Perihal Berbahasa | Anak Pantai

Perihal Berbahasa

Bahasa Indonesia merupakan salah satu bahasa yang sebagian besar kosakatanya diadopsi dari bahasa asing, baik itu bahasa Inggris, bahasa Belanda, bahasa Sanskerta, bahasa Melayu, maupun bahasa Daerah. Implikasi dari hal tersebut, memberikan batasan terhadap defenisi dari setiap kata yang diadopsi dari bahasa-bahasa asing itu harus pula dilihat berdasarkan asal-usulnya. Tidak cukup KBBI, tidak cukup Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan, tidak cukup Tesaurus Bahasa Indonesia, dan tidak cukup Glosarisum Istilah Asing-Indonesia karena buku-buku itu hadir setelah mempelajari bahasa asing, yakni kata yang dipungut tersebut. Apa saja yang dipelajari? Paling tidak yang dicari tahu adalah defenisi, penggunaanya dalam konteks tertentu, pun maknanya (berubah atau tidak) jika digunakan dalam konteks tertentu. Kendati sudah dipoles sedemikian rupa agar bentuk atau struktur asingnya dibuat sesamar mungkin dan tak kasat mata, kata tersebut tidak cukup dipahami dari  satu sisi.

Kasus yang paling luar biasa terkenal hari-hari ini adalah persoalan penggunaan istilah fiksi yang disematkan ke dalam kita suci. Banyak pihak yang mendebat istilah tersebut dan memosisikan dirinya dari sudut bahasa Indonesia, dalam hal ini KBBI. Sementara itu, yang bersangkutan mengakui bahwa istilah itu didefenisikan bukan dari KBBI, melainkan diteropong dari kacamata alias sudut pandang dunia luar. Karena kedua pihak memiliki tolok ukur yang berbeda, perdebatan itu pun tak kunjung selesai dan berakhir di pihak berwajib karena ucapan tersebut dianggap menista golongan tertentu.

Yang perlu dicermati adalah ucapan terlapor (saya menggunakan kata terlapor karena yang bersangkutan sudah dilaporkan ke pihak berwajib) tidak dapat ditafsirkan dari sudut pandang penilai saja. Seorang penilai mesti memosisikan dirinya seperti sudut pandang terlapor. Bahwasannya, apa yang diucapkan oleh terlapor merupakan persoalan argumentasi yang oleh terlapor sendiri dapat memberikan penjelasan dari sisi akademis.

Permasalahan di atas memberikan sinyal kepada kita bahwa memang bahasa Indonsia sangat syarat dengan konteks. Jika kita hendak berbicara mengenai kesalahan berbahasa, kita mesti pandai menempatkan diri pada posisi yang tepat. Pasalnya, tidak semua yang kita sebut salah adalah kesalahan, tidak semua yang dianggap benar adalah baik, dan tidak semua yang dianggap baik adalah benar. Kita harus paham, kapan suatu kekeliruan dikategorikan sebagai kesalahan dan kapan sebuah kesalahan dipandang sebagai hal yang keliru.  Kita juga harus jeli meneropong setiap kesalahan dari berbagai sisi. Kita harus jauhkan ego dan mulai melihat kesalahan dari sudut pandang berbeda. Barangkali, hal yang kita pandang salah dan/atau benar belum tentu demikian, bisa saja keliru.

Atas dasar itu, pengetahuan dasar untuk memahami kesalahan dan kekeliruan berbahasa haruslah betul-betul dimiliki oleh setiap individu pemakai bahasa. Yang perlu kita pahami adalah bahwa kekeliruan dan kesalahan merupakan dua hal yang berbeda meski kadang tak dapat dibedakan oleh mereka yang tak paham asal-usul kata tersebut. Jika pijakan kita adalah KBBI, maka pengetahuan kita tak cukup. Apalagi, KBBI kita bersifat dinamis yakni selalu berubah-ubah. Coba keluar dari bahasa Indonesia dan gunakan parameter bahasa Inggris. Kita akan menemukan kata-kata yang berbeda, yakni error, mistake, dan lapse. Error berbeda dengan mistake dan lapse sedangkan mistake sama dengan lapse.

Catatan kritis yang perlu saya kemukakan dalam tulisan ini adalah bahwa defenisi sebuah kata tidak terbatas pada KBBI dan buku-buku terkait lainnya, tetapi juga perlu dilihat dari mana asal kata tersebut. Bahwa kosakata bahasa Indonesia tak cukup banyak untuk mendefenisikan atau menggambarkan sesuatu secara sempurna agar tidak lagi menimbulkan banyak tanda tanya. Di sisi lain, bukan saja kosakata yang tidak cukup, melainkan juga tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Kata facebook, misalnya. Kemampuan memahami situasi dan kondisi ketika orang lain mengucapkan sesuatu akan sangat berpengaruh pada pembentukan sikap dalam mengambil keputusan. Hal ini akan berpengaruh pada bahasa yang digunakan dalam mengekspresikan diri.


==========
Author:
ariesrutung95

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar. Kritiklah sesuka Anda!

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA