Anak Pantai : Sintaksis BI

Pengertian kelas kata tertutup

Kelas kata tertutup adalah kelas kata jumlah keanggotaanya terbatas dan tidak tampak kemungkinan untuk bertambah atau berkurang. Yang termasuk kelas kata tetutup adalah kelas adverbia, kelas preposisi, kelas konjungsi, kelas artikula, dan kelas interjeksi (Abdul Chaer, 2008:83). Beberapa jenis kelas kata tertutup adalah sebagai berikut:


Adverbia
Adverbia lazim disebut kata keterangan atau kata keterangan tambahan. Fungsinya adalah menerangkan kata kerja, kata sifat, dan jenis kata lainnya. Adverbia disebut juga kata-kata yang bertugas mendampingi nomina, verba, dan ajektifa. Adverbia pada umumnya berupa bentuk dasar.

Konjungsi
Konjungsi atau kata pengubung adalah kata-kata yang menghubungkan satuan-satuan sintaksis, baik antara kata dengan kata, antara frase dengan frase, antara klausa dengan klausa atau antara kalimat dengan kalimat. Dilihat dari tingkat kedudukannya dibedakan adanya (1) konjungsi koordinatif, (2) konjungsi sbordinatif. Dilihat dari luas jangkauannya ada (1) konjungsi intrakalimat, dan (2) konjungsi antarkalimat.

Preposisi
Preposisi atau kata depan adalah kata-kata yang digunakan untuk merangkaikan nomina dengan verba di dalam suatu klausa.

Penjelasan lebih lanjut dari materi kelas kata tertutup dapat dilihat DI SINI.

Fungsi dan kategori sintaksis

Sintaksis adalah cabang ilmu bahasa (linguistik) yang mempelajari frasa, klausa, dan kalimat serta bagaimana unsur-unsur tersebut membangun suatu kalimat yang bermakna dalam tuturan.  Sintaksis merupakan bidang linguistik setelah fonologi dan morfologi yang merupakan satu-lesatuan dalam lingusitik. Setiap cabang mempunyai kaitan yang erat dengan cabang yang lain karena merupakan satu rumpun utama yaitu lingusitik itu sendiri. Berikut ini akan dijelaskan mengenai fungsi dan kategori sintaksis.

Fungsi Sintaksis
Fungsi sintaksis ada lima, yaitu subjek (S), predikat (P), objek (O), komplemen (Kom), dan keterangan (Ket). Dari kelima fungsi tersebut, tidak semuanya harus ada dalam suatu kalimat. Fungsi sintaksis yang harus hadir hanya subjek dan predikat, sedangkan objek, komplemen, dan keterangan tidak wajib ada. Fungsi-fungsi tersebut akan diisi oleh kata, frasa, dan klausa. Berikut ini uraian kelima fungsi tersebut:
  1. Subjek merupakan orang atau benda yang melakukan tindakan yang ditunjukkan oleh kata kerja atau yang dalam keadaan digambarkan oleh kata kerja. Subjek kalimat biasanya diisi dengan kata benda atau kata ganti orang/benda.
  2. Predikat yaitu unsur yang membicarakan atau menjelaskan pokok atau subjek kalimat.
  3. Objek yaitu unsur kalimat yang kehadirannya dituntut oleh verba transitif pengisi predikat dalam kalimat aktif.
  4. Komplemen yaitu unsur kalimat yang kehadirannya dituntut oleh predikat aktif yang diisi oleh verba intransitif dan predikat pasif yang verbanya dilekati prefiks di- sebelumnya.
  5. Keterangan yaitu unsur kalimat yang memberi keterangan kepada seluruh kalimat diantaranya:
  6. Pengubah (modifier) yaitu semua kata dalam kalimat yang bukan kata kerja, subjek, objek langsung, objek tidak langsung, atau pelengkap.
Kategori Sintaksis
Kategori sintaksis adalah jenis atau tipe kata atau frasa yang menjadi pengisi fungsi-fungsi sintaksis (Chaer, 2009: 27). Kategori sintaksis tersebut berkenaan dengan istilah nomina, verba, adjektiva, adverbia, numeralia, preposisi, konjungsi, dan pronomina. Pengisi fungsi tersebut dapat berupa frasa, sehingga selain kelas kata yang nomina, terdapat pula frasa nominal. Begitu juga dengan  adjektiva, adverbia, numeralia, preposisi, konjungsi, dan pronomina  yang  dapat berupa frasa sebagai pengisi fungsi sintaksis.

Menurut Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Alwi, dkk, 2003: 36), bahasa Indonesia memiliki empat kategori sintaksis yang utama, yaitu: (1) verba atau kata kerja, (2) nomina atau kata benda, (3) adjektiva atau kata sifat, dan (4) adverbia atau kata keterangan. Di samping kategori utama, terdapat juga kata tugas yang terdiri atas preposisi atau kata depan, konjungtor atau kata sambung, dan partikel.

Adapun pembicaraan kategori sintaksis dalam makalah ini menggabungkan kedua pendapat di atas, sehingga kategori sintaksis yang dibicarakan meliputi: (a) nomina dan frasa nominal, (b) verba dan frasa verbal, (c) adjektiva dan frasa adjektiva, (d) adverbia dan frasa adverbial, (e) numeralia dan frasa numeralia, (f) pronomina dan frasa pronominal, dan (g) frasa preposisional.

Dalam bahasa Indonesia ada sejumlah verba transitif yang objeknya tidak perlu ada atau keberadaannya ditanggalkan. Verba transitif yang objeknya tidak perlu ada atau menyatakan kebiasaan. Verba yaitu kelas kata yang memiliki makna berhubungan dengan (inheren)  perbuatan (aksi), proses atau keadaan yang bukan sifat atau kualitas.Dilihat dari bentuknya verba bisa berupa verba asal (misal: datang, mandi, tidur), bisa pula verba turunan (misal: mendarat, (mem)baca, bertemu, berjalan-jalan, campur tangan). Kata-kata berimbuhan me-, di-, ber-, ter-, -kan, dan i adalah kata yang berkategorikan verbal. Nomina atau kata benda yaitu kata yang mengacu pada manusia, benda, binatang, konsep atau pengertian (sesuatu yang dibendakan). Secara sintaksis nomina cenderung menduduki fungsi subjek, objek, dan pelengkap. Adjektiva atau kata sifat yaitu kata yang menyatakan sifat atau keadaaan. Adverbia yaitu kata yang menjelaskan verba, adjectiva, atau adverbia lain.
Alat-alat sintaksis
Eksistensi struktur sintaksis terkecil ditopang oleh urutan kata, bentuk kata, intonasi, bisa juga di tambah konektor yang berupa konjugasi. Peranan ketiga alat sintaksis (bentuk kata, intonasi, dan urutan kata) tampaknya tidak sama antara bahasa yang satu dengan yang lain.
  1. Urutan kata | Dalam bahasa Indonesia urutan kata itu tampaknya sangat penting. Perbedaan urutan kata dapat menimbulkan perbedaan makna. Dalam bahasa latin yang memegang peranan penting dalan sintaksis bukanlah urutan kata melainkan bentuk kata. Meskipun letaknya dimana saja, tapi makna gramatikalnya tidak akan berubah dan tidak akan terjadi kesalahpahaman. 
  2. Bentuk kata | Kata dalam bahasa Indonesia dan dalam bahasa Latin memang tidak sama. Dalam bahasa Latin bentuk kata itu tampaknya berperan mutlak sedangkan dalam bahasa Indonesia tidak. Hal ini terjadi karena dalam bahasa Latin urutan kata hampir tak mempunyai peran, sedangkan dalam bahasa Indonesia urutan kata mempunyai peran.
  3. Intonasi | Batas antara subjek dan predikat dalam bahasa Indonesia biasanya ditandai dengan intonasi nada naik dan tekanan.
  4. Konektor | Konektor bertugas menghubungkan satu konstituen dengan yang lain, baik yang berada dalam kalimat maupun yang berada diluar kalimat. Dilihat dari sifat hubungannya dibedakan adanya 2 konektor yaitu konektor koordinatif dan subordinatif. Konektor koordinatif adalah konektor yang menghubungkan 2 buah konstituen yang sama kedudukannya atau sederajat. Kojungsinya berupa dan, atau, dan tetapi. Konektor subordinatif adalah konektor yang menghubungkan 2 buah konstituen yang kedudukannya tidak sederajat. Konstituen yang satu merupakan konstituen atasan dan konstituen yang lain menjadi konstituen bawahan. Konjungsinya berupa kalau, meskipun, dan karena.
Satuan-satuan sintaksis
Sintaksis memiliki satuan-satuan, diantaranya sebagai berikut:
  1. Kata | Dalam tataran morfologi, kata merupakan satuan terbesar (satuan terkecilnya adalah morfem). Tetapi dalam tataran sintaksis, kata merupakan satuan terkecil yang secara hierarkial menjadi komponen pembentuk satuan sintaksis yang lebih besar, yaitu frase. Dalam pembicaraan kata sebagai pengisi satuan sintaksis, pertama-tama harus kita bedakan dulu adanya 2 macam kata yaitu kata penuh dan kata tugas.
  2. Frase | Frase lazim didenfinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonprediktif atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam suatu kalimat.
  3. Klausa | Adalah satuan sintaksis berupa runtutan kata-kata berkonstruksi prediktif. Artinya, di dalam konstruksi itu ada komponen berupa kata atau frase, yang berfungsi sebagai predikat, yang lain berfungsi sebagai subjek, sebagai objek, dan sebagai keterangan. Berdasarkan strukturnya dapat dibedakan adanya klausa bebas dan klausa terikat.
  4. Kalimat | Kalimat adalah susunan kata-kata yang teratur yang berisis pikiran yang lengkap. Akan tetapi yang paling penting menjadi dasar kalimat adalah konstituen dasar dan intonasi final. Konstituen dasar itu biasanya berupa klausa. Jadi, kalau pada sebuah klausa diberi intonasi final, maka terbentuklah kalimat. 
  5. Wacana | Adalah satuan bahasa yang lengkap, sehingga dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi dan terbesa. Persyaratan gramatikal dalam wacana dapat dipenuhi kalau dalam wacana itu sudah terbina kekohesian, yaitu adanya keserasian hubungan antara unsure-unsur yang ada dalam wacana tersebut. Bila wacana itu kohesif, akan tercipta kekoherensian, yaitu isi wacana yang apik dan benar. Untuk membuat wacana yang kohesif dan koherens itu dapat digunakan berbagai alat wacana, baik yang berupa aspek gramatikal maupunyang berupa aspek semantik atau tau gabungan antara keduanya.

REFERENSI
Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Keraf, Gorys. 1984. Tata Bahasa Indonesia. Flores: Nusa Indah.
Manaf, Ngusman Abdul, 2009. Sintaksis: Teori dan Terapannya dalam Bahasa Indonesia. Padang: Sukabina Press.
http://skripsi-artikel-makalah.blogspot.co.id/2010/04/peran-dan-fungsi-sintaksis.html

==========
Oleh:
ariesrutung95

Pengertian sintaksis bahasa Indonesia

Sintaksis adalah cabang ilmu bahasa (linguistik) yang mempelajari frasa, klausa, dan kalimat serta bagaimana unsur-unsur tersebut membangun suatu kalimat yang bermakna dalam tuturan. Sejalan dengan itu, beberapa ahli berikut mengemukakan konsep tentang sintaksis, diantaranya: (1) Abdul Chaer mengatakan bahwa sintaksis adalah bidang dari tuturan linguistik yang secara tradisional tersebut tata bahasa atau gramatika. (2) Harimurti Kridalaksana (1953) berpendapat bahwa sintaksis merupakan suatu cabang ilmu yang membicarakan struktur kalimat, klausa, dan frase. (3) Chomsky berdalil bahwa sintaksis adalah telaah mengenai prinsip-prnsip dan proses-proses yang dapat digunakan untuk membangun kalimat tertentu. (4) Ramlan (1976) berpendapat bahwa sintaksis adalah bagian dari tata bahasa yang membicarakan struktur frase dan kalimat. (5) Verhaar (1999) mengungkapkan bahwa sintaksis adalah tata bahasa yang membahas hubungan antar kalimat dalam tuturan. (6) H. G. Tarigan berpendapat bahwa sintaksis merupakan salah satu cabang dari tata bahasa yang membicarakan struktur kalimat, klausa, dan frasa. (7) Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sintaksis merupakan pengaturan hubungan kata dengan kata atau dengan satuan lain yang lebih besar; cabang linguistik tentang susunan kalimat dan bagiannya; ilmu tata kalimat; dan subsistem bahasa yang mencakup hubungan kata dengan kata atau satuan yang lebih besar dan susunan kalimat dan bagian-bagiannya.

Sintaksis terdiri atas struktur dan satuan-satuannya. Struktur sintaksis meliputi fungsi sintaksis, kategori sintaksis, dan pera sintaksis. Sedangkan satuan-satua sintaksis meliputi frasa, klausa, kalimat, dan  wacana. Pembahasan mengenai struktur dan satuan sintaksis tersebut dalam dilihat DI SINI.

REFERENSI
Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Keraf, Gorys. 1984. Tata Bahasa Indonesia. Flores: Nusa Indah.
Manaf, Ngusman Abdul, 2009. Sintaksis: Teori dan Terapannya dalam Bahasa Indonesia. Padang: Sukabina Press.
Widjono HS. 2007. Bahasa Indonesia: Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi. Jakarta: Grasindo.
http://skripsi-artikel-makalah.blogspot.co.id/2010/04/peran-dan-fungsi-sintaksis.html
https://ssvr.bukukita.com/babacms/displaybuku/58770_f.jpg

Sekian, semoga bermanfaat.

==========
Oleh:
ariesrutung95

Paragraf dalam Bahasa Indonesia - Pengertian Paragraf

Paragraf merupakan himpunan kalimat-kalimat yang bertalian dalam suatu rangkaian untuk membentuk sebuah gagasan. Paragraf dapat dilihat sebagai satuan informasi yang mempunyai gagasan utama sebagai pengendali. Artinya, gagasan utama itu akan menentukan kalimat mana yang dapat dikelompokkan ke dalam sebuah paragraf dan informasi mana yang tidak dapat dimasukkan ke dalam paragraf tersebut.  Dengan kata lain, gagasan utama dalam sebuah paragraf adalah ringkasan informasi yang dikemukakan di dalam paragraf itu. Konsekuensinya adalah bahwa informasi yang tidak dapat dirangkum oleh gagasan utama itu harus dikeluarkan dari paragraf yang bersangkutan.

Kalimat-kalimat dalam paragraf memperlihatkan kesatuan pikiran atau mempunyai keterkaitan dalam membentuk gagasan. Sebuah paragraf mungkin terdiri atas sebuah kalimat, mungkin terdiri atas dua buah kalimat, mungkin juga lebih dari dua buah kalimat. Bahkan, sering kita temukan bahwa suatu paragraf berisi lebih dari lima buah kalimat. Walaupun paragraf itu mengandung beberapa kalimat, tidak satu pun dari kalimat-kalimat tersebut yang memperbincangkan soal lain. Seluruhnya memperbincangkan satu masalah atau sekurang-kurangnya bertalian erat dengan masalah itu.

Melalui paragraf kita mendapat suatu efek lain, yaitu kita bisa membedakan di mana suatu gagasan dimulai dan berakhir. Oleh sebab itu, pembentukan suatu paragraf sekurang-kurangnya bertujuan:
  1. Memudahkan pengertian dan pemahaman dengan menceraikan suatu gagasan dengan gagasan yang lain. Oleh sebab itu, setiap paragraf hanya boleh mengandung satu gagasan. Apabila terdapat dua gagasan, paragraf itu harus dipecah menjadi dua.
  2. Memisahkan dan menegaskan perhentian secara wajar dan formal untuk memungkinkan kita berhenti lebih lama daripada perhentian pada akhir kalimat. Dengan perhentian yang lebih lama ini konsentrasi terhadap sebuah paragraf akan lebih terarah.
Struktur Paragraf 
Gagasan Utama dan Kalimat Topik
Orang sering mengacaukan gagasan utama dengan kalimat topik dalam pembicaraan mengenai paragraf. Sebagai pengendali, gagasan utama haruslah ada dalam setiap paragraf yang baik. Akan tetapi, tidak demikian halnya dengan kalimat topik. Meskipun kalimat topik memuat gagasan utama, hal itu tidak berarti bahwa kalimat topik juga harus ada dalam setiap paragraf. Dengan kata lain, kalimat topik memang menyatakan gagasan utama dalam sebuah paragraf, tetapi tidak semua gagasan utama perlu dituangkan dalam kalimat topik.
Paragraf deskriptif dan paragraf naratif, misalnya, dapat dikatakan sebagai paragraf yang baik walaupun di dalamnya tidak terdapat kalimat topik. Kalaupun dinyatakan, kalimat topik paragraf jenis ini boleh dikatakan selalu sama penyajiannya, yaitu “Seperti inilah keadaan…..itu” atau “Inilah yang terjadi”. Perhatikan contoh berikut ini.
  1. Sebuah kasur busa yang sudah tipis tergelar di pojok ruangan di bawah jendela yang sudah retak kacanya. Di sebelah kanannya ada sebuah meja kecil-pasti terbuat dari triplek-yang digunakan sebagai meja belajar sekaligus meja makan. Di sisi lainnya, berdiri sebuah lemari plastik yang tampaknya masih baru. Ia sendiri telah berhari-hari tergolek di atas kasur busa itu sambil mendengarkan musik keroncong mengalun dari radio kaset kecil kesayangannya.
  2. Pukul lima pagi biasanya ia sudah bangun tidur. Setelah menggosok gigi dan mencuci muka, ia berlari-lari di tempat sambil mengerak-gerakkan seluruh anggota badannya. Sebentar kemudian mandi dengan air hangat yang telah disiapkan ibunya. Sambil mengunyah roti bakar sarapannya, ia mulai menggoyang-goyang membangunkan saya dan minta uang jajan. Ia akan terus begitu sebelum beberapa lembar ribuan saya ulurkan. “Terima kasih”, katanya sambil berjingkat-jingkat meninggalkan kamar dan berangkat sekolah.
Kedua paragraf di atas tidak memiliki kalimat topik, tetapi dapat dipastikan bahwa keduanya mempunyai gagasan utama sebagai pengendali. Kalimat topik sengaja tidak ditampilkan sebab seandainya ditampilkan pun bunyi kalimat topik itu akan mirip. Jika akan dinyatakan kalimat topik paragraf (1) adalah “Seperti inilah keadaan kamar itu”. Perhatikanlah bahwa kalimat (1), (2), (3), dan (4) menggambarkan keadaan kamar yang sedang diceritakan dalam paragraf itu. Sementara itu, kalimat topik yang dapat digunakan untuk paragraf (2) adalah “Inilah yang terjadi”. Semua kalimat dalam paragraf (2) menjelaskan atau menceritakan apa yang dilakukan sang anak setiap pagi mulai pukul lima sampai berangkat sekolah.
Kalimat Topik dan Kalimat Pengembang
Selain kalimat topik, di dalam paragraf terdapat beberapa kalimat lain yang berfungsi mendukung, menjelaskan, atau mengembangkan kalimat topik itu. Sesuai dengan fungsinya itu, kalimat yang mendukung, menjelaskan, atau mengembangkan kalimat topik itu disebut kalimat pengembang.
Jika diamati satu persatu, hubungan kalimat-kalimat pengembang dengan kalimat topik pada sebuah paragraf mempunyai tingkat keeratan yang berbeda-beda. Ada kalimat yang secara langsung menjelaskan kalimat topik, ada pula kalimat yang tidak secara langsung menjelaskan kalimat topik meskipun masih mempunyai hubungan yang erat dengan kalimat topik paragraf itu. Kalimat pengembang taklangsung (minor) mengembangkan kalimat pengembang langsung (mayor), sedangkan kalimat pengembang langsung menjelaskan kalimat topik. Secara hierarkis di dalam paragraf yang baik hanya ada tiga macam kalimat yang dapat digambarkan dalam diagam berikut.
Struktur Paragraf yang Ideal
Jika pola-pola kalimat di dalam paragraf itu digambarkan, terbentuklah sebuah struktur yang disebut struktur paragraf. Pengetahuan tentang struktur sebuah paragraf amat penting bagi penulis terutama untuk melihat apakah kalimat-kalimat dalam paragraf yang ditulisnya mempunyai kaitan yang padu atau tidak. Untuk melihat baik atau tidaknya struktur paragraf  itu, mari kita perhatikan contoh berikut.
1) Seperti telah diketahui bersama, Bandung mempunyai banyak sebutan nama lain. 2) Bandung juga disebut Kota Kembang atau Parisj van Java. 3) Sebutan Parisj van Java diberikan oleh orang-orang Belanda. 4) Orang-orang Belanda itu datang ke Indonesia untuk berdagang. 5) Berdagang itu tidak hanya memerlukan modal, tetapi juga memerlukan tekad dan sifat yang ulet.

Kelima buah kalimat pada paragraf (3) di atas tidak diikat oleh gagasan utama yang tampaknya terkandung di dalam kalimat topik pada kalimat (1). Jika paragraf itu baik, mestinya kalimat-kalimat berikutnya mempunyai hubungan erat dengan gagasan utama bahwa Bandung mempunyai banyak sebutan atau nama yang lain. Sampai pada kalimat (3) hubungan dengan kalimat topik memang tampak erat, tetapi kalimat (4) dan (5) tidaklah demikian. Kalimat (2) langsung menyatakan sebutan atau nama lain kota Bandung, yaitu Kota Kembang atau Parisj van Java dan kalimat (3) memberi penjelasan tentang siapa yang memberi nama  Parisj van Java itu, yaitu Belanda. Sementara itu, jika ditarik hubungannya dengan kalimat topik, kalimat (4) tidak mempunyai hubungan sama sekali sebab kalimat ini menjelaskan apa tujuan Belanda datang ke Indonesia. Demikian juga halnya kalimat (5) yang menerangkan prinsip berdagang. Paragraf yang strukturnya seperti kalimat ini tidak baik sebab masih ada informasi yang menerangkan kalimat pengembang taklangsung. Seperti telah disebutkan di muka, paragraf  yang baik hanya mempunyai tiga tingkatan informasi saja, yaitu informasi dalam kalimat topik, kalimat pengembang langsung, dan kalimat pengembang taklangsung.


REFERENSI
Sanjoko, Yohanis. 2017. Materi Penyuluhan Bahasa Indonesia untuk pemangku kepentingan luar ruang. Manokwari: Balai Bahasa Papua.

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA