Anak Pantai : Morfologi BI

Pemilihan kata dan tujuannya dalam Bahasa Indonesia - Balai Bahasa Papua

Orang yang menyatakan pikiran atau gagasannya dengan bahasa, baik secara lisan maupun secara tertulis, biasanya menimbang-nimbang kata apa yang sebaiknya digunakan. Hasilnya tampak pada bahasa yang digunakan orang itu. Jika gagasan orang dapat dipahami dengan cepat dan tepat, dapat dikatakan pilihan kata orang itu baik. Pilihan kata juga dapat menimbulkan kesan tertentu tentang pemakainya, misalnya apakah orang itu suka berkelakar, memiliki tenggang rasa, atau bersikap ragu-ragu. Oleh karena itu, yang pertama-tama harus diperhatikan dalam pilihan kata adalah arti atau maknanya.

Diksi bisa diartikan sebagai pilihan kata pengarang untuk menggambarkan sebuah cerita. Diksi bukan hanya berarti pilih memilih kata melainkan digunakan untuk menyatakan gagasan atau menceritakan peristiwa tetapi juga meliputi persoalan gaya bahasa, ungkapan-ungkapan dan sebagainya. Gaya bahasa sebagai bagian dari diksi yang bertalian dengan ungkapan-unkapan individu atau karakteristik, atau memiliki nilai artistik yang tinggi.

Diksi dalam arti aslinya dan pertama, merujuk pada pemilihan kata dan gaya ekspresi oleh penulis atau pembicara. Arti kedua “diksi” yang lebih umum digambarkan dengan enunsiasi kata seni berbicara jelas sehingga setiap kata dapat didengar dan dipahami hingga kompleksitas dan ekstrimitas terjauhnya. Arti kedua ini membicarakan pengucapan dan intonasi daripada pemilihan kata dan gaya. Bentuk kata yang sama mempunyai arti yang lain dalam konteks yang berbeda. Contohnya seperti berikut ini.
  • Amir membersihkan kaki tangannya yang kotor. Kata kaki tangan pada kalimat di atas berarti anggota tubuh yang dapat dipakai untuk berjalan dan untuk memegang sesuatu.
Kata kaki tangan pada kalimat berikut ini berbeda artinya.
  • Kaki tangan gembong perampok itu juga sudah ditangkap. Kata kaki tangan pada kalimatini berarti ‘pembantu’ atau ‘anak buah’.
Informasi yang sama dapat disampaikan dengan cara yang berbeda. Penyampaian informasi dilakukan dengan cara tertentu, antara lain dengan mempertimbangkan siapa penerima informasi itu. Jika tidak, dapat terjadi informasi itu tidak tertangkap dengan baik. Sekadar contoh, andaikan sebuah cerita anak-anak terdapat terjemahan teks yang harfiah yang menggambarkan peristiwa kecelakaan, seorang polisi meminta penjelasan kepada pengendara mobil yang menabrak toko dengan kalimat berikut.
  • Engkau harus punya penjelasan terhadap kejadian ini, Pak. Kalimat ini kiranya terasa aneh bagi anak-anak.
Bandingkan kalimat di atas dengan dua kalimat berikut ini.
  • Bapak harus menjelaskan semua ini.
  • Mengapa bisa terjadi seperti ini, Pak?
Contoh di atas kiranya dapat memberikan gambaran sekilas tentang pengertian pilihan kata dan cara pemilihan kata.
Tujuan Pemilihan Kata
Tujuan pilihan kata, selain mempercermat pengungkapan gagasan, juga menjadikan bahasa  yang digunakan lebih hidup, menarik, dan juga tidak membosankan, serta agar kalimat yang disusun dapat dicerna dan dipahami pembaca atau  pendengarnya dengan baik. Perhatikan kalimat berikut.
  • Pembangunan pasar yang akan menelan biaya sekitar lima miliar rupiah itu mulai dibangun tahun depan.
Pada kalimat di atas terdapat kejanggalan. Kalau disederhanakan, kalimat itu menjadi:
  • Pembangunan pasar dibangun tahun depan.
Kita dapat menyatakan membangun pasar, bukan membangun pembangunan pasar. Oleh karena itu, kata dibangun kita ganti dengan dilaksanakan atau dimulai. Jadi kalimat di atas dapat diperbaiki menjadi seperti dua kalimat berikut ini.
  • Pembangunan pasar yang akan menelan biaya sekitar lima miliar rupiah itu mulai dilaksanakan tahun depan.
  • Pembangunan pasar yang akan menelan biaya sekitar lima miliar rupiah itu dimulai tahun depan.
Pengulangan bentuk yang bermiripan secara terus-menerus, selain membosankan, juga kadang-kadang menjadi berlebihan dan tidak diperlukan. Contohnya pada kalimat berikut ini.
  • Perjuangan para pahlawan yang berjuang melawan penjajah patut kita kenang dan kita hargai. Kalimat ini dapat diubah menjadi kalimat-kalimat berikut ini.
  • Perjuangan para pahlawan melawan penjajah patut kita kenang dan kita hargai.
  • Para pahlawan yang berjuang melawan penjajah patut kita kenang dan kita hargai.
Dua kalimat baru di atas berbeda makna, tetapi lebih cermat daripada kalimat sebelumnya.

Berikut ini juga terdapat contoh penggunaan kesalahan pemilihan kata.
  • Putusan daripada pemerintah tentang jenjang kepangkatan  guru sangat membesarkan hati kaum pendidik Indonesia.
  • Itulah rumah di mana terjadinya pembunuhan yang kejam itu.
  • Ketika saya datang, dia lagi tidur.
  • Banyak surat-surat yang masuk ke kantor redaksi.

Sumber:
http://imstuff-it.blogspot.co.id/2014/10/diksi-atau-pemilihan-kata.html
Balai Bahasa Papua - Materi Seminar Penyuluhan Bahasa bagi pemangku kepentingan luar ruang

Bentuk kata dalam Bahasa Indonesia - Balai Bahasa Papua

Kata adalah kumpulan beberapa huruf yang memiliki makna tertentu. Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) kata adalah unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan suatu perasaan dan pikiran yang dapat dipakai dalam berbahasa. Dari segi bahasa kata diartikan sebagai kombinasi morfem yang dianggap sebagai bagian terkecil dari kalimat. Sedangkan morfem sendiri adalah bagian terkecil dari kata yang memiliki makna dan tidak dapat dibagi lagi ke bentuk yang lebih kecil. Berikut ini akan kita pelajari bersama Bentuk Kata dalam Bahasa Indonesia. Mari kita sama-sama membaca!


BENTUK KATA DALAM BAHASA INDONESIA

Yohanis Sanjoko
Balai Bahasa Papua
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan
Bentuk Kata
Dari segi bentuknya, kata dalam bahasa Indonesia dapat dibedakan atas kata dasar dan kata berimbuhan. Kata berimbuhan adalah kata yang dibentuk dari kata dasar dan imbuhan. Proses pembentukan kata dalam bahasa Indonesia berupa (1) pengimbuhan, (2) pengulangan, dan (3) pemajemukan. Hasil proses pembentukan kata itu secara berturut-turut disebut kata berimbuhan (kata turunan), kata ulang, dan kata majemuk.

Dalam istilah linguistik imbuhan itu disebut juga afiks. Imbuhan itu terdiri atas awalan (prefiks), misalnya berjalan, menulis, diberi; sisipan (infiks), misalnya gerigi, gemetar, atau telunjuk; akhiran (sufiks), misalnya jabatan, tulisi, dan ambilkan; dan gabungan imbuhan atau imbuhan terbagi (konfiks), misalnya kelancaran, kesalahan, dan perkelahian. Awalan melekat di awal kata, sisipan tersisip di tengah kata dasar, dan akhiran melekat di akhir kata dasar serta konfiks melekat secara bersamaan, yaitu di awal dan di akhir kata dasar.
Bentuk Kata yang Bersistem
Dalam bahasa Indonesia, pembentukan kata itu mempunyai sistem tertentu. Awalan me- atau pe-, misalnya, mempunyai dua macam bentuk, bentuk yang pertama merupakan bentuk tanpa nasal dan bentuk yang kedua adalah bentuk dengan nasal (men-, meng-, dan meny-). Awalan me- atau pe- tanpa nasal muncul jika dilekatkan pada bentuk dasar yang diawali huruf y, l, w, r, m, n, ny, dan ng. Misalnya:
    me- + lariskan = melariskan
    me- + mandikan = memandikan
    me- + nasihati = menasihati
    me- + nyanyikan = menyanyikan
    me- + rayakan = merayakan
    me- + yakinkan = meyakinkan
    me- + wariskan = mewariskan
    me- + ngangakan = mengangakan      
Dalam kenyataan berbahasa, bentukan yang menyalahi sistem adalah bentuk penglaris dan pengrajin. Kedua bentuk kata ini salah dan harus disunting menjadi pelaris dan perajin. Jadi, bentuk penglaris dan pengrajin itu menyalahi kaidah karena kedua dasar itu diawali huruf l dan r (tidak terjadi persengauan).

Yang kedua, awalan me- jika dilekatkan pada kata dasar yang diawali fonem a, i, u, e, o, k, h, dan kh bentuknya berubah menjadi meng-. Misalnya:
    me- + angkat = mengangkat    
    me- + esakan = mengesakan
    me- + ikat = mengikat       
    me- + kukuhkan = mengukuhkan
    me- + ukir = mengukir        
    me- + goda = menggoda
    me- + elak = mengelak        
    me- + khawatir = mengkhawatirkan
    me- + olah = mengolah        
    me- + hirup = menghirup
     
Dengan demikian, bentuk yang kedua ini tidak ada masalah. Walaupun demikian, kaidah pembentukan kata yang perlu mendapat perhatian adalah jika fonem awal kata dasarnya dimulai dengan konsonan k, p, t, s jika mendapat awalan me- atau pe-, konsonan awal kata dasar itu menjadi luluh. Misalnya:
    me- + kait = mengaitkan       
    me- + saran = menyarankan
    me- + pukul = memukul        
    me- + tayangkan = menayangkan
       
Sehubungan dengan kaidah di atas, dalam pembentukan kata, kita harus taat asas (konsisten). Kita harus mengikuti sistem yang ada, misalnya bentuk kait-mengkait, mengkikis, mengkoreksi, mensukseskan, mentayangkan, menterjemahkan, dan mentaati menyimpang dari sistem yang ada karena kata dasar yang diawali konsonan k, p, s, t, jika mendapat me- atau pe- (nasal), harus luluh. Oleh karena itu, bentuk yang benar adalah kait-mengait, mengikis, mengoreksi, menyukseskan, menayangkan, menerjemahkan,dan menaati. Namun, dalam praktik berbahasa, bentuk-bentuk yang menyimpang itu selalu muncul. Kita sebagai penyunting tidak dapat membiarkan bentuk yang menyimpang itu dan harus kita luruskan. Kadang-kadang bentuk yang seharusnya tidak luluh malah diluluhkan. Oleh karena itu, dalam tulisan tidak jarang kita jumpai bentuk menyukuri dan mengawatirkan. Bentuk seperti itu tidak sesuai dengan kaidah karena konsonan sy dan kh tidak pernah luluh jika mendapat awalan me-. Bentuk yang benar adalah mensyukuri dan mengkhawatirkan. Namun, ada bentuk yang seharusnya perlu dibedakan dengan tidak meluluhkan konsonan k di awal kata dasar. Peluluhan itu tidak terjadi karena untuk membedakan makna tertentu. Awalan me- pada kata kaji, misalnya, melahirkan bentuk mengaji (membaca dan mempelajari Alquran secara mendalam) dan mengkaji (mempelajari atau menelaah secara mendalam bidang ilmu tertentu). Jadi, bentuk kata mengkaji dipakai untuk bidang ilmu tertentu yang umum dan mengaji untuk membaca atau mempelajari Alquran (lebih khusus). Kedua bentuk itu (mengaji dan mengkaji) dapat dipakai dan kedua bentuk itu baku. Akan tetapi, pemakaian bentuk mengkaji (pengkajian) pada kalimat (1.1) berikut ini tidak betul.
(1.1)  Tadi malam diadakan pengkajian dan tahlilan di rumah seorang menteri.
Pemakaian kata mengkaji pada kalimat (1.1) tidak tepat karena yang dimaksud adalah membaca Alquran. Bentuk yang tepat dipakai adalah pengajian bukan pengkajian.
Sehubungan dengan uraian pembentukan kata tersebut di atas, bentuk ngebut dan ngopi bukanlah bentuk yang baku. Bentuk itu sebenarnya diturunkan dari bentuk me- + kebut dan me- + kopi. Oleh karena itu, sesuai dengan kaidah pembentuk kata, bentuk me- + kebut dan me- + kopi seharusnya menjadi mengebut atau mengopi.

Kata dasar yang konsonan awalnya c, seperti curi, colok, cinta, dan cubit jika mendapat awalan me- konsonan c pada awal kata itu tidak luluh. Oleh karena itu, bentuk menyuri, menyolok, menyintai, dan menyubit bukanlah bentuk yang baku. Bentuk yang benar adalah mencuri, mencolok (pada mencolok mata), mencintai, dan mencubit.

Ketaatasasan dalam berbahasa memang diperlukan agar pemakai bahasa mempunyai pegangan atau acuan berbahasa. Sebagaimana kita ketahui, orang awam berbahasa tidak berdasarkan kaidah, tetapi berdasarkan contoh dari pemakai bahasa yang lain. Oleh karena itu, ketidakseragaman dalam penerapan kaidah bahasa, misalnya suatu kali kita menuliskan menayangkan dan pada kesempatan lain kita menuliskan mentayangkan, tentu dapat membingungkan pemakai bahasa. Berkaitan dengan itu, kata-kata yang berasal dari bahasa asing memang masih diperlakukan berbeda-beda bergantung kepada kekerapan dan lamanya kata itu kita pakai. Misalnya, jika suatu kata dirasakan masih baru, proses peluluhannya belum berlaku. Artinya, kaidah peluluhan seperti yang terdapat dalam bahasa Indonesia belum diterapkan sepenuhnya. Akan tetapi, jika sudah kita anggap kata Indonesia, kata itu diperlakukan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Sekarang ini sudah banyak kata asing yang masuk ke dalam bahasa Indonesia dengan berbagai gugus konsonannya, seperti stabil, produksi, klasifikasi, trasnfer, protes, dan kritik. Jika kata itu dibentuk dalam bahasa Indonesia, gugus konsonan yang terdapat di awal kata itu tidak luluh. Jadi,
me- + produksi = memproduksi    
me- + transfer = mentransfer
me- + klasifikasi = mengklasifikasi   
me- + stabil+ -kan = menstabilkan

Dalam bahasa Indonesia terdapat kata dasar yang hanya terdiri atas satu suku kata. Kata dasar yang terdiri atas satu suku ini, jika mendapat awalan me-, bentuknya berubah menjadi menge-, seperti tampak pada contoh berikut ini.
    me- + tik = mengetik bukan mentik   
    me- + rem = mengerem bukan merem
    me- + lap = mengelap bukan melap   
    me- + lem = mengelem bukan melem
    me- + cek = mengecek bukan mencek   
    me- + cat = mengecat bukan mencat
    me- + pel = mengepel bukan mempel   
    me- + las = mengelas bukan melas
    me- + bom = mengebom bukan membom

Yang berikutnya yang perlu kita ketahui adalah penulisan bentuk ulang. Bentuk ulang ditulis penuh dengan membubuhkan tanda hubung di antara kedua kata ulang itu, misalnya kuda-kuda, rumah-rumah. Kata ulang yang berimbuhan kaidahnya adalah pengulangan bentuk turunan yang kata dasarnya tidak menglami peluluhan hanya dengan mengulang kata dasarnya kembali, misalnya mengaduk-aduk, mengulang-ulang, mengacak-acak bukan mengaduk-ngaduk, mengulang-ngulang, atau mengacak-ngacak. Akan tetapi, jika kata dasarnya mengalami peluluhan, bentuk pengulangannya juga mengalami peluluhan, misalnya menulis-nulis, mengantuk-ngantuk bukan menulis-tulis, mengantuk-kantuk.

Sumber:
Materi Penyuluhan Bahasa Indonesia, Balai Bahasa Papua, Badan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Proses Morfologi Bahasa Indonesia

Proses morfologis pada dasarnya adalah proses pembentukan kata dari sebuah bentuk kata dasar melalui pembubuhan afiks, pengulangan, penggabungan, pemendekan, dan pengubahan status (Chaer, 1998:25). Proses morfologis adalah suatu proses pembentukan kata dengan cara menghubungkan satu morfem dengan morfem yang lain atau proses yang mengubah leksem menjadi sebuah kata.
 
PROSES MORFOLOGI DALAM BAHASA INDONESIA


Siprianus Aris
Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia - FKIP - Universitas Papua
Pos-el: ariessipriano@gmail.com



Jenis Proses Morfologi 
Pengafiksan
Pengafiksan adalah proses pembentukan kata dengan menambahkan afiks (imbuhan) pada bentuk dasar, baik bentuk dasar tunggal maupun kompleks. Afik dalam bahasa indonesia dapat berupa prefiks atau awalan, sufik atau akhiran, infiks atau sisipan, dan konfiks/simulfiks (awalan dan akhiran) atau oleh J. S. Badudu menyebutnya morfem terbagi.
Afiks merupakan unsur yang ditempelkan dalam pembentukan kata dan dalam linguistik afiksasi bukan merupakan pokok kata melainkan pembentuk pokok kata yang baru. Sehingga para ahli bahasa merumuskan bahwa, afiks merupakan bentuk terikat yang dapat ditambahkan pada awal, akhir maupun tengah kata.
  1. Prefiks
    Prefiks adalah imbuhan yang ditambahkan pada bagian awal sebuah kata dasar yang sering disebut awalan. Jenis prefiks antara lain meN-, di-, ber-, ter-, ke-, per-, se-, dan peN-. Contoh prefiks dalam kata BI antara lain: ber- (ber+serta, ber+kerja, ber+uang, ber+janji, ber+buah, ber+runding); se- (se+luas, se+lebar, se+rumah, se+lama, se+belum, se+telah); peN- (peN+tanya, peN+ambil, peN+makan, peN+waris, peN+latih); di- (di+tagkap, di+curi, di+lamar, di+paksa, di-cabut); meN- (meN+dapat, meN+larang, meN+konsumsi, meN+kalah, meN+ambil); ter- (ter+angkat, ter+kejut, ter+jadi, ter+ulang, ter+rawat, ter+rasa, ter+rendam); ke- (ke+luar); per- (per+riang, per+tanda, per+angkat, per+rusak).
  2. Sufiks
    Sufiks adalah afiks yang ditambahkan pada bagian belakang kata dasar, atau morfem terikat yang yang diletakkan di belakang suatu bentuk dasar dalam membentuk kata. Contoh sufiks dalam BI adalah -i, -an, dan -kan. Dalam bahasa sansekerta ada sufiks -wan, -ma, wati. Sufiks dalam bahasa asing seperti -ir, -is, -isme, -asi, -isasi, -si, -il, -al, -if, -ik, -ika, -er, -or, -an, -um, -us, -si, -ing, dan lain-lain. Contoh kata asing: demonstrasi, standarisasi, produksi, produsen, produser, produsir, direktur, direksi, direktorium, dsb. Contoh sufiks dalam kata BI, antara lain: -an (darat+an, hukum+an, maki+an, ribu+an, larang+an, laut-an); -i (garam+i, menembak-i, tabur+i, siram+i, basuh+i); -kan (buka+kan, keluar+kan, masuk+kan, naik+kan, tarik+kan, laku+kan, beri+kan, misal+kan, terus+kan).
  3. Infiks
    Infiks adalah morfem yang disisipkan atau diselipkan di tengah kata dasar (sisipan). Contoh infiks dalam BI antara lain -el-, -er-, -em-, dan -in-. Contoh dalam kata bahasa indonesia antara lain -er- (gigi+ (-er-), sabut+ (-er-), suling+ (-er-), cerita+ (-er-)); -el- (tunjuk+ (-el-), gembung + (-el-), luhur+ (-el-); tapak+ (-el-); maju+ (-el-)); -em- (guruh+ (-em-); jari+ (-em-); kilau+ (-em-); tali+ (-em-); turun+ (-em-)); -in- (kerja+(-in), sambung+(-in-)).
  4. Konfiks dan Kombinasi Imbuhan
    Konfiks adalah dua afiks yang merupakan satu kesatuan. Contoh konfiks dalam bahasa indonesia adalah ke-an, peN-an, per-an, dan ber-an. Contoh kata berkonfiks antara lain: kecamatan, kelautan, keburukan, keadilan, pendudukan, pendinginan, pembukuan, persekutuan, perseteruan, perdamaian, berserakan, bertebaran, berdesakan.
  5. Simulfiks adalah afiks yang bergabung menjadi satu secara bertahap. Contoh simulfiks dalam BI adalah men-kan, meN-i, memper-kan, memper-i, ber-kan, ter-kan, per-kan, dan se-nya. Contoh simulfiks dalam kata antara lain: mendengarkan, membicarakan, membacakan, menuliskan, memberikan, membacai, menulisi, mencubiti, menciumi, memperdengarkan, mempertontonkan, mempersilakan, mempersenjatai, memperbaharu, bersekutukan, beralaskan, bersenjatakan, terjatuhkan, terjemahkan, terabaikan, pertukarkan, pertaruhkan, persuamikan, seindah-indahnya, secantik-cantiknya, dan sejelek-jeleknya.
Reduplikasi
Reduplikasi adalah proses pembentukan kata melalui pengulangan bentuk dasar melalui berbagai cara. Tidak semua kata ulang masuk dalam jenis reduplikasi yang merupakan proses morfologi. Ada beberapa jenis reduplikasi dalam bahasa indonesia antara lain: reduplikasi seluruh, reduplikasi sebagian, dan reduplikasi perubahan fonem.
  1. Reduplikasi seluruh adalah bentuk ulang dengan cara mengulang seluruh bunyi tanpa adanya perubahan sama sekali. Contoh dalam kata masjid-masjid, gereja-gereja, kata-kata, sama-sama.
  2. Reduplikasi sebagian adalah bentuk dasar nya morfem kompleks atau berimbuhan sedangkan yang diulang bentuk dasarnya atau sebalinya. Contoh dalam kata menendang-nendang, menolong-nolong, membaca-baca, tulis-menulis, membuka-buka, bersiul-siul dan lain sebagainya.
  3. Reduplikasi perubahan fonem adalah bentuk pengulangan yang sebenarnya penuh tetapi terdapat bunyi yang berbeda. Contoh dalam kata lauk-pauk, gerak-gerik, bolak-balik, sayur-mayur, mondar-mandir, dan lain sebagainya.
Komposisi
Komposisi adalah proses morfologi dengan cara menggabungkan dua morfem dan membentuk satu kesatuan makna. Ciri-cirinya adalah hubungan unsur pembentuknya rapat, unsur pembentuknya tidak dapat dipertukarkan, dan salah satu atau semua unsurnya merupakan pokok kata. Contoh dalam kata kamar mandi, kambing hitam, rumah sakit, kaki tangan, orang tua, kepala batu, besar kepala, mata pelajaran, dan lain sebagainya.

Abreviasi
Abreviasi atau pemendekan adalah proses morfologis dengan cara menanggalkan satu atau sebagian morfem sehingga menjadi bentuk baru yang mempunyai status kata. Dalam bahasa indonesia, abreviasi dibagi menjadi beberapa jenis, diantaranya adalah pemenggalan, kontraksi, akronim, singkatan, lambang huruf, perubahan interen, dan pergeseran katagori.
  1. Pemenggalan adalah  pembentukan kata melalui suku kata melalui suku dari suatu morfem yang biasanya muncul dalam bahasa lisan. Contoh dalam kata Bu, Pak, dok, Kak, Dik, dan lain sebagainya.
  2. Kontraksi adalah proses pembentukan kata dengan cara meringkas morfem dasar atau gabungan morfem. Contoh dalam kata tak, takkan, begini, begitu, kenapa, kan, mas, dan lain sebagainya.
  3. Akronim adalah proses pembentukan kata melalui penggabungan huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis atau dilafalkan sebagai kata dan biasanya diapakai sebagai hiburan. Contoh dalam kata kutilangdarat, sikontol, simatupang, manula, balita, batita, dubes dan lain sebagainya.
  4. Singkatan adalah proses pembentukan kata melalui pemendekan berupa huruf. Pelafalan dieja huruf demi huruf atau diucapkan kepanjangannya. Contoh dalam kata MPR, DPA, S.Pd, SMA, km, dll, dsb, dan lain sebagainya.
  5. Lambang huruf adalah adalah proses pembentukan kata yang menghasilkan satu huruf atau lebih yang menggambarkan konsep, kunatitas, satuan, atau unsur. Contoh dalam kata gr, cm, c, l, dan lain sebagainya.
  6. Perubahan interen adalah proses pembentukan kata melalui perubahan vokal atau konsonan yang terdapat dalam morfem dasar. Contoh dalam kata dewa-dewi, pemuda-pemudi, saudara-saudari, karyawan-karyawati, direktur-direktris, dan lain sebagainya.
  7. Pergeseran kategori adalah pergeseran kelas kata sebagai akibat adanya proses morfologi. Suatu morfem yang awalnya tergolong kelas kata benda akibat proses morfologi menjadi kelas kata kerja. Contoh dalam kata batu-membatu, besar-membesar, kuning-menguining, makan-makanan, minum-minuman, kerja-kinerja dan lain sebagainya. 

REFERENSI
Budiman, Sumiati. 1987. Sari Tata Bahasa Indonesia. Klaten: PT. Intan Pariwara.
Alwi, Hasan, dkk. 2000. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta
Finoza, Lamuddin. 2006. Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta: Diksi Insan Mulia
Keraf, Gorys. 1993. Komposisi. Flores: Nusa Indah
Verharr, J.W.M. 2008. Asas-asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Chaer, Abdul. 2012. Linguistik Umum. Jakarta: Rineke Cipta
Arifin, Zaenal dan Junaiyah. 2007. Morfologi: Bentuk, Makna, dan Fungsi. Jakarta: Gramedia
Ariyanto. 2009. Linguistik Indonesia I: Morfologi Bahasa Indonesia. Yogyakarta: UGM Press.
Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Ramlan, M. 2009.  Ilmu Bahasa Indonesia, Morfologi. Yogyakarta: C.V. Karyono.
---------- 1987. Morfologi: Suatu Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta: CV. Karyono

Morfem Bahasa Indonesia - Pertemuan Ke-5

Selamat siang sahabat Anak Pantai. Jumpa lagi dengan dengan materi tentang Morfologi Bahasa Indonesia dalam bentuk Power Point. Silahkan didownload jika membutuhkan. Terima Kasih...



Fonem Bahasa Indonesia - Universtias Papua

Mungkin semua orang mampu dan terampil berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia, namun tidak semua orang megerti tentang bahasa indonesia, bagaimana struktur bahasa indonesia, dan bagaimana bahasa indonesia itu dibentuk.Dalam bahasa indonesia kita mengenal istilah fonem. Apa itu fonem? Apa saja jenis dari fonem itu? Mari kita simak dalam pembahasan berikut ini!


FONEM BAHASA INDONESIA
Siprianus Aris
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan – FKIP – Universitas Papua
Pos-el: ariessipriano@gmail.com


Pengertian Fonem secara umum
Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang dapat membedakan arti. Ilmu yang mempelajari tentang fonem disebut fonemik. Fonemik merupakan bagian dari fonologi. Fonologi ini khusus mempelajari bunyi bahasa. Untuk mengetahui suatu fonem harus diperlukan pasangan minimal, maksudnya pasangan yang harus ada untuk dapat mengetahui tentang fonem tersebut. Contohnya dalam kata parah dengan arah. Dalam contoh tersebut /p/ adalah fonem karena membedakan arti kata parah (keadaan yang sangat sulit) dengan arah (tujuan atau maksud).

Jenis-jenis fonem dalam Bahasa Indonesia
Fonem dalam bahasa Indonesia terdiri atas fonem vokal (huruf hidup) dan fonem konsonan (huruf mati). Berikut penjelasan dari keduanya.

Vokal
Vokal adalah bunyi ujaran yang tidak mendapatkan rintangan pada alat ucap saat dikeluarkan dari paru-paru. Tidak terjadi kontak antara alat-alat ucap. Vokal dibagi menjadi dua, yaitu vokal tunggal (monoftong) yaitu vokal yang hanya terdiri atas satu fonem saja yang meliputi a, i, u, e, o dan vokal rangkap (diftong) yaitu gabungan dari dua vokal yang menyatu, yang meliputi ai, au, oi.

Konsonan
Konsonan adalah bunyi ujaran yang dihasilkan dari paru-paru dan mengalami rintangan saat keluarnya. Contoh konsonan dalam bahasa indonesia antara lain b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z. Dalam fonem konsonan, kita juga mengenal yang namanya konsonan rangkap atau yang disebut kluster. Contoh kluster pada kata drama, tradisi, film, modern.

Perubahan Fonem
Perubahan fonem bahasa Indonesia bisa terjadi karena pengucapan bunyi ujaran memiliki pengaruh timbal balik antara fonem yang satu dengan   yang   lain.   Macam-macam   perubahan   fonem   antara   lain akan dijelaskan di bawah ini.
  1. Alofon adalah variasi fonem karena pengaruh lingkungan suku kata. Contoh : simpul-simpulan. Fonem /u/ pada kata [simpul] berada pada lingkungan suku tertutup dan fonem /u/ pada kata [simpulan] berada pada lingkungan suku terbuka. Jadi, fonem /u/ mempunyai dua alofon, yaitu [u] dan (u).
  2. Asimilasi adalah proses perubahan bunyi dari tidak sama menjadi sama atau hampir sama. Contoh: in + moral? immoral? imoral.
  3. Desimilasi adalah proses perubahan bunyi yang sama menjadi tidak sama. Contoh : sajjana menjadi sarjana.
  4. Diftongisasi adalah perubahan monoftong menjadi diftong. Contoh: anggota menjadi anggauta.
  5. Monoftongisasi   adalah   proses   perubahan   diftong   menjadi monoftong. Contoh: ramai, menjadi rame.
  6. Nasalisasi adalah persengauan atau proses memasukkan huruf nasal (n, m, ng, ny) pada suatu fonem. Contoh : me/m/ pukul menjadi memukul.
Membedakan Fonem Bahasa Indonesia
Secara umum bunyi bahasa dibedakan atas vokal, konsonan, dan semi- vokal. Perbedaan antara vokal dan konsonan didasarkan pada ada atau tidaknya hambatan (proses artikulasi) pada alat bicara. Agar lebih jelas, Anda dapat melihat tabel berikut.
  1. Vokal
    Bunyi   yang   tidak   disertai hambatan   pada   alat   bicara.
    Hambatan   hanya   terdapat pada pita suara. Tidak terdapat artikulasi Semua vocal dihasilkan dengan bergetarnya      pita  suara.  Dengan     demikian, semua   vokal   adalah   bunyi suara.                                   

  2. Konsonan
    Bunyi yang dibentuk dengan menghambat arus udara pada sebagian alat bicara. Terdapat artikulasi. Konsonan   bersuara   adalah konsonan   yang   dihasilkan dengan      bergetarnya      pita suara. Konsonan   tidak   bersuara   adalah   konsonan   yang dihasilkan tanpa bergetarnya pita suara.

Proses morfofonemis dalam kata Bahasa Indonesia dan Bahasa Manggarai


Selamat berjumpa kembali di artikel ini sahabat Anak Pantai. Pada Artikel ini kita akan membahas tentang proses morfofonemis dalam kata bahasa Indonesia dan Bahasa Manggarai. Terutama perubahan makna pada kata yang terjadi akibat proses morfofonemis. Selamat membaca atau Copas!


PROSES MORFOFONEMIS DALAM KATA BAHASA INDONESIA DAN BAHASA MANGGARAI


Siprianus Aris
Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNIPA - Manokwari
Pos-el: ariessipriano@gmail.com


PENDAHULUAN
Dalam bahasa indonesia, kita mengenal kajian tentang bunyi, kata dan pembentukan kata, frasa, klausa, dan juga kalimat. Hal yang sama juga berlaku pada bahasa daerah atau yang lebih dikenal dengan istilah bahasa ibu. Kajian tentang bunyi, kata dan pembentukan kata, gabungan dua kata atau lebih, satuan gramatikal yang berupa kelompok kata, atau bahkan sesuatu yang lebih kompleks yaitu kalimat mempunyai bidangnya masing-masing yang membahas secara khusus dan saling berhubungan. Dalam mempelajari cabang ilmu bahasa morfologi misalnya. Di dalam cabang ilmu bahasa morfologi, yang dibahas bukan hanya tentang kata dan bentuk kata, namun juga keterkaitannya dengan cabang ilmu bahasa fonologi.

Keterkaitan keduanya dapat kita lihat pada pada proses yang kita kenal dengan istilah morfofonemik, atau morfofonologi,  atau morfonemik atau morfonologi yang secara umum membahas tentang perubahan bunyi akibat adanya pengelompokkan morfem. Morfofonologi merupakan gabungan dari dua bidang studi yaitu morfologi dan fonologi, atau morfologi dan fonemik. Meskipun biasanya dibahas dalam tataran morfologi, tetapi sebenarnya lebih banyak menyangkut masalah fonologi. Kajian ini tidak dibicarakan dalam tataran fonologi karena masalahnya baru muncul dalam kajian morfologi, terutama dalam proses afiksasi, reduplikasi, dan komposisi. Masalah morfofonemik ini terdapat hampir pada semua bahasa yang mengenal proses-proses morfologis.

Hubungan antara morfologi dengan fonologi dibahas secara khusus dalam sebuah kajian morfofonemis. Proses morfofonemik  membahas tentang penambahan fonem, hilangnya fonem, dan berubahnya fonem dalam sebuah kata. Artikel ini membahas tentang kajian morfofonemis dalam kata Bahasa Manggarai dan kata Bahasa Indonesia, dimana didalamnya mengkaji tentang fonem sebagai pembeda makna dan proses fonetis dari fonem yang ditentukan. Proses fonetis yang dimaksudkan adalah cara kerja dari alat ucap atau cara alat ucap (artikulator dan titik artikulasi) menghasilkan bunyi-bunyi fonem baik itu fonem vokal maupun fonem konsonan.

Artikel ini membahas tentang proses morfofonemis dalam kata bahasa Indonesia yaitu kata parang dan barang, sudah dan ludah, dalam dan malam dan proses morfofonemis dalam kata bahasa Manggarai yaitu pada kata kawe “cari” dan lawe “sumbu”, pau “mangga” dan wau “bau”, jitong “burung rajawali”  dan titong “didik”, dan kasa “pohon asam”  dan kala “sirih”  serta proses fonetis dari masing-masing morfem. Artikel ini bertujuan menjelaskan tentang proses morfofonemis dalam kata bahasa Indonesia dan kata bahasa Manggarai, mengetahui bagaimana proses fonetis dari setiap morfem yang dijadikan sebagai pembeda makna serta terminologi dari setiap proses fonetis, dan mengetahui bentuk-bentuk proses morfofonemis.


LANDASAN TEORI
Pengertian Morfofonemik
Morfofonemik adalah cabang linguistik yang mempelajari perubahan  bunyi diakibatkan adanya pengelompokkan morfem. Proses morfofonemik adalah peristiwa fonologis yang terjadi karena pertemuan morfem dengan morfem. Proses morfonemik dalam bahasa Indonesia hanya terjadi dalam pertemuan realisasi morfem dasar (morfem) dengan realisasi afiks (morfem), baik prefiks, sufiks, infiks, maupun konfiks (Kridalaksana, 2007:183).

Ada beberapa proses morfofonemik dilihat dari sifat pembentukannya. Menurut Harimurti Kridalaksana, proses morfofonemik terjadi atas 10 (sepuluh) yaitu pemunculan fonem, pengekalan fonem, pemunculan dan pengekanan fonen, pergeseran fonem, perubahan dan pergeseran fonem, pelepasan fonem, peluluhan fonem, penyisipan fonem secara historis, pemunculan fonem berdasarkan pola asing, dan ariasi fonem bahasa sumber. Namun yang menjadi fokus pembahasan pada artikel ini adalah proses perubahan dan pergeseran fonem dalam sebuah kata. Fonem yang berubah yang menyebabkan makna kata berubah dari bentuk awalnya.

Proses Morfofonemis
Proses morfofonemik adalah proses berubahnya suatu fonem menjadi fonem lain sesuai dengan fonem awal kata yang bersangkutan. Berikut ini akan dijelaskan proses morfofonemis dalam kata Bahasa Indonesia dan Bahasa Manggarai.

Proses Morfofonemis Dalam Kata Bahasa Indonesia
Kata parang dan barang
Kata parang bermakna pisau besar (lebih besar daripada pisau biasa, tetapi lebih pendek darpada pedang) dan kata barang bermakna benda umum (segala sesuatu yg berwujud atau berjasad) dibedakan oleh fonem konsonan /p/ dan fonem konsonan /b/ yang berada di awal kata sehingga mengubah makna kata yang diperoleh. Proses fonetis dari kedua fonem tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Fonem konsonan /p/ disebut sebagai konsonan bilabial karena fonem ini dihasilkan melalui pertemuan antara kedua belah bibir baik bibir atas sebagai titik artikulasi maupun bibir bawah sebagai artikulator. Dalam proses menghasilkan fonem konsonan /p/ ini, udara tidak dihambat sehingga menghasilkan suara.
  2. Fonem konsonan /b/ merupakan konsonan bilabial yang prosesnya sama dengan fonem konsonan /p/ yaitu konsonan yang terbentuk oleh pertemuan antara 2 bibir baik sebagai artikulator maupun titik artikulasi.
Kata sudah dan ludah
Perbedaan makna pada kata sudah dan ludah disebabkan oleh fonem konsonan /s/ dan /l/ yang ditempatkan pada awal kata dari kedua kata tersebut.  Kata sudah bermakna telah jadi, telah selesai dan kata ludah yang berarti air yang keluar dari mulut. Proses fonetis dari kedua fonem konsonan tersebut di atas adalah sebagai berikut:
  1. Fonem konsonan /s/ merupakan konsonan apiko-alveolar, yaitu konsonan yang dihasilkan oleh ujung lidah sebagai artikulator aktif dan langit-langit keras sebagai artikulator pasif atau titik artikulasi. Dalam proses menghasilkan fonem konsonan /s/ artikulator mengeluarkan suara.
  2. Fonem konsonan /l/ merupakan konsonan apiko-alveolar, sama seperti fonem konsonan /s/ di atas, yaitu fonem konsonan yang dihasilkan oleh ujung lidah sebagai artikulator aktif dan langit-langit keras sebagai artikulator pasif atau titik artikulasi. Dalam proses menghasilkan fonem konsonan /s/ artikulator mengeluarkan suara.
Kata juang dan ruang
Perbedaan makna pada kata juang dan ruang disebabkan oleh fonem konsonan /j/ dan /r/ yang ditempatkan pada awal kata dari kedua kata tersebut.  Kata juang bermakna usaha dengan tenaga dan kata ruang yang berarti tempat segala yang ada. Proses fonetis dari kedua fonem konsonan tersebut di atas adalah sebagai berikut:
  1. Fonem konsonan /j/ merupakan konsonan hambat letup dimana terjadi hambatan penuh arus udara yang kemudian dilepaskan secara tiba-tiba. Fonem konsonan /j/ masuk dalam kategori fonem letup medio-palatal karena dihasilkan oleh bagian tengah lidah sebagai artikulator dan langit-langit keras sebagai titik artikulasi. Dalam proses menghasilkan fonem konsonan /j/ artikulator mengeluarkan suara.
  2. Fonem konsonan /r/ merupakan konsonan getar yang dibentuk dengan menghambat jalan arus udara yang diembuskan dari paru-paru secara berulang-ulang dan cepat yang dikenal dengan istilah apiko-alveolar. Konsonan ini terjadi jika artikulator aktif yang menyebabkan proses menggetar adalah ujung lidah dan artikulator pasifnya (titik-artikulasi) adalah gusi.
Kata masalah dan makalah
Perbedaan makna dari kata masalah dan makalah disebabkan oleh perbedaan fonem konsonan ketiga dari kata tersebut (fonem konsonan /s/ dan /k/. Kata masalah mempunyai arti sesuatu yang harus diselesaikan dan kata makalah berarti karya tulis yang dijadikan sebagai laporan pelaksaan tugas oleh pelajar atau mahasiswa. Proses fonetis dari kedua fonem konsonan di atas adalah sebagai berikut:
  1. Fonem konsonan /s/ merupakan fonem geseran atau frikatif yang dibentuk dengan menyempitkan jalan arus udara yang diembuskan dari paru-paru,   sehingga   jalan   udara   terhalang   dan   keluar   dengan   bergeser. Fonem konsonan /s/  terjadi   jika artikulator aktifnya daun lidah (lidah bagian samping) dan ujung lidah sedangkan artikulator pasifnya gusi atau dikenal dengan istilah konsonan   geseran   lamino-alveolar. Meskipun udara dihambat namun tetap mengeluarkan suara.
  2. Fonem konsonan /k/ merupakan konsonan hambat   letup dimana saat proses pembentukan fonem oleh artikulator,  terjadi hambatan   penuh   arus   udara. Fonem konsonan /k/ masuk adalam jenis konsonan   hambat   letup   dorso-velar, yaitu konsonan yang terjadi   jika artikulator aktifnya pangkal lidah dan artikulator pasifnya langit- langit   lunak   (langit-langit   bawah).

Proses Morfofonemis Dalam Kata Bahasa Manggarai
Kata kawe dan lawe
Kata kawe dan lawe yang dalam bahasa indonesia diterjemahkan secara berturut-turut adalah cari dan sumbu. Perbedaan makna pada 2 (dua) kata di atas disebabkan oleh perbedaan fonem awal pada kedua kata itu. Bunyi fonem /k/ dan fonem /l/ mempunyai fungsi sebagai pembeda makna.
Sedangkan proses fonetik dari kedua fonem tersebut diuraikan sebagai berikut:
  1. Fonem konsonan /k/ dihasilkan oleh belakang lidah sebagai artikulator dang langit-langit lembut sebagai artikulasi atau biasa disebut konsonan velar dimana terjadi penghambatan udara sehingga tidak bersuara.
  2. Fonem konsonan /l/ dihasilkan oleh ujung lidah sebagai artikulator dan langit-langit keras sebagai titik artikulasi atau biasa disebut dengan istilah apiko-alveolar. Fonem konsonan yang dihasilkan tidak dihambat sehingga bersuara.

Kata pau dan wau
Kata pau “mangga” dan wau “bau” mempunyai makna yang berbeda akibat perbedaan fonem awal pada kedua kata itu. Bunyi fonem konsonan /p/ dan fonem /w/ mempunyai fungsi sebagai pembeda makna. Proses fonetik dari kedua fonem tersebut diuraikan sebagai berikut:
  1. Fonem konsonan /p/ dihasilkan dengan mempertemukan kedua belah bibir yang bersama-sama bertindak sebagai artikulator dan titik artikulasi atau disebut dengan istilah konsonan letup bilabial. Dalam pembentukan konsonan /p/ terjadi penghambatan udara namun tetap menghasilkan suara. Konsonan   ini   terjadi   jika artikulator aktifnya bibir bawah dan artikulator pasifnya (titik artikulasi) bibir atas.
  2. Fonem konsonan dan/atau semivokal /w/ dihasilkan sama seperti fonem konsonan /p/ diatas yaitu dengan mempertemukan kedua belah bibir yang bersama-sama bertindak sebagai artikulator dan titik artikulasi atau disebut dengan istilah konsonan semivokal bilabial. Dalam pembentukan konsonan dan/atau semivokal /w/ tidak terjadi penghambatan udara sehingga menghasilkan suara.
Kata jitong dan titong
Kata jitong “rajawali” dan titong “didik” mempunyai makna yang berbeda akibat perbedaan fonem konsonan awal dari masing-masing kata, yaitu fonem konsonan /j/ dan fonem konsonan /t/. Proses fonetik dari kedua konsonan tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Fonem konsonan /j/ dihasilkan oleh bagian tengah lidah sebagai artikulator dan langit-langit keras sebagai titik artikulasi sehingga udara tidak dihambat dan menghasilkan bunyi atau suara.
  2. Fonem konsonan /t/ dihasilkan dengan ujung lidah yang bertindak sebagai artikulator dan daerah antar gigi sebagai titik artikulasi (apiko-dental), tidak ada hambatan, dan bersuara.
Kata kasa dan kala
Kata kasa mempunyai arti “pohon asam” dan kala “sirih (daun, pohon, dan buahnya)” dibedakan oleh fonem konsonan ketiga dari kata-kata tersebut yaitu fonem konsonan /s/ dan /l/.
Proses fonetis dari masing-masing fonem tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Fonem konsonan /s/ merupakan fonem konsonan   geseran   lamino-alveolar.   Konsonan   ini   terjadi   jika artikulator aktifnya daun lidah (lidah bagian samping) dan ujung lidah sedangkan artikulator pasifnya gusi. Udara yang dihasilkan tidak dihambat sehingga mengeluarkan suara.
  2. Fonem konsonan /l/ dihasilkan oleh ujung lidah sebagai artikulator (artikulator aktif) dan langit-langit keras sebagai titik artikulasi (artikulator pasif). Proses ini disebut dengan istilah nasal apiko-alveolar. Fonem konsonan yang dihasilkan tidak dihambat sehingga bersuara.

PENUTUP
Kesimpulan
Pembahasan  di atas dapat disimpulkan bahwa morfofonemik/ morfonemik/morfofonologi/ morfonologi adalah perubahan-perubahan fonem yang timbul dalam pembentukan kata akibat pertemuan morfem dengan morfem yang lain. Dalam morfofonologi terdapat 2 bidang kajian yaitu fonem sebagai pembeda makna dan proses fonetis atau cara alat ucap (artikulator dan titik artikulasi) menghasilkan bunyi dari fonem bersangkutan. Baik dalam bahasa daerah Manggarai maupun bahasa Nasional Indonesia, keduanya memiliki kajian morfofonemik.

Proses fonetis terhadap fonem konsonan memiliki banyak penggolongan diantaranya (1) Konsonan Hambat Letup diantaranya bilabial (bibir atas dan bibir bawah), apiko-dental (ujung lidah dan gigi), apiko-palatal (ujung lidah dan langit-langit keras), medio-palatal (tengah lidah dan langit-langit keras), dorso-velar (belakang lidah dan langit-langit lembut), dan hamzah (bunyi hambat dengan celah pita suara tertutup); (2) Konsonan nasal (sengau/mengeluarkan udara melalui hidung), diantaranya nasal   bilabial (bibir dan bibir), nasal medio-palatal (tengah lidah dan langit-langit keras), nasal apiko-alveolar (ujung lidah dan pangkal gigi), dan nasal dorso-velar (belakang lidah dan langit-langit lembut); (3) Konsonan Geseran atau Frikatif (udara menggeser alat ucap), seperti geseran labio-dental (bibir dan gigi), geseran   lamino-alveolar, geseran dorso-velar (belakang lidah dan langit-langit lembut), dan geseran laringal (bunyi yang dihasilkan dalam laring); (4) Konsonan Getar; dan (5) Semivokal.


DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 2009. Fonologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta
http://nurhidayati0109.blogspot.co.id/2014/09/hubungan-gramatikal-fonologi-dengan.html
https://ariesrutung.blogspot.co.id/2017/09/proses-pembentukan-fonem-konsonan-oleh.html
http://nelaoktarina.blogspot.co.id/2016/12/makalah-morfofonemik.html

Baca juga:
Proses Pembentukan fonem konsonan oleh alat ucap
Istilah dalam morfologi bahasa indonesia
Morfologi Bahasa Indonesia



Proses Pembentukan Fonem Konsonan oleh Alat Ucap

Proses pembentukan konsonan merupakan cara bagaimana artikulator dan titik artikulasi (artikulator pasif dan artikulator aktif) saling berhubungan sehingga menghasilkan fonem-fonem konsonan. Sebelum kita lanjut ke pembahasan berikutnya, mari terlebih dahulu kita mengenal apa itu artikulator dan titik artikulasi.

Artikulator
Artikulator ialah alat-alat bicara manusia yang dapat bergerak secara leluasa dan dapat menyentuh bagian-bagian alat ucap yang lain (titik artikulasi) serta dapat membentuk bermacam-macam posisi. Alat ucap seperti ini terletak di bagian bawah atau rahang bawah.
Alat-alat ucap yang termasuk artikulator antara lain, bibir bawah (labium); gigi bawah (dentum); ujung lidah (apeks); depan lidah (front of the tongue); tengah lidah (lamino); belakang lidah (dorsum); dan akar lidah.

Titik Artikulasi
Titik artikulasi ialah alat-alat bicara manusia yang menjadi pusat sentuhan dan bersifat statis. Alat-alat ini terdapat pada rahang atas. Alat-alat ucap yang termasuk pada bagian ini antara lain, bibir atas (labium); gigi atas (dentum); lengkung kaki gigi atas (alveolum); langut-langit keras (palatum); langit-langit lunak (velum); dan anak tekak (uvula).

Alat-alat Ucap Lain
Alat-alat lain yang dimaksudkan ialah alat bicara selain artikulator dan titik artikulasi yang dapat menunjang proses terjadinya bunyi bahasa. Yang termasuk alat-alat lain antara lain, hidung (nose); rongga hidung (nasal cavity); rongga mulut (oral cavvity); pangkal kerongkongan (faring); katup jakun (epiglotis); pita suara; pangkal tenggorokan (laring); batang tenggorokan (trachea); paru-paru; sekat rongga dada (diafragma); saraf diafragma; selaput rongga dada (pleural cavity); dan bronchus.

Proses pembentukan konsonan berdasarkan Daerah Artikulasi, antara lain:
  1. Konsonan bilabial, yaitu konsonan yang dibentuk oleh pertemuan antara kedua belah bibir baik sebagai artikulator dan titik artikulasi. Fonem konsonan yang termasuk dalam kategori ini adalah dihasilkan ialah p, b, m, dan w.
  2. Konsonan lobiodental, yaitu konsonan yang dihasilkan dengan mempertemukan gigi atas sebagai titik artikulasi dan bibir bawah sebagai articulator, contohnya adalah fonem konsonan f dan v.
  3. Konsonan apiko-dental, yaitu konsonan yang dihasilkan dengan ujung lidah yang bertindak sebagai artikulator dan daerah antar gigi sebagai titik artikulasi, seperti fonem konsonan t, d, dan n.
  4. Konsonan apiko-alveolar, yaitu konsonan yang dihasilkan oleh ujung lidah sebagai artikulator dan langit-langit keras sebagai titik artikulasi. Fonem konsonan yang termasuk dalam jenis konsonan apiko-alveolar adalah s, z, r,  dan l.
  5. Konsonan palatal atau lamino-palatal, yaitu konsonan yang dihasilkan oleh bagian tengah lidah sebagai artikulator dan langit-langit keras sebagai titik artikulasi, fonem yang termasuk dalam jenis ini adalah c, j, dan y.
  6. Konsonan velar atau dorso-velar, yaitu konsonan yang dihasilkan oleh belakang lidah sebagai artikulator dang langit-langit lembut sebagai artikulasi. Fonem konsonan yang masuk dalam jenis ini adalah k, g, dan x.
  7. Konsonan glotal atau hamzah, yaitu konsonan yang dihasilkan dengan posisi pita suara sama sekali merapat sehingga menutup glottis.
  8. Konsonan laringal, yaitu konsonan yang dihasilkan dengan pita suara terbuka terbuka lebar sehingga udara uang keluar digesekkan melalui glottis. Yang masuk dalam jenis fonem konsonan laringal adalah fonem konsonan h.
==========
Oleh:
ariesrutung95

Tugas mata kuliah Morfologi - Beberapa istilah dalam Morfologi

morfologi-BI
Selamat berjumpa kembali sahabat, kali ini saya mau membagikan kepada kalian beberapa istilah dalam duni Morfologi (Linguistik) yang kebetulan ditugaskan oleh dosen saya sebagai ilmu tambahan. Silahkan dibaca artikelnya, atau dibagikan jika bermanfaat. Terima kasih.

Pertanyaan:
1.    Jelaskan apa itu morfologi!
2.    Jelaskan apa itu morfem!
3.    Jelaskan apa itu afiksasi!
4.    Jelaskan apa itu afiksasi!
5.    Jelaskan apa itu derivasi!

Jawaban:
  1. Morfologi adalah cabang linguistik yang mengidentifikasi satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal (tata bahasa). Morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata. Atau dapat kita katakan bahwa morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik.
  2. Morfem adalah satuan tata bahasa terkecil yang dapat membedakan makna dan atau mempunyai makna. Wujud morfem dapat berupa imbuhan, klitika, partikel dan kata dasar (misalnya –an, -lah, -kah, bawa). Sebagai kesatuan pembeda makna, semua contoh wujud morfem tersebut merupakan bentuk terkecil dalam arti tidak dapat lagi dibagi menjadi kesatuan bentuk yang lebih kecil.
    Untuk membuktikan morfem sebagai pembeda makna dapat kita lakukan dengan menghubungkan morfem itu dengan kata mempunyai makna/arti leksikal. Jika penghubungan itu menghasilkan makna baru, berarti unsur yang digabungkan dengan kata dasar itu adalah morfem. Contoh: morfem –an, di-, me-, ter, -lah jika digabungkan dengan kata makan, dapat membentuk kata-kata baru; makaan, dimakan, memakan, termakan, makanlah, kata-kata itu mempunyai makna baru dan berbeda dengan kata makan.
  3. Reduplikasi adalah proses pengulangan kata atau unsur kata. Reduplikasi juga merupakan proses penurunan kata dengan perulangan utuh maupun sebagian. Contohnya adalah "anjing-anjing", "lelaki", "sayur-mayur" dan sebagainya.
  4. Afiksasi adalah proses pembentukan kata dengan menambahkan afiks (imbuhan) pada bentuk dasar, baik bentuk dasar tunggal maupun kompleks. Misalnya mengimbuhahkan ber- pada bentuk dasar komunikasi menjadi berkomunikasi, buat menjadi berbuat, tanggungjawab menjadi bertanggungjawab, bekas menjadi berbekas. Pengimbungan meN- pada bentuk dasar coba menjadi mencoba, adu menjadi mengadu.
    Afiksasi merupakan unsur yang ditempelkan dalam pembentukan kata dan dalam linguistik afiksasi bukan merupakan pokok kata melainkan pembentukan pokok kata yang baru. Sehingga para ahli bahasa merumuskan bahwa, afiks merupakan bentuk terikat yang dapat ditambahkan pada awal, akhir maupun tengah kata.
  5. Derivasi (derivational) adalah proses imbuhan terhadap suatu suku kata yang berakibat mengubah kelas kata tersebut, misalnya imbuhan pada kata “sing” menjadi “singer”. Sing adalah kata kerja yang berarti menyanyi, ketika mendapatkan imbuhan “er” maka berubah menjadi kata benda “singer” yang berarti penyanyi. Derivasi dapat mengakibatkan perubahan kelas kata dan makna dari kata yang mendapatkan imbuhan derivasi. Di dalam bahasa Indonesia kita bisa menjumpai misalnya kata “pukul” menjadi “pemukul” dan "pemukulan". Kata “pukul” yang merupakan kata kerja, berubah menjadi kata benda ketika mendapat imbuhan “pe-” menjadi “pemukul” dan imbuhan "pe-an" menjadi "pemukulan.

Itu tadi beberapa istlah yang terdapat dalam Morfologi (Linguistik). Silahkan dishare sahabat....

Baca Juga : Morfologi Bahasa Indonesia - First Meeting

Morfologi Bahasa Indonesia - First Meeting

Mata kuliah Morfologi adalah mata kuliah wajib/keahlian di program studi Pendidikan Bahasa Indonesia. Dalam mata kuliah ini, kita akan membahas mengenai pengertian morfologi, proses morfologis, pengertian kata, Batasan dan kedudukan morfologi, Prinsip identifikasi morfem, Klasifikasi morfem, Proses morfologis, Proses afiksas, Proses reduplikasi dan lain sebagainya. Sebelum jauh membahas yang lebih kompleks tentang morfologi, kali ini saya ingin membagikan kepada kalian beberapa soal yang terkait dengan mata kuliah morfologi yang kebetulan ditugaskan oleh dosen mata kuliah ini kepada saya..... heheheheheehe...


Soalnya seperti di bawah ini sahabat:
  1. Jelaskan minimal 5 teori tentang morfologi!
  2. Jelaskan hubungan morfologi dengan cabang ilmu yang lain!
  3. Jelaskan teori tentang "kata" menurut para ahli!
  4. Jelaskan pengertian prefiks, sufiks, infiks dan berikan contohnya masing-masing!

Dari Soal di atas, saya menemukan banyak jawaban baik di internet (lebih banyak) maupun dari buku. Namun untuk kali ini saya hanya mengambil beberapa dari jawaban yang saya temukan tersebut. Berikut adalah jawabannya, silahkan disimak atau dicopy atau dishare :

Teori tentang morfologi:
  1. Menurut Mulyana (2007:5)
  2. Morfologi adalah istilah yang diturunkan dari bahasa inggris “morphology” yang artinya “Ilmu bentuk kata”. Dengan demikian menurutnya, morfologi adalah cabang ilmu linguistik yang mempelajari tentang susunan atau bagian-bagian kata secara gramtikal.
  3. Menurut Verhaar (1996:97)
  4. Morfologi adalah cabang lingusitik yang mengidentifikasi satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal.
  5. Menurut Samsuri (1998:5)
  6. Morfologi adalah cabang linguistik yang mempelajari struktur dan bentuk-bentuk kata.
  7. Menurut Kridalaksana (1984:129)
  8. Morfologi adalah (1) bidang linguistik yang mempelajari morfem dan kombinasi-kombinasinya; (2) bagian dari struktur bahasa yang mencakup kata dan bagian-bagian kata, yaitu morfem.
  9. Menurut Ramlan
  10. Morfologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang mempelajari seluk beluk bentuk kata serta perubahan bentuk kata terhadap arti dan golongan kata.

Hubungan antara morfologi dengan cabang ilmu yang lain:

  1. Morfologi dengan Fonologi
  2. Hubungan antara Morfologi dengan fonologi adalah adanya kajian yang disebut morfonologi atau morfofonemik yaitu ilmu yang mengkaji terjadinya perubahan fonem akibat adanya proses morfologi, seperti munculnya fonem /y/ pada kata dasar “hari” bila diberi sufiks –an. Hari + an = hariyan dan pakai+an = pakaiyan Atau pindahnya konsonan /b/ pada kata “jawab” apabila diberi sufiks –an. Jawab + ja.wa.ban 
  3. Morfologi dengan Sintaksis
  4. Hubungan antara morfologi dan sintaksis terlihat pada kajian yang disebut morfosintaksis (dari gabungan kata morfologi dan sintaksis). Keterkaitan ini karena adanya masalah morfologi yang perlu dibicarakann bersama dengan masalah sintaksis misalnya, satuan bahasa yang disebut kata, dalam kajian morfologi merupakan satuan terbesar, sedangkan dalam kajian sintaksis merupkan satuan terkecil dalam pembentukkan kalimat atau satuan sintaksis lainnya. Jadi, satuan bahasa yang disebut kata itu, menjadi objek dalam kajian morfologi dan kajian sintaksis.
  5. Morfologi dengan Semantik
  6. Hubungan antara morfologi dan semantik adalah bahwa dalam ilmu morfologi mengkaji bentuk kata dan perubahan bentuk kata yang akan menyebabkan perubahan makna pada kata yang berubah bentuk tersebut. Perubahan makna kata, pengetahuan mengenai seluk-beluk dan pergeseran arti kata itulah yang dikaji oleh disiplin ilmu semantik.
  7. Morfologi dengan Wacana
  8. Dalam cabang ilmu morfologi yang dibahas atau yang mejadi objek kajiannya adalah bentuk kata dan perubahan bentuk kata. Sedangkan dalam cabang ilmu wacana yang dibahas adalah keseluruhan tutur yang merupakan suatu kesatuan yang terbentuk atau terbangun dari bentuk kata yang dibahas pada ilmu Morfologi.


    Teori tentang kata menurut para ahli:
    1. Menurut Nurlina, dkk. (2004:8)
    2. Kata adalah satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri, terjadi dari morfem tunggal atau gabungan morfem.
    3. Menurut Chaer (1994:162)
    4. Kata adalah satuan bahasa yang memiliki satu pengertian; atau kata adalah deretan huruf yang diapit oleh dua buah spasi dan mempunyai satu arti. Kata disebut juga morfem bebas.
    5. Menurut Ramlan (1987:33)
    6. Kata adalah dua macam satuan, satuan fonologik dan satuan gramatik. Sebagai satuan fonologik, kata terdiri dari satu atau beberapa suku, dan suku itu terdiri dari satu atau beberapa fonem. Sehingga kata merupakan satuan terbesar dari morfologi.
    7. Menurut Tarigan(1985:19)
    8. Kata terbagi menjadi 2 macam yaitu kata dasar dan dasar kata. Kata dasar adalah satuan terkecil yang menjadi asal atau permulaan dari suatu kata kompleks. Dasar kata adalah satuan baik tunggal maupun kompleks yang menjadi dasar bagi pembentukan bagi satuan yang lebih besar atau kompleks.


    Pengertian prefiks, sufiks, dan infiks serta contohnya masing-masing
    1. Prefiks
    2. Prefiks adalah imbuhan yang ditambahkan pada bagian awal sebuah kata dasar atau bentuk dasar atau sering disebut awalan.contoh prefiks: ber-ber+serta, ber+kerja, ber+uang, ber+janji, ber+buah, ber+runding (beserta, bekerja, beruang, berjanji, berbuah, berunding) se-se+luas, se+lebar, se+rumah, se+lama, se+belum, se+telah (seluas, selebar, serumah, selama, sebelum, setelah) peN-peN+tanya, peN+ambil, peN+makan, peN+waris, peN+latih (penanya, pengambil, pemakan, pewaris, pelatih) di-di+tagkap, di+curi, di+lamar, di+paksa, di-cabut (ditangkap, dicuri, dilamar,dipaksa, dicabut) meN-meN+dapat, meN+larang, meN+konsumsi, meN+kalah, meN+ambil (mendapat, melarang, mengonsumsi, mebgalah, mengambil) ter-ter+angkat, ter+kejut, ter+jadi, ter+ulang, ter+rawat, ter+rasa, ter+rendam (terangkat, terkejut, terjadi, terulang, terawat, terasa, terendam)
    3. Sufiks
    4. Sufiks adalah afiks yang ditambahkan pada bagian belakang kata dasar, atau morfem terikat yang yang diletakkan di belakang suatu bentuk dasar dalam membentuk kata. Contoh Sufiks: -an darat+an, hukum+an, maki+an, ribu+an, larang+an, laut-an (daratan, hukuman, makian, ribuan, larangan, lautan) -igaram+i, menembak-i (garami, menembaki) -kanbuka+kan, keluar+kan, masuk+kan, naik+kan, tarik+kan, laku+kan, beri+kan, misal+kan, terus+kan (bukakan, keluarkan, masukan, naikan, tarikan, lakukan, berikan, misalkan, teruskan) -nyakali+nya, batu+nya, berita+nya, kabar+nya, kampus+nya (kalinya, batunya, beritanya, kabarnya, kampusnya)
    5. Infiks
    6. Infiks adalah morfem yang disisipkan atau diselipkan di tengah kata dasar (sisipan). Contoh Infiks: -er- gigi+(-er-), sabut+(-er-), suling+(-er-), cerita+(-er-) (gerigi, serabut, seruling, ceritra) -el-tunjuk+(-el-), gembung+(-el-), luhur+(-el-), tapak+(-el-), maju+(-el-) (telunjuk, gelembung, leluhur, telapak, melaju) -em- guruh+(-em-), jari+(-em-), kilau+(-em-), tali+(-em-), turun+(-em-) (gemuruh, jemari, kemilau, temali, temurun) -in- kerja+(-in), sambung+(-in-) (kinerja, sinambung) -ah- dulu+(-ah-) (dahulu.
       
      Baca Juga : Beberapa istilah dalam Morfologi

    Kajian Morfofonemik dalam Kata Bahasa Manggarai dan Bahasa Indonesia

    morfologi-bahasa-indonesia

    Selamat siang, malam, atau sore buat sahabat-sahabat yang ketemu dengan artikel ini. Pada pertemuan kali ini saya ingin membagikan kepada sahabat tentang sebuah artikel yang berjudul Proses Morfofonemis dala kata Bahasa Manggarai dan Bahasa Indonesia. Artikel ini merupakan tugas mata kuliah morfologi yang ditugaskan oleh dosen saya. Langsung saja disimak yah sahabat.


    PROSES MORFOFONEMIS DALAM KATA BAHASA MANGGARAI DAN BAHASA INDONESIA

    Siprianus Aris
    Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNIPA - Manokwari
    Pos-el: ariessipriano@gmail.com




    PENDAHULUAN
    Latar Belakang   
    Dalam dunia kebahasaan, baik bahasa asing, bahasa nasional, dan bahasa daerah atau yang biasa dikenal sebagai bahasa ibu sudah pasti di dalamnya terdapat suatu kajian tentang bunyi, kata dan bentuk kata, frasa, klausa, dan juga kalimat. Semua itu mempunyai bidangnya sendiri yang membahas secara khusus masalah-masalah terkait dan mempunyai hubungan timbal balik.

    Dalam mempelajari cabang ilmu bahasa morfologi misalnya. Di dalam cabang ilmu bahasa morfologi, yang dibahas bukan hanya tentang kata dan bentuk kata, namun juga keterkaitannya dengan cabang ilmu bahasa fonologi yang kita kenal dengan istilah morfofonemik yang secara umum membahas tentang perubahan bunyi akibat adanya pengelompokkan morfem. Proses morfofonemik membahas tentang penambahan fonem, hilangnya fonem, dan berubahnya fonem.

    Rumusan Masalah
    Adapun rumusan masalah dari artikel ini adalah antara lain sebagai berikut:
    1. Apa yang dimaksud dengan morfofonemik?
    2. Bagaimana proses morfofonemik itu terjadi?
    3. Jelaskan proses morfofonemis sebagai pembeda makna dalam kata Bahasa Manggarai? (contoh kata disesuaikan)
    4. Jelaskan proses morfofonemis sebagai pembeda makna dalam kata bahasa Indonesia ? (contoh kata disesuaikan)


    LANDASAN TEORI
    Pengertian Morfofonemik
    Pengertian Morfofonemik Secara Umum
    Morfofonemik adalah proses perubahan-perubahan fonem yang timbul dalam pembentukan kata akibat pertemuan morfem dengan morfem lain. Misalnya kata membaca terdiri dari dua morfem, yaitu morfem meN- dan morfem baca. Akibat pertemuan kedua morfem itu, fonem nasal (N) pada morfem meN- berubah, sehingga meN- menjadi mem-. Perubahan fonem itu tergantung pada kondisi bentuk dasar (dasar kata) yang diikutinya. Kajian morfofonemik tidak dibicarakan dalam tataran fonologi karena masalahnya baru muncul dalam kajian morfologi.

    Pengertian Morfofonemik Menurut Para Ahli
    1. Nelson Francis (1958) menyatakan bahwa morfofonemik mempelajari variasi-variasi yang tampak pada struktur fonemik alomorf-alomorf sebagai akibat pengelompokkan menjadi kata.
    2. Samsuri (1982:28) bahwa morfofonemik merupakan studi tentang perubahan-perubahan fonem yang disebabkan hubungan dua morfem atau lebih serta pemberian tanda-tandanya.
    3. Sumadi (2010:140) berpendapat bahwa morfofonemik ialah “perubahan fonem” yang terjadi akibat bertemunya morfem yang satu dan morfem yang lain.
    4. Zainal Arifin (2007:8) berpendapat bahwa proses morfofonemik adalah proses berubahnya suatu fonem menjadi fonem lain sesuai dengan fonem awal kata yang bersangkutan
    5. Abdul Chaer (2007:194) mengemukakan bahwa morfofonemik, disebut juga morfonemik, morfofonologi, atau morfonologi atau peristiwa berubahnya wujud morfemis dalam suatu proses morfologis, baik afiksasi, reduplikasi, maupun komposisi.
    6. Kridalaksana (2007:183) berpendapat bahwa morfofonemik adalah subsistem yang menghubungkan morfologi dan fonologi. Di dalamnya dipelajari bagaimana morfem direalisasikan dalam tingkat fonologi.
    7. Ramlan (dalam Tarigan, 1995:27) mengemukakan bahwa morfofonemik mempelajari perubahan-perubahan fonem yang timbul sebagai akibat pertemuan morfem satu dengan morfem lain.
    8. Heatherington (dalam Tarigan, 1995:27) morfofonemik, atau yang biasa disebut dengan morfofonologi  adalah ilmu yang menelaah morfofonem. Morfofonologi adalah telaah umum mengenai bidang kebersamaan antara bunyi dan bentuk kata. Dalam morfofonologi kita tidak menelaah bunyi tunggal beserta varian-variannya saja, tetapi justru menelaah bunyi-bunyi rangkap beserta varian-variannya.
    9. Prawirasumantri (1986:37) memberikan contoh untuk memperjelas bidang garapan morfofonemik yakni dengan pertemuan morfem ber- dengan morfem ajar menghasilkan bentuk belajar. Pada proses morfologis ini terjadi perubahan /r/ menjadi /l/. pertemuan morfem meN- dengan lihat menjadi melihat. Disini tampak bunyi /N/ hilang menjadi me-. Perubahan-perubahan bunyi akibat pertemuan dua morfem atau lebih disebut morfofonemis, sedangkan tanda huruf besar pada meN- yang pada realitas fonemis bisa berupa beberapa macam bunyi/fonem disebut morfofonem, dan ilmu yang mempelajarinya disebut morfofonemik.

    Proses Morfofonemis
    Proses morfofonemik adalah proses berubahnya suatu fonem menjadi fonem lain sesuai dengan fonem awal kata yang bersangkutan (Zainal Arifin, 2007:8). Berikut ini akan dijelaskan proses morfofonemis dalam kata Bahasa Manggarai dan Bahasa Indonesia.

    Proses Morfofonemis Dalam Kata Bahasa Manggarai
    Kata kawe dan lawe
    Kata kawe dan lawe yang dalam bahasa indonesia diterjemahkan secara berturut-turut adalah cari dan sumbu. Perbedaan makna pada 2 (dua) kata di atas disebabkan oleh perbedaan fonem awal pada kedua kata itu. Bunyi fonem /k/ dan fonem /l/ mempunyai fungsi sebagai pembeda makna. Sedangkan proses fonetik dari kedua fonem tersebut diuraikan sebagai berikut:
    1. Fonem konsonan /k/ dihasilkan oleh belakang lidah sebagai artikulator dang langit-langit lembut sebagai artikulasi atau biasa disebut konsonan velar dimana terjadi penghambatan udara sehingga tidak bersuara.
    2. Fonem konsonan /l/ dihasilkan oleh ujung lidah sebagai artikulator dan langit-langit keras sebagai titik artikulasi atau biasa disebut dengan istilah apiko-alveolar. Fonem konsonan yang dihasilkan tidak dihambat sehingga bersuara.
    Kata pau dan wau
    Kata pau “mangga” dan wau “bau” mempunyai makna yang berbeda akibat perbedaan fonem awal pada kedua kata itu. Bunyi fonem konsonan /p/ dan fonem /w/ mempunyai fungsi sebagai pembeda makna. Proses fonetik dari kedua fonem tersebut diuraikan sebagai berikut:
    1. Fonem konsonan /p/ dihasilkan dengan mempertemukan kedua belah bibir yang bersama-sama bertindak sebagai artikulator dan titik artikulasi atau disebut dengan istilah konsonan letup bilabial. Dalam pembentukan konsonan /p/ terjadi penghambatan udara namun tetap menghasilkan suara. Konsonan   ini   terjadi   jika artikulator aktifnya bibir bawah dan artikulator pasifnya (titik artikulasi) bibir atas.
    2. Fonem konsonan dan/atau semivokal /w/ dihasilkan sama seperti fonem konsonan /p/ diatas yaitu dengan mempertemukan kedua belah bibir yang bersama-sama bertindak sebagai artikulator dan titik artikulasi atau disebut dengan istilah konsonan semivokal bilabial. Dalam pembentukan konsonan dan/atau semivokal /w/ tidak terjadi penghambatan udara sehingga menghasilkan suara.
    Kata jitong dan titong
    Kata jitong “rajawali” dan titong “didik” mempunyai makna yang berbeda akibat perbedaan fonem konsonan awal dari masing-masing kata, yaitu fonem konsonan /j/ dan fonem konsonan /t/. Proses fonetik dari kedua konsonan tersebut adalah sebagai berikut:
    1. Fonem konsonan /j/ dihasilkan oleh bagian tengah lidah sebagai artikulator dan langit-langit keras sebagai titik artikulasi sehingga udara tidak dihambat dan menghasilkan bunyi atau suara.
    2. Fonem konsonan /t/ dihasilkan dengan ujung lidah yang bertindak sebagai artikulator dan daerah antar gigi sebagai titik artikulasi (apiko-dental), tidak ada hambatan, dan bersuara.
    Kata kasa dan kala
    Kata kasa mempunyai arti “pohon asam” dan kala “sirih (daun, pohon, dan buahnya)” dibedakan oleh fonem konsonan ketiga dari kata-kata tersebut yaitu fonem konsonan /s/ dan /l/. Proses fonetis dari masing-masing fonem tersebut adalah sebagai berikut:
    1. Fonem konsonan /s/ merupakan fonem konsonan   geseran   lamino-alveolar.   Konsonan   ini   terjadi   jika artikulator aktifnya daun lidah (lidah bagian samping) dan ujung lidah sedangkan artikulator pasifnya gusi. Udara yang dihasilkan tidak dihambat sehingga mengeluarkan suara.
    2. Fonem konsonan /l/ dihasilkan oleh ujung lidah sebagai artikulator (artikulator aktif) dan langit-langit keras sebagai titik artikulasi (artikulator pasif). Proses ini disebut dengan istilah nasal apiko-alveolar. Fonem konsonan yang dihasilkan tidak dihambat sehingga bersuara.

    Proses Morfofonemis Dalam Kata Bahasa Indonesia
    Kata vokal dan lokal
    Kata vokal yang bermakna “satuan fonologis yang diwujudkan dalam lafal tanpa pergeseran, sepertt [a, i, u, e, o]”;  dan kata lokal yang bermakna “ruang yang luas”, dibedakan oleh fonem konsonan /v/ dan fonem konsonan /l/ yang berada di awal kata terhadap makna yang diperoleh. Proses fonetis dari kedua fonem tersebut adalah sebagai berikut:
    1. Fonem konsonan /v/ disebut sebagai konsonan bilabial karena fonem ini dihasilkan melalui pertemuan antara kedua belah bibir baik bibir atas sebagai titik artikulasi maupun bibir bawah sebagai artikulator. Dalam proses menghasilkan fonem konsonan /v/ ini, udara tidak dihambat sehingga menghasilkan suara.
    2. Fonem konsonan /l/ merupakan konsonan nasal yang dihasilkan oleh ujung lidah sebagai artikulator dan langit-langit keras sebagai titik artikulasi atau biasa disebut dengan istilah apiko-alveolar. Fonem konsonan yang dihasilkan tidak dihambat sehingga bersuara atau nasal apiko-alveolar.
    Kata juang dan ruang
    Perbedaan makna pada kata juang dan ruang disebabkan oleh fonem konsonan /j/ dan /r/ yang ditempatkan pada awal kata dari kedua kata tersebut.  Kata juang bermakna usaha dengan tenaga dan kata ruang yang berarti tempat segala yang ada. Proses fonetis dari kedua fonem konsonan tersebut di atas adalah sebagai berikut:
    1. Fonem konsonan /j/ merupakan konsonan hambat letup dimana terjadi hambatan penuh arus udara yang kemudian dilepaskan secara tiba-tiba. Fonem konsonan /j/ masuk dalam kategori fonem letup medio-palatal karena dihasilkan oleh bagian tengah lidah sebagai artikulator dan langit-langit keras sebagai titik artikulasi. Dalam proses menghasilkan fonem konsonan /j/ artikulator mengeluarkan suara.
    2. Fonem konsonan /r/ merupakan konsonan getar yang dibentuk dengan menghambat jalan arus udara yang diembuskan dari paru-paru secara berulang-ulang dan cepat yang dikenal dengan istilah apiko-alveolar. Konsonan ini terjadi jika artikulator aktif yang menyebabkan proses menggetar adalah ujung lidah dan artikulator pasifnya (titik-artikulasi) adalah gusi.
    Kata masalah dan makalah
    Perbedaan makna dari kata masalah dan makalah disebabkan oleh perbedaan fonem konsonan ketiga dari kata tersebut (fonem konsonan /s/ dan /k/. Kata masalah mempunyai arti sesuatu yang harus diselesaikan dan kata makalah berarti karya tulis yang dijadikan sebagai laporan pelaksaan tugas oleh pelajar atau mahasiswa.
    Proses fonetis dari kedua fonem konsonan di atas adalah sebagai berikut:
    1. Fonem konsonan /s/ merupakan fonem geseran atau frikatif yang dibentuk dengan menyempitkan jalan arus udara yang diembuskan dari paru-paru,   sehingga   jalan   udara   terhalang   dan   keluar   dengan   bergeser. Fonem konsonan /s/  terjadi   jika artikulator aktifnya daun lidah (lidah bagian samping) dan ujung lidah sedangkan artikulator pasifnya gusi atau dikenal dengan istilah konsonan   geseran   lamino-alveolar. Meskipun udara dihambat namun tetap mengeluarkan suara.
    2. Fonem konsonan /k/ merupakan konsonan hambat   letup dimana saat proses pembentukan fonem oleh artikulator,  terjadi hambatan   penuh   arus   udara. Fonem konsonan /k/ masuk adalam jenis konsonan   hambat   letup   dorso-velar, yaitu konsonan yang terjadi   jika artikulator aktifnya pangkal lidah dan artikulator pasifnya langit- langit   lunak   (langit-langit   bawah).
    Kata sebab dan sebar
    Kata sebab dan sebar memiliki makna yang berbeda karena perbedaan fonem ada akhir kedua kata tersebut yaitu fonem konsonan /b/ dan fonem konsonan /r/. Sehingga diperoleh makna dari masing-masing kata tersebut secara berurutan adalah “hal yang menjadikan timbulnya sesuatu” dan “berserak/bertabur/berpencar”. Proses fonetis dari kedua fonem konsonan tersebut adalah sebagai berikut:
    1. Fonem konsonan /b/ merupakan fonem konsonan yang dihasilkan melalui proses hambat   letup   bilabial, yaitu artikulator aktifnya bibir bawah dan artikulator pasifnya bibir atas
    2. Fonem konsonan /r/ merupakan konsonan konsonan getar yaitu konsonan yang dibentuk dengan menghambat jalan arus udara yang diembuskan dari paru-paru secara berulang-ulang dan cepat atau sering disebut konsonan getar apiko-alveolar. Konsonan ini terjadi jika artikulator aktif yang menyebabkan proses menggetar adalah ujung lidah dan artikulator pasifnya gusi.

    PENUTUP
    Kesimpulan
    Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa morfofonemik atau morfonemik/morfofonologi/morfonologi adalah perubahan-perubahan fonem yang timbul dalam pembentukan kata akibat pertemuan morfem dengan morfem yang lain. Dalam morfofonologi terdapat 2 bidang kajian yaitu fonem sebagai pembeda makna dan proses fonetis atau cara alat ucap (artikulator dan titik artikulasi) menghasilkan bunyi dari fonem bersangkutan. Proses fonetis terhadap fonem konsonan memiliki banyak penggolongan diantaranya (1) Konsonan Hambat Letup diantaranya bilabial, apiko-dental, apiko-palatal, medio-palatal, dorso-velar, dan hamzah; (2) Konsonan nasal (sengau), diantaranya nasal   bilabial, nasal medio-palatal, nasal apiko-alveolar, dan nasal dorso-velar; (3) Konsonan Geseran atau Frikatif, seperti geseran labio-dental, geseran   lamino-alveolar, geseran dorso-velar, dan geseran laringal; (4) Konsonan Getar; dan (5) Semivokal.

    Proses morfofonemik dalam bahasa manggarai hampir sama dengan bahasa indonesia, hanya saja cara membunyikan serangkain fonem yang sudah dibentuk menjadi sebuah kata yang bermakna kadang mengalami perubahan nada. Dalam bahasa manggarai, terdapat istilah bahasa bernada. Nada yang berbeda akan mempengaruhi makna dari kata yang diucapkan. Jadi dalam bahasa manggarai bukan hanya proses morfemik yang dikaji tapi juga nada dalam pelafalan katanya, karena sangat mempengaruhi.


    DAFTAR PUSTAKA

    Chaer, Abdul. 2009. Fonologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta
    Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta
    http://nurhidayati0109.blogspot.co.id/2014/09/hubungan-gramatikal-fonologi-dengan.html
    https://ariesrutung.blogspot.co.id/2017/09/proses-pembentukan-fonem-konsonan-oleh.html
    http://nelaoktarina.blogspot.co.id/2016/12/makalah-morfofonemik.html

    Itu tadi Artikel mengenai morfofonemik. Sekian dari saya, terima kasih sudah berkunjung.

    Baca Juga :
    Morfologi Bahasa Indonesia - First Meeting
    Beberapa istilah dalam Morfologi - Tugas mata Kuliah Morfologi

    TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA