Home » All post
Pembahasan soal LKS bidang IT Networking Support - Papua Barat 2016 | PDF
in
Linux Debian,
LKS,
TugasAkhir
- on October 30, 2016
- 1 comment
Lomba Kompetensi Siswa adalah kompetisi tahunan antar siswa pada jenjang SMK sesuai bidang keahlian yang diajarkan pada SMK peserta. LKS ini setara dengan OSN (Olimpiade Sains Nasional) yang diadakan di SMP/SMA. Pemenang LKS tingkat Nasional akan mewakili Indonesia ke ASEAN Skills (Kompetisi Keahlian tingkat ASEAN) dan World Skills International Competition (Kompetisi Keahlian tingkat Dunia). Siswa yang mengikuti LKS adalah siswa yang telah lolos seleksi tingkat kabupaten dan provinsi dan karenanya adalah siswa-siswa terbaik dari provinsinya masing-masing.
Lomba Kompetensi Siswa diadakan setiap tahunnya. Kegiatan ini merupakan salah satu bagian dari rangkaian seleksi untuk mendapatkan siswa-siswi terbaik dari seluruh Indonesia yang akan dibimbing lebih lanjut oleh tim bidang kompetisi masing-masing dan akan diikutsertakan pada kompetisi keahlian tingkat internasional.
Lomba Kompetensi Siswa diadakan setiap tahunnya. Kegiatan ini merupakan salah satu bagian dari rangkaian seleksi untuk mendapatkan siswa-siswi terbaik dari seluruh Indonesia yang akan dibimbing lebih lanjut oleh tim bidang kompetisi masing-masing dan akan diikutsertakan pada kompetisi keahlian tingkat internasional.
Berikut ini merupakan pembahasan soal Lomba Kompetensi Siswa bidang IT Networking Support antar kabupaten se-Provinsi Papua Barat pada tahun 2016 yang diadakan di Manokwari tepatnya di Sekolah Menengah kejuruan 2 Manokwari. Pembahasan soal-soal ini menggunakan bahasa yang sangat mudah dipahami, disertai gambar sebagai penjelas, dan dilengkapi dengan penyelesaian terhadap masalah-masalah yang dihadapi saat melakukan konfigurasi. Silahkan di download dan selamat belajar....
REFERENSI
https://id.wikipedia.org/wiki/Lomba_Kompetensi_Siswa
===========
Oleh:
ariesrutung95
===========
Seni berbicara di depan umum - Public Speaking
in
Berbicara,
Public Speaking
- on October 26, 2016
Berbicara di depan umum atau public speaking adalah proses berbicara kepada sekelompok orang dengan cara yang terstruktur dan disengaja yang dimaksukan untuk menginformasikan, mempengaruhi, atau menghibur penedengar sacara langsung tanpa ada media perantara antara pendengar (audiens) dan pembicara (komunikator).
Perbedaan antara komunikasi massa dengan public speaking yaitu komunikasi masa adalah jenis komunikasi menggunakan media massa atau media cetak seperti koran, media sosial sedangkan public speaking atau retorika adalah komunikasi langsung dengan massa tanpa ada perantara. Ciri-ciri public speaking antara lain: (1) Diucapkan atau dibawakan di depan orang banyak atau massa, (2) Topik yang dibicarakan berkaitan dengan masalah sosial bukan masalah pribadi kecuali masalah pribadi yang bersifat sosial.
Perbedaan antara komunikasi massa dengan public speaking yaitu komunikasi masa adalah jenis komunikasi menggunakan media massa atau media cetak seperti koran, media sosial sedangkan public speaking atau retorika adalah komunikasi langsung dengan massa tanpa ada perantara. Ciri-ciri public speaking antara lain: (1) Diucapkan atau dibawakan di depan orang banyak atau massa, (2) Topik yang dibicarakan berkaitan dengan masalah sosial bukan masalah pribadi kecuali masalah pribadi yang bersifat sosial.
“If iam to speak ten minutes, i need a week for preparation; if fiveteen minutes, three days; if half an hour, two days, if an hour, iam ready now.”
Sejarah Berbicara di Depan Umum
Public speaking pertama kali di kembangkan oleh bangsa Yunani Kuno yang berkembang di dalam kelompok-kelompok sekolah filsafat yang diajarkan oleh kelompok filsuf jalanan “kaum sofis” yang memungut biaya untuk membuat argumen lemah menjadi kuat dan untuk membuat siswa mereka menjadi lebih baik.
Pada zaman Yunani Kuno, menjadi orator ulung butuh kerja keras dan menyediakan uang yang banyak untuk mendapatkan atau belajar ilmu retorika dari guru-guru terkenal. Bahkan banyak orator ulung yang belajar berpuluh-puluh tahun di gua-gua bahkan di tempat-tempat terpencil, demi mempelajari dan mendalami ilmu retorika. Mereka belajar mulai dari olah vokal, intonasi suara, gerak-gerik dan mimik muka yang diselaraskan dengan suara yang ada.
Ilmu retorika mempunyai beberapa fungsi antara lain: (1) Mencapai kebenaran atau kemenangan bagi seseorang atau sekelompok orang dalam masyarakat; (2) Meraih kekuasaan, yaitu mencapai kemenangan seseorang atau sekelompok orang dengan ejekan siapa yang menng dialah yang berkuasa; (3) Sebagai alat persuasi atau ajakan kepada seseorang dengan alasan untuk meyakinkannya dengan tujuan mempengaruhi orang lain.
Public speaking pertama kali di kembangkan oleh bangsa Yunani Kuno yang berkembang di dalam kelompok-kelompok sekolah filsafat yang diajarkan oleh kelompok filsuf jalanan “kaum sofis” yang memungut biaya untuk membuat argumen lemah menjadi kuat dan untuk membuat siswa mereka menjadi lebih baik.
Pada zaman Yunani Kuno, menjadi orator ulung butuh kerja keras dan menyediakan uang yang banyak untuk mendapatkan atau belajar ilmu retorika dari guru-guru terkenal. Bahkan banyak orator ulung yang belajar berpuluh-puluh tahun di gua-gua bahkan di tempat-tempat terpencil, demi mempelajari dan mendalami ilmu retorika. Mereka belajar mulai dari olah vokal, intonasi suara, gerak-gerik dan mimik muka yang diselaraskan dengan suara yang ada.
Ilmu retorika mempunyai beberapa fungsi antara lain: (1) Mencapai kebenaran atau kemenangan bagi seseorang atau sekelompok orang dalam masyarakat; (2) Meraih kekuasaan, yaitu mencapai kemenangan seseorang atau sekelompok orang dengan ejekan siapa yang menng dialah yang berkuasa; (3) Sebagai alat persuasi atau ajakan kepada seseorang dengan alasan untuk meyakinkannya dengan tujuan mempengaruhi orang lain.
Hal yang diperhatikan saat Berbicara di Depan Umum
Hal yang diperhatikan saat berbicara di depan umum untuk dapat menjadi seorang orator yang baik:
Hal yang diperhatikan saat berbicara di depan umum untuk dapat menjadi seorang orator yang baik:
Teknik Berbicara
Penyampaian (pronuntiatio), olah suara (vocis) dan gerakan-gerakan anggota badan (gestus moderatio venustate).
Penyampaian (pronuntiatio), olah suara (vocis) dan gerakan-gerakan anggota badan (gestus moderatio venustate).
Melatih suara
Keras lembutnya atau besar kecilnya suara seserang dalam berbicara belum tentu menjamin seseorang dapat menyampaikan isi pembicaraannya atau bahkan menyulitkan orang tersebut untuk tampil. Ada pun yang perlu diperhatikan adalah:
Saat berbiacara, kita tidak dapat memungkiri bahwa kita melibatkan bahasa non-verbal lewat gerakan-gerakan anggota tubuh. Komunikasi non-verbal mempunyai sifat antara lain:
Dalam pelatihan bahasa non-verbal ini sangatlah penting untuk menyesuaikan suara dengan gerak tubuh. Misalnya saat mengacungkan telunjuk, sambil mengeluarkan suara lantang. Jika bernada pelan, ia akan menngerakkan bibirnya secara pelan. Hal yang perlu menjadi perhatian adalah mencocokkan ekspresi wajah dengan ucapan. Jika ada kontradiksi anatara ucapan dan ekspresi, akan menampakkan sesuatu yang dibuat-buat. Tetapi sebagian orang memiliki kemampuan untuk melakukan kontradiksi antara ekspresi dan ucapan. Oleh karena itu dalam berbicara di depan umum sangatlah ditekankan ekspresi wajah disesuaikan dengan perasaan, intonasi, dan uraian isi yang dibicarakan.
Keras lembutnya atau besar kecilnya suara seserang dalam berbicara belum tentu menjamin seseorang dapat menyampaikan isi pembicaraannya atau bahkan menyulitkan orang tersebut untuk tampil. Ada pun yang perlu diperhatikan adalah:
- Intonasi atau irama suara agar tidak datar
- Artikulasi atau pengucapan kata yang jelas benar sehingga mudah dipahami
- Phrassing atau jeda ketika berbicara
- Stressing atau energi dalam suara agar pendengar tidak loyo
- Infleksi atau lagu kalimat,perubahan nada suara. Infleksi naik berarti ada lanjutan kalimat tetapi kalau infleksi menurun menunjukan akhir kalimat.
- Speed atau kecepatan suara, disesuaikan dengan situasi dan kondisi
- Volume suara harus bulat
- Tone, tinggi rendahnya suara agara audiens tidak loyo
- Timbre, mampu memberikan gambaran, maksud, gagasan, perasaan atas apa yang disampaikan
- Power, kekuatan suara harus tepat dengan pemakaian kata
- Nafas, berbicara dengan nafas perut karena suara yang dihasilkan lebih dalam, power lebih kuat dan lebih nikmat untuk didengar
Saat berbiacara, kita tidak dapat memungkiri bahwa kita melibatkan bahasa non-verbal lewat gerakan-gerakan anggota tubuh. Komunikasi non-verbal mempunyai sifat antara lain:
- Dilakukan secara tidak sadar
- Suatu emosi yang sesungguhnya
- Intuitif atau bisikan hati
- Informal atau tidak resmi
- Isi kebenaran dapat dipercaya
Dalam pelatihan bahasa non-verbal ini sangatlah penting untuk menyesuaikan suara dengan gerak tubuh. Misalnya saat mengacungkan telunjuk, sambil mengeluarkan suara lantang. Jika bernada pelan, ia akan menngerakkan bibirnya secara pelan. Hal yang perlu menjadi perhatian adalah mencocokkan ekspresi wajah dengan ucapan. Jika ada kontradiksi anatara ucapan dan ekspresi, akan menampakkan sesuatu yang dibuat-buat. Tetapi sebagian orang memiliki kemampuan untuk melakukan kontradiksi antara ekspresi dan ucapan. Oleh karena itu dalam berbicara di depan umum sangatlah ditekankan ekspresi wajah disesuaikan dengan perasaan, intonasi, dan uraian isi yang dibicarakan.
MataSorotan mata seseorang memiliki kekuatan yang dapat mempengaruhi pribadi orang lain. Seperti seorang wanita dapat menjadi terpesona dan bergetar hatinya kekpada seorang pria karena tatapan matanya. Tatapan mata yang genit dari seorang wanita yang mampu mengalihkan hati dan perasaan seorang pria. Namun ada juga seseorang yang memiliki sorotan mata yang menakutkan sehingga banyak orang yang berusaha untuk menghindarinya. Perlu diingat bahwa sorotan mata yang baik dapat memnerikan suasana yang hidup.
Kepala
Ketika kita mendengarkan dengan seksama, maka secara otomatis bahasa tubuh yang tepat akan mengikuti. Misalnya saat kita menganggukan kepala, menunjukan bahwa kita perhatian dengan topik pembicaraan, atau mengeleng sedikit secara simpatik atau kagum. Tindakan tersebut hendaknya dilakukan pada saat yang tepat.
Mulut
Mulut memliliki peran yang sangat penting dalam berkomunikasi. Karena perkataan seseorang dapat terbaca pada setiap gerakan mulut orang tersebut. Namun bagian penting yang perlu dilatih adalah bibir dan lidah. Maka dalam setiap pembicaraan hendklah lidah harus diposisikan dengan baik sesuai dengan alur kata yang terungkap.
Rasa Ketertarikan pada Orang Lain
Saat berbicara di depan umum, kita harus mampu menunjukan rasa ketertarikan kepada pendengar atau audien kita. Kita harus berbicara tentang sesuatu yang dapat menarik minat mereka untuk menikmati atau mau mendengarkan apa yang akan kita sampaikan. Walaupun hal yang menarik perhatian itu tergantung pada situasi dan latar belakang khalayak/hadirin, namun hal-hal yang bersifat baru, menarik, dan indah, hal-hal yang menyentuh rasa kemanusiaan, petualangan, konflik, ketegangan, ketidakpastian, hal yang berkaitan dengan keluarga, humor, atau hal-hal yang memiliki manfaat bagi hadirin adalah topik-topik yang tepat dan akan menarik perhatian. Sedapat mungkin kita harus akrab dan memahami jalan pikiran serta kebutuhan batin mereka. Kita harus mampu menyentuh hati khalayak yaitu segi perasaan, emosi, harapan, kebencian, dan kasih sayang mereka (pathos).kelak para ahli retorika modern menyebutnya imbauan emotional (emotional appeals)
Mau Mendengarkan
Mengingat bahwa dalam pembicaraan pengetahuan lebih banyak diperoleh melalui telinga daripada melalui mulut. Saya memberikan tempat kedua kepada sikap diam diatara keutamaan yang henndak saya kembanngkan. Mendengarkan dengan seksama, akan dpat membantu anda memberi respoon lebih baik. Ketika berbicara biasanya kita mendengarkan dalam salah satu dari lima (5) tingkat:
Menurut BS. Wibowo, dkk (2002:92) dari kupasan Geoff Nightingale dalam Synergenik mengatakan antara lain:
Perluas Pengetahuan
Topik harus sesuai dengan latar belakang pengetahuan anda. Topik yang paling baik adalah topik yang memberikan kemungknan bagi kita lebih tahu daripada khalayak, pembicara harus lebih ahli bila dibandingkan dengan kebanyakan pendengar. Seprti yang diungkapakan oleh aristoteles bahwa seorang pembicara harus sanggup menunjukan kepada pendengar bahwa dirinya memiliki pengetahuan yang luas, keperibadian yang terpercaya, dan status yang terhormat (ethos). Ini menjadi salah satu cara untuk mempengaruhi orang yang diajak berbicara. Yang selanjutnya adalah meyakinkan khalayak dengan mengajukan bukti atau yang kelihatan sebagai bukti. Disini pembicara mendekati pendengar lewat otaknya (logos).
Menyelipkan Humor atau Cerita LucuMenyelipkan humor di sela-sela pembicaraan sangatlah penting meski hanya bersifat sebagai pelengkap. Secara manusiawi orang butuh tertawa untuk merilekskan dan menghilangkan kejenuhan. Namun sayang, tidaklah semua orang mempunyai bakat humor. Dan ada juga yang tidak suka humor. Alasannya adalah, hal ini akan mengundang kesan yang kurang serius terutama pada acara-acara formal. Maka sebagai pembicara kita harus pandai-pandai membaca situasi. Humor yang tepat pada situasi dan kesempatan yang tepat akan sangat mendukung apa yang sedang kita bicarakan. Namun ketidaktepatan pembicara menyelipkan humor saat berbicara akan merusak situasi.
Jenis dan metode berbicara di depan umum
Jenis-jenis public speaking yang umum dikenal antara lain:
===========
Oleh:
ariesrutung95
Ketika kita mendengarkan dengan seksama, maka secara otomatis bahasa tubuh yang tepat akan mengikuti. Misalnya saat kita menganggukan kepala, menunjukan bahwa kita perhatian dengan topik pembicaraan, atau mengeleng sedikit secara simpatik atau kagum. Tindakan tersebut hendaknya dilakukan pada saat yang tepat.
Mulut
Mulut memliliki peran yang sangat penting dalam berkomunikasi. Karena perkataan seseorang dapat terbaca pada setiap gerakan mulut orang tersebut. Namun bagian penting yang perlu dilatih adalah bibir dan lidah. Maka dalam setiap pembicaraan hendklah lidah harus diposisikan dengan baik sesuai dengan alur kata yang terungkap.
Rasa Ketertarikan pada Orang Lain
Saat berbicara di depan umum, kita harus mampu menunjukan rasa ketertarikan kepada pendengar atau audien kita. Kita harus berbicara tentang sesuatu yang dapat menarik minat mereka untuk menikmati atau mau mendengarkan apa yang akan kita sampaikan. Walaupun hal yang menarik perhatian itu tergantung pada situasi dan latar belakang khalayak/hadirin, namun hal-hal yang bersifat baru, menarik, dan indah, hal-hal yang menyentuh rasa kemanusiaan, petualangan, konflik, ketegangan, ketidakpastian, hal yang berkaitan dengan keluarga, humor, atau hal-hal yang memiliki manfaat bagi hadirin adalah topik-topik yang tepat dan akan menarik perhatian. Sedapat mungkin kita harus akrab dan memahami jalan pikiran serta kebutuhan batin mereka. Kita harus mampu menyentuh hati khalayak yaitu segi perasaan, emosi, harapan, kebencian, dan kasih sayang mereka (pathos).kelak para ahli retorika modern menyebutnya imbauan emotional (emotional appeals)
Mau Mendengarkan
Mengingat bahwa dalam pembicaraan pengetahuan lebih banyak diperoleh melalui telinga daripada melalui mulut. Saya memberikan tempat kedua kepada sikap diam diatara keutamaan yang henndak saya kembanngkan. Mendengarkan dengan seksama, akan dpat membantu anda memberi respoon lebih baik. Ketika berbicara biasanya kita mendengarkan dalam salah satu dari lima (5) tingkat:
- Kita mungkin mengabaikan orang itu dan benar-benar tidak mendengarkannya
- Mungkin berpura-pura tidak mendengarkannya
- Mendengarkan tapi lebih slektif pada bagian tertentu dari pembicaraan
- Mendengarkan secara atentif dan menaruh perhatian dan menfokuskan energi pada kata-kata yang diucapkannya
- Mendengarkan secara empatik, mendengarkan untuk mengerti tapi untuk menjawab persoalan yang ada. Dalam arti mendengar bukan hanya dengan telinga saja tetapi dengan mata dan hati.
Menurut BS. Wibowo, dkk (2002:92) dari kupasan Geoff Nightingale dalam Synergenik mengatakan antara lain:
- Dengarkan gagasannya bukan fakta dan tanyalah diri sendiri apa yang pembicara maksudkan.
- Nilailah isinya, bukan cara penyampaiannya
- Dengarkan dengan penuh harapan, jangan langsung kehilangan minat
- Jangan cepat menarik kesimpulan
- Sesuaikan pencatatan anda dengan pembicaraan
- Pusatkan perhatian, jangan mulai bermimpi dan jagalah mata anda agar tetap tertuju pada pada pembicaraan
- Jangan mendahului pikiran pembicara, anda akan kehilangan jejak
- Dengarlah dengan sungguh-sungguh waspada dan bergairah
- Kendalikan emosi waktu mendengar
- Bacalah fikiran anda, berlatihlah untuk menerima informasi baru
- Bernanfaslah perlahan dan dalam-dalam
- Jangan tegang, santai sajalah
- Berikan sepenuh hati pada orang lain
- Mendengarkan dengan serius
- Tunjukan minat pada perkataan orang
- Usahakan bebas gangguan
- Tunjukan kesabaran
- Bukalah pikiran anda
- Dengarkan setiap gagasan
- Hargai isinya, bukan cara penyampaiannya
- Turunkan senapan anda
- Belajarlah mendengarkan apa yang tersirat
Perluas Pengetahuan
Topik harus sesuai dengan latar belakang pengetahuan anda. Topik yang paling baik adalah topik yang memberikan kemungknan bagi kita lebih tahu daripada khalayak, pembicara harus lebih ahli bila dibandingkan dengan kebanyakan pendengar. Seprti yang diungkapakan oleh aristoteles bahwa seorang pembicara harus sanggup menunjukan kepada pendengar bahwa dirinya memiliki pengetahuan yang luas, keperibadian yang terpercaya, dan status yang terhormat (ethos). Ini menjadi salah satu cara untuk mempengaruhi orang yang diajak berbicara. Yang selanjutnya adalah meyakinkan khalayak dengan mengajukan bukti atau yang kelihatan sebagai bukti. Disini pembicara mendekati pendengar lewat otaknya (logos).
Menyelipkan Humor atau Cerita LucuMenyelipkan humor di sela-sela pembicaraan sangatlah penting meski hanya bersifat sebagai pelengkap. Secara manusiawi orang butuh tertawa untuk merilekskan dan menghilangkan kejenuhan. Namun sayang, tidaklah semua orang mempunyai bakat humor. Dan ada juga yang tidak suka humor. Alasannya adalah, hal ini akan mengundang kesan yang kurang serius terutama pada acara-acara formal. Maka sebagai pembicara kita harus pandai-pandai membaca situasi. Humor yang tepat pada situasi dan kesempatan yang tepat akan sangat mendukung apa yang sedang kita bicarakan. Namun ketidaktepatan pembicara menyelipkan humor saat berbicara akan merusak situasi.
Jenis dan metode berbicara di depan umum
Jenis-jenis public speaking yang umum dikenal antara lain:
- Khotbah, adalah berbicara di depan umum yang dikaitkan dengan tema-tema keagamaan yang dilakukan oleh pemuka-pemuka agama dengan tujuan menyampaikan pesan-pesan agama.
- Propaganda, adalah berbicara di depan umum untuk menyampaikan ide-ide dengan tujuan untuk meyakinkan pendengar.
- Kampanye, adalah berbicara di depan umum untuk kelompok orang tertentu (partai) dengan tujuan mempengaruhi massa dan biasa dilakukan untuk memperkenalkan tokoh-tokoh tertentu atau menyampaikan program tertentu.
- Penerangan, adalah berbicara di muka umum untuk menjelaskan sesuatu, misalnya program, permaslahan, pembangunan dan lain sebagainya.
- Agitasi, adalah berbicara di depan umum dengan tujuan untuk membakar semangat massa.
- Orasi ilmiah, adalah berbicara di depan umum pada forum-forum tertentu untuk menyamapaikan ilmu pengetahuan.
===========
Oleh:
ariesrutung95
Cerpen Caronang karya Eka Kurniawan
in
Cerpen
- on October 05, 2016
- No comments
KAMI membawa pulang satu ekor, untuk dipelihara. Baby, bayi kami yang empat tahun itu, sangat menyukainya. Bagaimana tidak, ia meyerupai boneka benar, dan hidup pula. Dan lebih jinak dari jenis anjing manapun. Yang kami khawatirkan hanyalah orang segera tahu bahwa binatang ini bukanlah anjing biasa. Di tempat asalnya ia disebut caronang, cirinya yang paling spesifik adalah bahwa ia berjalan dengan dua kaki. Awalnya kupikir ia sejenis beruang yang bisa mengangkat tubuhnya untuk menyerang. Tetapi ternyata tidak. Tubuhnya bahkan lebih kecil dari anjing kebanyakan, seukuran pudel. Ia nyaris tak pernah lagi merangkak, tetapi berdiri tegak. Anatomi tubuhnya telah jauh berkembang yang memungkinkannya berjalan dengan dua kaki : lihat, pahanya memanjang sehingga lututnya semakin turun ke bawah, tak lagi menempel di perut; kemudian betisnya juga memanjang sehingga tumitnya turun ke tanah (tumit ini sering dikira lutut pada anjing biasa, padahal lutut selalu menyiku ke depan, dan tumit menyiku ke belakang); bagian telapak kakinya memendek, dan sepenuhnya rata dengan tanah. Jari-jarinya memang menyerupai beruang atau kucing, tetapi dalam buku Flora Dan Fauna Jawa Masa Lalu yang kubaca, ia sekeluarga dengan anjing. Mereka menyebutnya dalam bahasa latin sebagai Lupus Erectus. Dalam bahasa indonesia ia tak bernama, juga dalam bahasa inggris. Buku ini menyebutkan caronag telah punah jauh lebih dulu daripada harimau jawa; mereka tak tahu di rumahku ada satu ekor.
Bagaimanapun ia masih mewarisi bentuk nenek moyangnya: kepalanya serupa betul dengan kepala anjing, meski di bagian-bagian tertentu lebih mengingatkanku kepada kelelawar. Lonjong dan ramping seperti anjing jenis Borzoi, dengan bulu lebat putih berbercak-bercak hitam. Ia juga menggonggong, dan pada malam hari kadang-kadang melolong.
Kami tak pernah memberinya kesempatan ke luar rumah, dan menyembunyikannya jika tamu datang. Satu-satunya orang yang tahu kami memelihara caronang adalah seorang teman lama yang memperkenalkanku dengan binatang ini di habitatnya. Tetapi, binatangnya sendiri cepat belajar bahwa itu baik bagi dirinya sendiri, dan jika orang lain tahu keberadaannya, kehidupan damainya akan segera berakhir.
Waktu itu kami belum tahu justru kehidupan damai kamilah yang akan segera berakhir. Kami tahu hal yang menyenangkan dari seekor anjing adalah kita bisa mengajarinya hal-hal tak bermutu dari seekor anjing. Istriku melatihnya mengambil koran dari bawah pintu, mengambil sepatuku pada pagi hari, sebelum kami menyadari ia bisa diajari lebih banyak dariapada seekor anjing biasa. Saat itulah kami terpesona melihatnya duduk bersama Baby dan memulas-mulas pensil warna di buku gambar. Belakangan hari ia pergi mandi sendiri, memberi sampo ke tubuhnya, meskipun tentu saja denga kesembronoan yang meggelikan. Seandainya ia bukan seekor caronang, dan tak lebih dari seekor pudel cerdas, kami bakalan kaya raya dengan membawanya ke sirkus.
Segalanya serba menyenangkan sebelum pagi yang mengerikan itu. Tanpa kami ketahui kapan ia mempelajarinya, ia telah menenteng senapan berburu, mengisi peluru, dan menarik pelatuknya. Tak hanya tahu bagaimana mempergunakannya, tetapi juga mengerti untuk apa benda seperti itu.
Semuanya berawal dari Don Jarot, teman lamaku itu. Pada umur delapan belas tahun ia datang ke Yogya untuk menjadi seniman, tetapi malahan kuliah filsafat. Ia hanya bertahan tiga tahun, dikeluarkan dengan sangat tidak terhormat, karena membunuh seorang laki-laki gara-gara rebutan perempuan. Ia menghabiskan tiga tahun di penjara Wirogunan, membunuh seorang jeger dalam perkelahian, dan segera dipindahkan ke Nusa Kambangan.
Seperti siapapun yang tinggal disana, ia segera menjadi tak betah. Sebuah pelarian segera di persiapkan. Bukan benteng kuat dan penjaga galak yang harus ia hadapi, tetapi sungai buas selebar anak samudra dengan buaya hidup di dasarnya. Orang setempat menyebut muara sungai itu sebagai Sagara Anakan, laut beranak dan ia harus meyeberanginya, bersembunyi dari satu delta ke delta lain yamg penuh dengan binatang-binatang pemangsa manusia. Tetapi, itulah yang ia lakukan. Ia berenang separuh malam, nyaris mati tertabrak kapal minyak yang hendak mendarat, tenggelam dan terbawa arus sebelum menemukan kekuatannya kembali dan terdampar di sebuah delta kecil berupa rawa penuh ilalang. “Makanan pertamaku adalah lintah yang menempel di tubuhku,” katanya.
Selama berminggu-minggu ia bersembunyi di delta-delta itu, berenang menyeberangi selat-selat kecil, berendam di rawa-rawa. Sementara satu pasukan militer mencari-carinya. Ia berhasil terbebas dari perangkap delta-delta itu, berjalan menuju hulu sungai, dan lenyap di kampung-kampung dan kota-kota. Satu-satunya hal tolol yang ia lakukan adalah merindukan kekasihnya. Ke sanalah ia pergi suatu hari dan disanalah mereka menagkapnya kembali. Ia harus menyelesaikan sisa hukumannya denga rasa lelah dan tak percaya diri.
Semua pengalamanya telah dibuat film tak lama setelah pembebasannya, ia sendiri memerani dirinya. Meskipun film itu demikian terkenal, ia tak pernah membintangi film apapun lagi, dan lebih suka kawin dengan kekasihnya serta berjualan batu-batuan dengan sedikit bualan filsafat. Filmnya sungguh-sungguh berdasarkan kisah nyata, kecuali satu bagian yang hanya ia ceritakan kepada kami.
Suatu hari, barangkali terserang deman malaria, ia jatuh sakit dalam persembunyian di delta-delta Sagara Anakan. Ia pikir dirinya nyaris mati, dan segera tak sadarkan diri. Ketika ia siuman, ia menemukan dirinya di semacam kandang babi, rumpun belukar yang dibuat menyerupai gua, dikelilingi anjing-anjing kecil. Waktu itu ia berpikir tengah menghadapi gambaran salah mengenai malaikat, tetapi ketika mereka menyodorkan ikan-ikan kecil untuk dimakannya mentah-mentah, ia segera menyadarinya sebagai si binatang legenda Caronang.
Jauh sebelum ini, kami pernah mendiskusikan soal binatang-binatang punah. Kami mengumpulkan ensiklopedi dan catatan perjalanan serta cerita-cerita rakyat dan sama-sama mengambil kesimpulan barangkali mereka belum sungguh-sungguh punah. Kami berencana melakukan satu petualangan gila-gilaan untuk mencari harimau jawa, dan tentu saja juga Caronang, sebelum Don Jarot harus masuk tahanan dan tahun-tahun kemudian berlalu.
Tak lama setelah pemutaran perdana filmnya, Don Jarot datang kepadaku dan menceritakan soal pertemuannya dengan caronang itu. Idenya untuk menemukan mereka kembali sungguh-sungguh menggairahkanku, maka kami pun berangkat.
BINATANG ini sangat endemik, hanya ada di beberapa delta sekitar Sagara Anakan. Pada masa lalu barangkali mereka berkeliaran di hutan-hutan jawa sebelum terdesak ke sana.
Kami berangkat pukul tujuh pagi dari pelabuhan Cilacap dengan kapal feri yang dipenuhi petani dan pedagang, serta guru-guru yang mengajar di bagian pedalaman, bergerak melawan arus Sungai Citanduy. Panoramanya sangat mengagumkan: keluar dari kepungan kapal-kapal minyak dan kargo, dengan laju yang perlahan, kami terapung-apung di muara yang mahaluas itu. Bangau beterbangan dan monyet bergelantungan di dahan bakau. Ada sampan-sampan nelayan yang bergerak malas.
Aku membawa perkakas berkemah dan alat berburu dalam satu carrier besar, meskipun tak ada niat untuk memburu apapun kecuali persiapan kecil menghadapi binatang-binatang buas. Don Jarot tengah sibuk dengan handycam dan buku catatan, sejak dari pelabuhan ia terus merekam apa pun. Kami telah merencanakan dokumentasi ini sejak awal keberangkatan: barangkali bisa membuat video bagus untuk Discovery Chanel atau National geographic. Tadinya aku berpikir untuk menyewa seorang penunjuk jalan, tetapi Don Jarot meyakinkanku bahwa ia mengenal tempat ini seperti ia mengenal ujung hidungnya sendiri. Lagipula ia tak ingin orang lain tahu masih ada caronang hidup di delta-delta, sebab bahkan penduduk setempat hanya mengenal namanya dan mengira itu hanya binatang mitologis belaka.
Kami berhenti di tempat yang sanagat aneh: di perbatasan antara laut dan sungai. Don Jarot menunjukkan garis pemisahnya, kecoklatan dan membentang ke kiri dan ke kanan, tak hilang oleh riak air. Aku berpikir seseorang membentangkan pita coklat di dasar sungai, tetapi Don Jarot menegaskanku, bahwa garis itu sungguh-sungguh alami, semesta sendiri yang menciptakannya. Karena disekitar tempat itu tak ada dermaga untuk berlabuh, kami dijemput perahu kayu tanpa kitir yang mengerikan, dan diturunkan di satu pulau terdekat dengan penghuni hanya 3 keluarga nelayan.
Perahunya kami sewa untuk masuk ke daerah pedalaman. Aku sebenarnya agak mengeluh dan bertanya apakah tidak sebaiknya menyewa perahu berkitir. Don Jarot hanya tertawa, menjelaskan bahwa perahu berkitir hanya dibutuhkan untuk menghadapi gelombang-gelombang besar. Di sungai tak ada gelombang katanya. Lagipula kemudian kami masuk ke anaka-anak sungai yang sempit dengan permukaan air yang tertutup hamparan lumut dan pakis. Selama perjalanan, sementara ia mendayung, aku dilanda kepanikan tertentu. Meskipun memang benar perahunya tampak stabil, fakta bahwa di dasar sungai buaya dan biawak masih hidup sungguh-sungguh tak membuat perjalanan ini menyenangkan.
“Tunggulah keajaiban segera datang” kata Don Jarot. Itu benar. Hal-hal ajaib segera menunggu kami begitu menerobos daerah pedalaman berawa-rawa. Aku melihat seekor ikan sebesar telapak tangan berjalan di lumpur, dengan sirip yang sungguh-sungguh telah menyerupai kaki. Kemudian di sebuah lubuk, aku menemukan ikan hiu kecil, hanya sebesar pergelangan, dan hidup di air tawar. Dengan penuh suka cita, Don Jarot merekam semuanya sambil berteriak-teriak, eureka, inilah keajaiban evolusi, demi dewa Darwin! Ada keajaiban-keajaiban lain yang membuatku lupa kepada buaya, sebelum bertemu keajaiban sesungguhnya: caronang.
Selama hari-hari tanpa kerja, aku sering bermalas-malasan di halaman rumah untuk melumasi senapan berburuku yang tak pernah dipakai. Kadang-kadang aku membuang peluru ke langit, sambil berpikir itu bisa membuat awan mencair dan menurunkan hujan di udara yang panas. Barangkali saat-saat seperti itulah, tanpa aku sadari, caronang kami mengintip dari kaca jendela dan melihat bagaimana aku memperlakukan senapan tersebut. Lagipula ia pernah melihatku menembak tikus besar di dapur, setelah serangannya yang menjengkelkan pada malam-malam terakhir.
Semalam caronag itu bertengkar hebat dengan Baby untuk hal yang mebingungkan. “Mereka berebut selimut,” kata istriku. Memang benar, keduanya tidur satu ranjang sejak kami membawa binatang itu ke rumah. Pertengkaran itu, dimana Baby menjerit-jerit dan si caronang menggonggong, berakhir dengan ditendangnya caronang oleh Baby dari tempat tidur. Caronang lari ke kamar istriku, bersembunyi di ketiaknya, dan kami menemukannya tengah menangis. Itu hal yang tak mengejutkan. Beberapa wktu lalu kami pernah memelihara seekor lutung dengan perilaku yang serupa itu: cengeng dan gampang menangis. Barangkali karena ia masih begitu muda.
Aku berhasil membawanya setelah Don Jarot membius satu gerombolan keluarga caronang, sebab jika tidak, bisa dipastikan mereka tak akan membiarkan kami membawa seekor diantara mereka. Demikianlah kemudian bagaimana hari paling malang dalam hidup kami datang. Pagi-pagi sekali binatang itu telah turun dari tempat tidur istriku, mengambil senapan dan pelurunya di gudang, lalu mengetuk pintu kamar Baby. Baby belum juga terbebas dari tidurnya, masih terduduk dengan kebingungan, sebelum senapan meletus dan mengakhiri hidupnya. Ia hendak masuk taman kanak-kanak dua bulan ke depan, mati dalam dua tembakan seekor karonang.
Bahkan ditengah-tengah kesedihan yang begitu rupa, tak mungkin bagiku untuk menceritakan fakta tersebut. Tidak juga istriku. Maka, setelah pemakaman yang juga dihadiri Don Jarot (ia mencoba menghiburku dengan sia-sia), polisi segera menahanku. Kepada mereka aku tak membantah apa pun, dan membenarkan semua tuduhan terhadapku. Bersama polisi, kami membangun kisah fiktif yang meyakinkan ini:
Diujung malam aku mendengar suara-suara mencurigakan dan segera berpikir ada seorang pencuri. Aku mengambil senapan berburuku dan mengira suara itu datang dari kamar Baby. Aku memanggil-manggil namanya, tetapi Baby tak juga menjawab. Au mendobrak pintu dan melihat sosok besar di hadapanku. Sebenarnya itu Baby yang berdiri di atas tempat tidur, tetapi aku terlanjur menembaknya, dua kali dalam rasa terkejut. Pengadilannya berjalan tanpa kerumitan apa pun. Istriku bersaksi memang begitulah kejadiannya. Mereka menghukumku tiga tahun, disebabkan perilakuku yang baik, belum pernah ditahan, masih muda, dan sangat menyesal. Selama itu, satu-satunya yang aku inginkan adalah pulang dan membunuh sendiri caronang itu. “Tak perlu” kata istriku. “Don jarot telah membunuhnya, disembelih dan dijual ke warung sate anjing.” Itu lebih baik. Bagaimanapun sangatlah berbahaya membiarkan mereka terus hidup, terutama membiarkan mereka semakin cerdas, hingga suatu ketika bisa memanggil diri mereka sendiri Lupus Sapien.
RERERENSI
https://ridwanhasyimi.blogspot.co.id/2016/11/sosialime-caronang-ekstraksi-marlam11.html
Bagaimanapun ia masih mewarisi bentuk nenek moyangnya: kepalanya serupa betul dengan kepala anjing, meski di bagian-bagian tertentu lebih mengingatkanku kepada kelelawar. Lonjong dan ramping seperti anjing jenis Borzoi, dengan bulu lebat putih berbercak-bercak hitam. Ia juga menggonggong, dan pada malam hari kadang-kadang melolong.
Kami tak pernah memberinya kesempatan ke luar rumah, dan menyembunyikannya jika tamu datang. Satu-satunya orang yang tahu kami memelihara caronang adalah seorang teman lama yang memperkenalkanku dengan binatang ini di habitatnya. Tetapi, binatangnya sendiri cepat belajar bahwa itu baik bagi dirinya sendiri, dan jika orang lain tahu keberadaannya, kehidupan damainya akan segera berakhir.
Waktu itu kami belum tahu justru kehidupan damai kamilah yang akan segera berakhir. Kami tahu hal yang menyenangkan dari seekor anjing adalah kita bisa mengajarinya hal-hal tak bermutu dari seekor anjing. Istriku melatihnya mengambil koran dari bawah pintu, mengambil sepatuku pada pagi hari, sebelum kami menyadari ia bisa diajari lebih banyak dariapada seekor anjing biasa. Saat itulah kami terpesona melihatnya duduk bersama Baby dan memulas-mulas pensil warna di buku gambar. Belakangan hari ia pergi mandi sendiri, memberi sampo ke tubuhnya, meskipun tentu saja denga kesembronoan yang meggelikan. Seandainya ia bukan seekor caronang, dan tak lebih dari seekor pudel cerdas, kami bakalan kaya raya dengan membawanya ke sirkus.
Segalanya serba menyenangkan sebelum pagi yang mengerikan itu. Tanpa kami ketahui kapan ia mempelajarinya, ia telah menenteng senapan berburu, mengisi peluru, dan menarik pelatuknya. Tak hanya tahu bagaimana mempergunakannya, tetapi juga mengerti untuk apa benda seperti itu.
Semuanya berawal dari Don Jarot, teman lamaku itu. Pada umur delapan belas tahun ia datang ke Yogya untuk menjadi seniman, tetapi malahan kuliah filsafat. Ia hanya bertahan tiga tahun, dikeluarkan dengan sangat tidak terhormat, karena membunuh seorang laki-laki gara-gara rebutan perempuan. Ia menghabiskan tiga tahun di penjara Wirogunan, membunuh seorang jeger dalam perkelahian, dan segera dipindahkan ke Nusa Kambangan.
Seperti siapapun yang tinggal disana, ia segera menjadi tak betah. Sebuah pelarian segera di persiapkan. Bukan benteng kuat dan penjaga galak yang harus ia hadapi, tetapi sungai buas selebar anak samudra dengan buaya hidup di dasarnya. Orang setempat menyebut muara sungai itu sebagai Sagara Anakan, laut beranak dan ia harus meyeberanginya, bersembunyi dari satu delta ke delta lain yamg penuh dengan binatang-binatang pemangsa manusia. Tetapi, itulah yang ia lakukan. Ia berenang separuh malam, nyaris mati tertabrak kapal minyak yang hendak mendarat, tenggelam dan terbawa arus sebelum menemukan kekuatannya kembali dan terdampar di sebuah delta kecil berupa rawa penuh ilalang. “Makanan pertamaku adalah lintah yang menempel di tubuhku,” katanya.
Selama berminggu-minggu ia bersembunyi di delta-delta itu, berenang menyeberangi selat-selat kecil, berendam di rawa-rawa. Sementara satu pasukan militer mencari-carinya. Ia berhasil terbebas dari perangkap delta-delta itu, berjalan menuju hulu sungai, dan lenyap di kampung-kampung dan kota-kota. Satu-satunya hal tolol yang ia lakukan adalah merindukan kekasihnya. Ke sanalah ia pergi suatu hari dan disanalah mereka menagkapnya kembali. Ia harus menyelesaikan sisa hukumannya denga rasa lelah dan tak percaya diri.
Semua pengalamanya telah dibuat film tak lama setelah pembebasannya, ia sendiri memerani dirinya. Meskipun film itu demikian terkenal, ia tak pernah membintangi film apapun lagi, dan lebih suka kawin dengan kekasihnya serta berjualan batu-batuan dengan sedikit bualan filsafat. Filmnya sungguh-sungguh berdasarkan kisah nyata, kecuali satu bagian yang hanya ia ceritakan kepada kami.
Suatu hari, barangkali terserang deman malaria, ia jatuh sakit dalam persembunyian di delta-delta Sagara Anakan. Ia pikir dirinya nyaris mati, dan segera tak sadarkan diri. Ketika ia siuman, ia menemukan dirinya di semacam kandang babi, rumpun belukar yang dibuat menyerupai gua, dikelilingi anjing-anjing kecil. Waktu itu ia berpikir tengah menghadapi gambaran salah mengenai malaikat, tetapi ketika mereka menyodorkan ikan-ikan kecil untuk dimakannya mentah-mentah, ia segera menyadarinya sebagai si binatang legenda Caronang.
Jauh sebelum ini, kami pernah mendiskusikan soal binatang-binatang punah. Kami mengumpulkan ensiklopedi dan catatan perjalanan serta cerita-cerita rakyat dan sama-sama mengambil kesimpulan barangkali mereka belum sungguh-sungguh punah. Kami berencana melakukan satu petualangan gila-gilaan untuk mencari harimau jawa, dan tentu saja juga Caronang, sebelum Don Jarot harus masuk tahanan dan tahun-tahun kemudian berlalu.
Tak lama setelah pemutaran perdana filmnya, Don Jarot datang kepadaku dan menceritakan soal pertemuannya dengan caronang itu. Idenya untuk menemukan mereka kembali sungguh-sungguh menggairahkanku, maka kami pun berangkat.
BINATANG ini sangat endemik, hanya ada di beberapa delta sekitar Sagara Anakan. Pada masa lalu barangkali mereka berkeliaran di hutan-hutan jawa sebelum terdesak ke sana.
Kami berangkat pukul tujuh pagi dari pelabuhan Cilacap dengan kapal feri yang dipenuhi petani dan pedagang, serta guru-guru yang mengajar di bagian pedalaman, bergerak melawan arus Sungai Citanduy. Panoramanya sangat mengagumkan: keluar dari kepungan kapal-kapal minyak dan kargo, dengan laju yang perlahan, kami terapung-apung di muara yang mahaluas itu. Bangau beterbangan dan monyet bergelantungan di dahan bakau. Ada sampan-sampan nelayan yang bergerak malas.
Aku membawa perkakas berkemah dan alat berburu dalam satu carrier besar, meskipun tak ada niat untuk memburu apapun kecuali persiapan kecil menghadapi binatang-binatang buas. Don Jarot tengah sibuk dengan handycam dan buku catatan, sejak dari pelabuhan ia terus merekam apa pun. Kami telah merencanakan dokumentasi ini sejak awal keberangkatan: barangkali bisa membuat video bagus untuk Discovery Chanel atau National geographic. Tadinya aku berpikir untuk menyewa seorang penunjuk jalan, tetapi Don Jarot meyakinkanku bahwa ia mengenal tempat ini seperti ia mengenal ujung hidungnya sendiri. Lagipula ia tak ingin orang lain tahu masih ada caronang hidup di delta-delta, sebab bahkan penduduk setempat hanya mengenal namanya dan mengira itu hanya binatang mitologis belaka.
Kami berhenti di tempat yang sanagat aneh: di perbatasan antara laut dan sungai. Don Jarot menunjukkan garis pemisahnya, kecoklatan dan membentang ke kiri dan ke kanan, tak hilang oleh riak air. Aku berpikir seseorang membentangkan pita coklat di dasar sungai, tetapi Don Jarot menegaskanku, bahwa garis itu sungguh-sungguh alami, semesta sendiri yang menciptakannya. Karena disekitar tempat itu tak ada dermaga untuk berlabuh, kami dijemput perahu kayu tanpa kitir yang mengerikan, dan diturunkan di satu pulau terdekat dengan penghuni hanya 3 keluarga nelayan.
Perahunya kami sewa untuk masuk ke daerah pedalaman. Aku sebenarnya agak mengeluh dan bertanya apakah tidak sebaiknya menyewa perahu berkitir. Don Jarot hanya tertawa, menjelaskan bahwa perahu berkitir hanya dibutuhkan untuk menghadapi gelombang-gelombang besar. Di sungai tak ada gelombang katanya. Lagipula kemudian kami masuk ke anaka-anak sungai yang sempit dengan permukaan air yang tertutup hamparan lumut dan pakis. Selama perjalanan, sementara ia mendayung, aku dilanda kepanikan tertentu. Meskipun memang benar perahunya tampak stabil, fakta bahwa di dasar sungai buaya dan biawak masih hidup sungguh-sungguh tak membuat perjalanan ini menyenangkan.
“Tunggulah keajaiban segera datang” kata Don Jarot. Itu benar. Hal-hal ajaib segera menunggu kami begitu menerobos daerah pedalaman berawa-rawa. Aku melihat seekor ikan sebesar telapak tangan berjalan di lumpur, dengan sirip yang sungguh-sungguh telah menyerupai kaki. Kemudian di sebuah lubuk, aku menemukan ikan hiu kecil, hanya sebesar pergelangan, dan hidup di air tawar. Dengan penuh suka cita, Don Jarot merekam semuanya sambil berteriak-teriak, eureka, inilah keajaiban evolusi, demi dewa Darwin! Ada keajaiban-keajaiban lain yang membuatku lupa kepada buaya, sebelum bertemu keajaiban sesungguhnya: caronang.
Selama hari-hari tanpa kerja, aku sering bermalas-malasan di halaman rumah untuk melumasi senapan berburuku yang tak pernah dipakai. Kadang-kadang aku membuang peluru ke langit, sambil berpikir itu bisa membuat awan mencair dan menurunkan hujan di udara yang panas. Barangkali saat-saat seperti itulah, tanpa aku sadari, caronang kami mengintip dari kaca jendela dan melihat bagaimana aku memperlakukan senapan tersebut. Lagipula ia pernah melihatku menembak tikus besar di dapur, setelah serangannya yang menjengkelkan pada malam-malam terakhir.
Semalam caronag itu bertengkar hebat dengan Baby untuk hal yang mebingungkan. “Mereka berebut selimut,” kata istriku. Memang benar, keduanya tidur satu ranjang sejak kami membawa binatang itu ke rumah. Pertengkaran itu, dimana Baby menjerit-jerit dan si caronang menggonggong, berakhir dengan ditendangnya caronang oleh Baby dari tempat tidur. Caronang lari ke kamar istriku, bersembunyi di ketiaknya, dan kami menemukannya tengah menangis. Itu hal yang tak mengejutkan. Beberapa wktu lalu kami pernah memelihara seekor lutung dengan perilaku yang serupa itu: cengeng dan gampang menangis. Barangkali karena ia masih begitu muda.
Aku berhasil membawanya setelah Don Jarot membius satu gerombolan keluarga caronang, sebab jika tidak, bisa dipastikan mereka tak akan membiarkan kami membawa seekor diantara mereka. Demikianlah kemudian bagaimana hari paling malang dalam hidup kami datang. Pagi-pagi sekali binatang itu telah turun dari tempat tidur istriku, mengambil senapan dan pelurunya di gudang, lalu mengetuk pintu kamar Baby. Baby belum juga terbebas dari tidurnya, masih terduduk dengan kebingungan, sebelum senapan meletus dan mengakhiri hidupnya. Ia hendak masuk taman kanak-kanak dua bulan ke depan, mati dalam dua tembakan seekor karonang.
Bahkan ditengah-tengah kesedihan yang begitu rupa, tak mungkin bagiku untuk menceritakan fakta tersebut. Tidak juga istriku. Maka, setelah pemakaman yang juga dihadiri Don Jarot (ia mencoba menghiburku dengan sia-sia), polisi segera menahanku. Kepada mereka aku tak membantah apa pun, dan membenarkan semua tuduhan terhadapku. Bersama polisi, kami membangun kisah fiktif yang meyakinkan ini:
Diujung malam aku mendengar suara-suara mencurigakan dan segera berpikir ada seorang pencuri. Aku mengambil senapan berburuku dan mengira suara itu datang dari kamar Baby. Aku memanggil-manggil namanya, tetapi Baby tak juga menjawab. Au mendobrak pintu dan melihat sosok besar di hadapanku. Sebenarnya itu Baby yang berdiri di atas tempat tidur, tetapi aku terlanjur menembaknya, dua kali dalam rasa terkejut. Pengadilannya berjalan tanpa kerumitan apa pun. Istriku bersaksi memang begitulah kejadiannya. Mereka menghukumku tiga tahun, disebabkan perilakuku yang baik, belum pernah ditahan, masih muda, dan sangat menyesal. Selama itu, satu-satunya yang aku inginkan adalah pulang dan membunuh sendiri caronang itu. “Tak perlu” kata istriku. “Don jarot telah membunuhnya, disembelih dan dijual ke warung sate anjing.” Itu lebih baik. Bagaimanapun sangatlah berbahaya membiarkan mereka terus hidup, terutama membiarkan mereka semakin cerdas, hingga suatu ketika bisa memanggil diri mereka sendiri Lupus Sapien.
RERERENSI
https://ridwanhasyimi.blogspot.co.id/2016/11/sosialime-caronang-ekstraksi-marlam11.html
Konfigurasi telnet server dan SSH server - LKS Papua Barat 2016
in
Linux Debian,
LKS
- on September 23, 2016
- No comments
Telnet atau Telecommunications Network Protocol adalah perangkat lunak yang digunakan untuk melakukan kontrol jarak jauh pada sistem komputer. Pengertian dari Telnet bisa dijabarkan sebagai remote login yang yang terjadi pada jaringan komputer yang memungkinkan penggunanya dapat melakukan login dan bekerja dari jarak yang jauh melalui jaringan internet. Pengguna dapat mengakses dan menjalankan komputer dari jarak yang jauh melalui service dari protokol telnet. Fungsi utama dari telnet adalah untuk mengontrol dan mengakses komputer dari jarak yang jauh melalui jaringan internet. Telnet juga memungkinkan pengguna untuk melalukan login sebagai administrator atau user dan menjalankan program atau aplikasi yan ada pada komputer tersebut.Kelebihan Telnet
Kelebihan menggunakan telnet adalah memudahkan pengguna untuk mengakses komputer dari jarak yang jauh.selain itu user interface yang cukup ramah, maksudnya pengguna dapat memberikan perintah dari jarak jauh (remote) jadi seolah-olah penggunanya mengeksekusi perintah pada command line pada komputer tersebut.
Kekurangan Telnet
Adapun kekurangan dari Telnet yaitu tingkat keamanan data dan program kurang baik yang memungkinkan pengguna NTLM authentication tanpa adanya enkripsi sehingga dapat memudahkan pencurian password yang dilakukan oleh sniffers, jika kita administrator sistem maka disarankan untuk menggunakan SSH pada Linux daripada Telnet Server untuk mengkonfigurasikan sistem kita.
Konfigurasi Telnet Server
- Paket konfigurasi telnet ada cd debian binary 1 dan 2. Masukan CD binary 1 lalu ketikan perintah #apt-get install telnetd
- Di tengah proses instalasi, anda akan diminta memasukkan CD debian binary 2. Lalu masukan dan tekan enter untuk melanjutkan. Seteleh itu, install paket sudo yang biasanya ada di CD binary 1, dengan perintah #apt-get install sudo
- Jika sudah selesai, lakukan konfigurasi seperti pada gambar dengan terlebih dahulu mengetikan perintah #visudo. Cari Kalimat root ALL=(ALL) ALL lalu tambahkan dibawahnya nama_user ALL=(ALL) ALL. Jangan lupa untuk menyimpan pengaturan.
- Jangan lupa simpan pengaturannya, lalu buat user baru dengan perintah seperti pada gambar.
- Saatnya untuk mencoba apakah konfigurasi yang kita buat berhasil. Ikuti perintah yang ada pada gambar. Kita login dengan user yang baru dibuat.
- Karena pada pembahasan ini, saya sudah mengkonfigurasi PC Server, jadi saya langsung mencoba konfigurasi telnetnya dengan cara telnet ke alamat PC Server dari PC Router. Perintahnya adalah #telnet IP_PC_Router. Look at the picture bellow for example.
- Jika seperti pada gambar diatas maka, konfigurasi berhasil.
Configure SSH Server
Keuntungan dari jaringan komputer yaitu memudahkan kita dalam berbagi resource hardware ataupun software yang ada. Remote Access adalah salah satu teknologi yang digunakan untuk mengakses suatu system melalui media jaringan. Sehingga kita dapat mengkonfigurasi suatu system, dimanapun kita berada asalkan terkoneksi ke Internet atau Jaringan. Secara umum, Remote Access dibagi menjadi dua jenis yaitu Mode Desktop / GUI (Graphical User Interface), misalnya Remote Desktop, VNC, dan Radmin dan Mode Teks, misalnya telnet, ssh, raw, Rlogin dan serial. Pada pembahasan ini kita akan menggunakan SSH (Secure Shell).
- Install paket SSH dengan perintah #apt-get install ssh.
- Setelah aplikasi terinstall, layanan SSH Server sudah langsung bisa kita gunakan melalui port default 22. Jika ingin mengkonfigurasi SSH Server tersebut, edit file sshd_config yang merupakan file konfigurasi utama pada SSH Server. Dalam file ini, kita bisa merubah settingan default yang ada. Misalnya merubah port default, ataupun menambah tampilan banner SSH agar menjadi lebih menarik.
- Jangan lupa untuk menyimpan kalau sudah selesai mengedit dan restart pengaturan SSHnya.
REFERENSI
http://kumpulancaraterbaru2016.blogspot.co.id/2016/03/pengertian-dan-fungsi-telnet.html
https://huaweis9300.files.wordpress.com/2014/02/s9300-1111111.png
Sekian, semoga bermanfaat....
Oleh:
ariesrutung95
Konfigurasi FTP server - LKS Papua Barat 2016
in
Linux Debian,
LKS
- on September 22, 2016
- No comments
File Transfer Protocol (FTP) adalah protocol yang digunakan untuk mentransfer file atau data melalui media jaringan. Dalam keadaan default, FTP berjalan pada port 21 dan bekerja pada protocol TCP/IP. Dalam mengkonfigurasi FTP Server, kita bisa menggunakan dua cara yaiu User Authentication LogIn (Password Protected) dan Anonymous LogIn (Guest OK). FTP berkerja menggunakan salah satu protokol yang dapat diandalkan untuk urusan komunikasi data antara client dan server, yaitu protokol TCP (yang menggunakan port nomor 21). Port 21 ini digunakan untuk mengirimkan command (perintah). Oleh karena port 21 dimaksudkan khusus untuk mengirimkan command, maka port ini sering juga disebut dengan nama command port. Dengan adanya protokol ini, antara client dan server dapat melakukan sesi komunikasi sebelum pengiriman data berlangsung. Sebenarnya ada dua aplikasi yang paling popular untuk FTP server pada distro debian. Yaitu ProFTPd dan Vsftpd. Kali ini saya menggunakan Proftpd, karena dianggap lebih mudah dan cepat dalam konfigurasinya.
Tujuan dari FTP Server adalah untuk sharing data, menyediakan indirect atau implicit remote computer, menyediakan tempat penyimpanan bagi user, dan menyediakan transfer data yang reliable dan efisien.
Konfigurasi FTP Server
- Install aplikasi proftpd terlebih dahulu dengan perintah #apt-get install proftpd. Akan muncul jendela popup seperti di bawah ini. Pilih yang mandiri atau versi inggrisnya standalone lalu pilih OK.
- Setelah selesai menginstall proftpd, semua user yang terdaftar pada Komputer server Debian sudah bisa mengakses layanan ftp tersebut melalui web browser ataupun terminal. Direktori yang digunakan adalah direktori home setiap user. Dalam kofigurasi ini kita akan mengedit sedikit isi dari file proftpd.conf dengan perintah #nano /etc/proftpd/proftpd.config. Cari tulisan Tag: # A basic anonymous...., lalu hilangkan tanda pagar mulai dari tulisan seperti gambar dibawah ini sampai ke bagian paling bawah. Lihat gambar berikut.
- Simpan semua konfigurasinya, kemudian masuk ke directory paling atas, dengan perintah #cd /. Lihat gambar sebagai contoh.
- Buat folder untuk meletakan semua file dan data pada ftp server, dengan perintah #mkdir ftp seperti pada gambar.
- Masuk ke directory ftp, lalu buat beberapa folder seperti contoh berikut.
- Beri hak akses untuk folder yand kita buat termasuk isi di dalamnya agar bisa diakses. Dalam contoh, saya memberikan hak akses penuh terhadap folder Aplication dan Document, artinya user boleh menulis, membaca merubah, mengambil isi dari folder tersebut. Sedangkan pada folder Music, saya hanya memberikan hak akses untuk mengambil saja tanpa bisa mengunggah file ke dalammnya. Perintahnya adalah seperti pada gambar berikut.
- Masuk ke folder Document lalu buat beberapa file dengan format .txt didalam folder tersebut dengan perintah touch. Begitu juga dengan folder lainnya. Lihat gambar sebagai contoh.
- Restart pengaturan FTP dengan perintah #service proftpd restart. Kemudian dari client windows, buka Web Browser lalu ketikan alamat ip yang menuju ke client. Dalam contoh ini saya menggunakan IP 172.168.3.1. ketika pada address bar ftp.172.168.3.1. Untuk menambahkan file ke dalam folder yang kita buat dari client windows, kita bisa mengunakan aplikasi FileZilla.
REFERENSI
http://fitrituntun.blogspot.co.id/2015/11/pengertian-fungsi-dan-cara-kerja-ftp.html
http://www.nesabamedia.com/pengertian-ftp/
Sekian, selamat mencoba....
Oleh:
ariesrutung95









