Mengenal Filsafat Bahasa Biasa dan aliran Linguistik-Struktural Saussurian | Anak Pantai

Mengenal Filsafat Bahasa Biasa dan aliran Linguistik-Struktural Saussurian

Filsafat Bahasa Biasa merupakan aliran yang menentang pemikiran aliran Linguistik-Struktural Saussurian. Filsafat Bahasa Biasa melihat bahasa bukan sekadar alat komunikasi tetapi juga merupakan persoalan penggunaanya yang terkonteks dalam kehidupan masyarakat pemakai bahasa. Oleh karena itu, dalam teori Filsafat Bahasa Biasa terdapat istilah tata permainan bahasa yang dimaknai sebagai upaya penggunaan bahasa oleh komunitas (guyup tutur) tertentu dengan menggunakan kaidah atau gaya yag disepakati dalam komunitas tersebut. Sebagai contoh, bahasa yang dipakai dalam periklanan tentu harus persuatitf sehingga berbeda dengan bahasa dalam karya sastra. Atau, bahasa yang digunakan dalam makalah, karya ilmiah, skripsi, tesis, disertasi memiliki aturannya tersendiri. Penggunaan aturan-aturan yang disepakati dalam lingkup tertentu itulah yang disebut sebagai tata permainan bahasa. Lebih lanjut dapat dikatakan bahwa tata permainan bahasa adalah segala bentuk ungkapan bahasa yang sesuai dengan konteks (ranah) masyarakat penggunanya dan merupakan suatu cerminan nilai dan aturan tertentu (Wibowo, 2018: 12). Di sisi hal itu, Filsafat Bahasa Biasa menfokuskan diri pada bahasa biasa atau bahasa yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari yang terkonteks dengan kehidupan penutunya, sebagai ruang lingkup (scope) pembicaraannya.

Berbeda halnya dengan filsafat bahasa biasa, aliran Linguistik-Struktural Saussurian melihat bahasa sebagai sebuah unsur yang terlepas dari kehidupan penuturnya. Dengan perkataan lain, linguistik struktul sausurian melihat bahasa sebagai hal yang terbalik atau tidak terkonteks dengan kehidupan para penuturnya, sebagaimana dijelaskan dalam Filsafat Bahasa Biasa. Dalam pernyataan lain, lienguistik struktural menganggap bahasa hanya sebagai gejala empiris, yang identik dengan gejala alam biasa, yang memiliki struktur dan sistemnya sendiri, dan karena itu sama sekali tidak terkonteks dengan kehidupan manusia (Wibowo, 2018: 20).

Pencetus aliran filsafat bahasa biasa bernama Ludwig Wittgenstein, seorang profesor (guru besar) Filsafat Bahasa di Universitas Cambrige London, Inggris. Beliau memiliki banyak murid, akan tetapi yang mengikuti jejaknya hanya satu orang, yakni Langshaw Austin. Ia berhasil merumuskan teori-teori tentang ontologi dan epistemologi dari aliran Filsafat Bahasa Biasa yang kemudian diaplikasikan oleh muridnya, Austin. Sehingga, sampai hari ini sering kali yang dikenal sebagai pencetus aliran Filsafat Bahasa adalah Wittgenstein dan Austin. Dari situlah, cikal-bakal Filsafat Bahasa Biasa yang di Indonesia sendiri belum terlalu dibahas secara luas. Akan tetapi, jika melihat dan membaca buah pikiran Dr. Wahyu Wibowo melalui buku-buku yang berhasil ditulisnya, sebenarnya di Indonesia sendiri sudah ada yang mengupas dan mengulas tentang aliran Filsafat Bahasa Biasa. Memang agak sulit diterapkan di sekolah-sekolah, sebab aliran lingusitik-struktural Sausurian sudah lebih dahulu meracuni pikiran-pikiran manusia terdidik Indonesia, sehingga tentu saja sulit untuk dikembangkan.

Sementara itu, aliran Linguistik-Struktural Sausurian, seperti yang dikenal di dunia pendidikan di Indonesia, misalnya tentang “bahasa baku” dan “bahasa nonbaku” atau “kalimat baku” dan “kalimat nonbaku” adalah bentuk hegemoni (dominasi) aliran Linguistik-Struktural Saussurian dalam kehidupan pendidikan kita (Wibowo, 2018: 22). Sesuai dengan namanya, pencetus aliran ini adalah Ferdinan de Saussure, seorang dosen linguistik Universitas Jenewa yang kemudian dikenal sebagai Bapak Linguistik Modern berkebangsaan Swiss.

Harus kita akui, baik aliran Filsafat Bahasa Biasa dan aliran Linguistik-Struktural Saussurian secara ontologis (hakikat) memang tidak dapa dipertentangkan, karena saling berbeda pijakan. Akan tetapi, dari segi epistemologi, kedua lairan ini mengindikasikan pertentangan tajamnya (Wibowo, 2018: 20-21). Oleh karena itu, Saussure dikenal sebagai Bapak Linguistik Modern, sedangkan Wittgenstein dikenal sebagai Bapak Filsafat Kontemporer (Wibowo, 2018: 21).


Referensi
Wibowo, Wahyu. 2018. Komunikasi Kontekstual: Kontruksi Terapi-Praksis Aliran Filsafat Bahasa Biasa. Jakarta: Bumi Aksara.


==========
Author:
ariesrutung95

1 komentar:

Post a Comment

Jangan lupa tinggalkan komentar. Kritiklah sesuka Anda!

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA