hendaknya dilakukan pada saat yang tepat.

Mulut
Mulut memliliki peran yang sangat penting dalam berkomunikasi. Karena perkataan seseorang dapat terbaca pada setiap gerakan mulut orang tersebut. Namun bagian penting yang perlu dilatih adalah bibir dan lidah. Maka dalam setiap pembicaraan hendklah lidah harus diposisikan dengan baik sesuai dengan alur kata yang terungkap.

Rasa Ketertarikan pada Orang Lain
Saat berbicara di depan umum, kita harus mampu menunjukan rasa ketertarikan kepada pendengar atau audien kita. Kita harus berbicara tentang sesuatu yang dapat menarik minat mereka untuk menikmati atau mau mendengarkan apa yang akan kita sampaikan. Walaupun hal yang menarik perhatian itu tergantung pada situasi dan latar belakang khalayak/hadirin, namun hal-hal yang bersifat baru, menarik, dan indah, hal-hal yang menyentuh rasa kemanusiaan, petualangan, konflik, ketegangan, ketidakpastian, hal yang berkaitan dengan keluarga, humor, atau hal-hal yang memiliki manfaat bagi hadirin adalah topik-topik yang tepat dan akan menarik perhatian. Sedapat mungkin kita harus akrab dan memahami jalan pikiran serta kebutuhan batin mereka. Kita harus mampu menyentuh hati khalayak yaitu segi perasaan, emosi, harapan, kebencian, dan kasih sayang mereka (pathos).kelak para ahli retorika modern menyebutnya imbauan emotional (emotional appeals)

Mau Mendengarkan
Mengingat bahwa dalam pembicaraan pengetahuan lebih banyak diperoleh melalui telinga daripada melalui mulut. Saya memberikan tempat kedua kepada sikap diam diatara keutamaan yang henndak saya kembanngkan. Mendengarkan dengan seksama, akan dpat membantu anda memberi respoon lebih baik. Ketika berbicara biasanya kita mendengarkan dalam salah satu dari lima (5) tingkat:
  1. Kita mungkin mengabaikan orang itu dan benar-benar tidak mendengarkannya
  2. Mungkin berpura-pura tidak mendengarkannya
  3. Mendengarkan tapi lebih slektif pada bagian tertentu dari pembicaraan
  4. Mendengarkan secara atentif dan menaruh perhatian dan menfokuskan energi pada kata-kata yang diucapkannya
  5. Mendengarkan secara empatik, mendengarkan untuk mengerti tapi untuk menjawab persoalan yang ada. Dalam arti mendengar bukan hanya dengan telinga saja tetapi dengan mata dan hati.
Dengan melihat tingkatan mendengar diatas maka mendengarkan keterampilan khusus, sebagaimana berbicara. Kebanyakan pemimpin yang baik di dalam semua bidang kehidupan menghabiskan jauh lebih banyak waktu meminta nasihat dan meminta pendapat bawahannya daripada bnyak berbicara.

Menurut BS. Wibowo, dkk (2002:92) dari kupasan Geoff Nightingale dalam Synergenik mengatakan antara lain:
  1. Dengarkan gagasannya bukan fakta dan tanyalah diri sendiri apa yang pembicara maksudkan.
  2. Nilailah isinya, bukan cara penyampaiannya
  3. Dengarkan dengan penuh harapan, jangan langsung kehilangan minat
  4. Jangan cepat menarik kesimpulan
  5. Sesuaikan pencatatan anda dengan pembicaraan
  6. Pusatkan perhatian, jangan mulai bermimpi dan jagalah mata anda agar tetap tertuju pada pada pembicaraan
  7. Jangan mendahului pikiran pembicara, anda akan kehilangan jejak
  8. Dengarlah dengan sungguh-sungguh waspada dan bergairah
  9. Kendalikan emosi waktu mendengar
  10. Bacalah fikiran anda, berlatihlah untuk menerima informasi baru
  11. Bernanfaslah perlahan dan dalam-dalam
  12. Jangan tegang, santai sajalah
Seni mendengar yang efektif adalah sebagai berikut:
  1. Berikan sepenuh hati pada orang lain
  2. Mendengarkan dengan serius
  3. Tunjukan minat pada perkataan orang
  4. Usahakan bebas gangguan
  5. Tunjukan kesabaran
  6. Bukalah pikiran anda
  7. Dengarkan setiap gagasan
  8. Hargai isinya, bukan cara penyampaiannya
  9. Turunkan senapan anda
  10. Belajarlah mendengarkan apa yang tersirat
Mendengar dan bertanya bukan menunjukan kebodohan sesorang tetapi menunjukan kualitas hidupnya, apalagi bagi seorang pemimpin.

Perluas Pengetahuan
Topik harus sesuai dengan latar belakang pengetahuan anda. Topik yang paling baik adalah topik yang memberikan kemungknan bagi kita lebih tahu daripada khalayak, pembicara harus lebih ahli bila dibandingkan dengan kebanyakan pendengar. Seprti yang diungkapakan oleh aristoteles bahwa seorang pembicara harus sanggup menunjukan kepada pendengar bahwa dirinya memiliki pengetahuan yang luas, keperibadian yang terpercaya, dan status yang terhormat (ethos). Ini menjadi salah satu cara untuk mempengaruhi orang yang diajak berbicara. Yang selanjutnya adalah meyakinkan khalayak dengan mengajukan bukti atau yang kelihatan sebagai bukti. Disini pembicara mendekati pendengar lewat otaknya (logos).

Menyelipkan Humor atau Cerita LucuMenyelipkan humor di sela-sela pembicaraan sangatlah penting meski hanya bersifat sebagai pelengkap. Secara manusiawi orang butuh tertawa untuk merilekskan dan menghilangkan kejenuhan. Namun sayang, tidaklah semua orang mempunyai bakat humor. Dan ada juga yang tidak suka humor. Alasannya adalah, hal ini akan mengundang kesan yang kurang serius terutama pada acara-acara formal. Maka sebagai pembicara kita harus pandai-pandai membaca situasi. Humor yang tepat pada situasi dan kesempatan yang tepat akan sangat mendukung apa yang sedang kita bicarakan. Namun ketidaktepatan pembicara menyelipkan humor saat berbicara akan merusak situasi.

Jenis dan metode berbicara di depan umum
Jenis-jenis public speaking yang umum dikenal antara lain:
  1. Khotbah, adalah berbicara di depan umum yang dikaitkan dengan tema-tema keagamaan yang dilakukan oleh pemuka-pemuka agama dengan tujuan menyampaikan pesan-pesan agama.
  2. Propaganda, adalah berbicara di depan umum untuk menyampaikan ide-ide dengan tujuan untuk meyakinkan pendengar.
  3. Kampanye, adalah berbicara di depan umum untuk kelompok orang tertentu (partai) dengan tujuan mempengaruhi massa dan biasa dilakukan untuk memperkenalkan tokoh-tokoh tertentu atau menyampaikan program tertentu.
  4. Penerangan, adalah berbicara di muka umum untuk menjelaskan sesuatu, misalnya program, permaslahan, pembangunan dan lain sebagainya.
  5. Agitasi, adalah berbicara di depan umum dengan tujuan untuk membakar semangat massa.
  6. Orasi ilmiah, adalah berbicara di depan umum pada forum-forum tertentu untuk menyamapaikan ilmu pengetahuan.

===========
Oleh:
ariesrutung95

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA