Home » All post
Novel Asmara Tiga Hati
- on May 05, 2017
- No comments
Laras gelisah, ia takut Bagas akan datang ke kantin,
dan melihatnya bersama Giga. Ya, bagaimanapun Giga adalah sahabat Bagas juga.
Meski gara-gara ia mengalihkan perhatian dan
menyintai Giga, Bagas kemudian menjauh. Bahkan ia menjadi lelaki paling dingin
yang pernah dikenalnya. Lelaki pemurung yang beku hatinya.
“Ada
yang membuatmu gelisah?”
Tanya Giga yang
melihat galau di wajah Laras. Tentu saja ia maklum, tiga tahun mereka tak
bertemu. Tiga tahun tentu telah mengubah
banyak hal. Mungkin juga perasaan mantan kekasihnya ini. Giga maklum.
“Laras?”
“Ya?”
“Ada yang membuatmu gelisah?”
“Ya.....”
“Seseorang?”
“Ya.....”
“Pasti sangat berarti bagimu”
“Ya….”
“Baiklah, aku akan
bicara sepuluh menit saja.
Setelah itu aku
akan
pergi dan melupakannmu. Meski selama tiga tahun lebih ini aku tak bisa melupakanmu”
“Dusta, meninggalkan seorang gadis begitu saja tanpa
pesan, itukah yang kau sebut tak bisa lupa? Bohong!”
“Sabar Laras, dengar dulu. Aku tak mungkin
memberitahumu, tak bisa”
“Kenapa?”
“Karena kau tak bisa menerima semua itu. Kau orang tak
mudah menerima sesuatu, aku tahu. Tapi ada musibah yang menimpaku. Dan aku baru
saja bebas, dua hari lalu, kemudian kesini, menemuimu sebelum semuanya
terlambat dan kamu benar-benar melupakanku.”
“Apa maksudmu?”
“Aku baru saja menjalani hukuman tiga tahun enam bulan.
Aku bebas lebih cepat tiap bulan, karena aku mendapatkan remisi tiap tahunnya.”
“Kau omong kosong apalagi?
“Ketika hari raya aku pulang kampung. Ini bukan omong
kosong, ini kisah nyata. Aku tak pernah bisa berdusta padamu. Kau mengenalku
dengan baik. Kalau kau bilang dusta, kau sudah tak mengenalku lagi,
meski aku masih Giga yang dulu.”
“Kisah apa?”
“Mobilku menabrak seorang pengendara sepeda motor
hingga tewas. Daripada digebugi massa, aku masuk ke kantor polisi minta
perlindungan. Aku tak lagi bisa menjelaskanmu, mengapa aku tak bisa menemuimu,
bahkan seperti menghilang. Sementara, kau enggan datang ke kotaku, apalagi
menjengukku dalam penjara.”
“Ah, benarkah? Apakah ini bukan dongeng sedih yang
sengaja kau buat?”
“Buat apa aku membuat dongeng
untukmu, sementara aku tak berharap
apapun darimu. Bahkan aku tak berharap kau memaafkan aku. Aku datang dari jauh, hanya untuk menyampaikan bahwa aku mengalami
musibah, dan selama aku menderita, kau tak pernah mau menjengukku. Jangankan
menjenguk, aku yakin kau bahkan lebih suka memilih pacar baru.”
“Aku tak tahu…..”
“Benarkah? Peristiwa itu masuk berita kurasa. Tapi
entahlah, mungkin saja kau tak tahu, daripada kau tahu, kemudian segan
menjengukku.”
“Jadi…..”
“Dimanakah kau ketika aku membutuhkan dirimu, ketika
aku butuh kau memberikan kekuatan……..?”
“Aku tak tahu, itu persoalannya. Dan selama kau
menghilang, aku tak mengerti mengapa kau meninggalkanku begitu saja. Bahkan
kabar darimu juga aku tak bisa dapatkan. Setelah itu ada yang dekat denganku.
Namun tak ada yang membuatku jatuh cinta, hingga tiga tahun lebih lamanya. Lalu
ketika satu bulan terakhir ini aku memutuskan menyintai seseorang, bukan karena
aku putus asa, tetapi karena aku memang jatuh cinta pada lelaki itu.”
“Oh, ya?”
“Dan aku tak perlu menutupinya darimu, bahwa lelaki
itu ternyata menyintaiku. Puaskah mendengar jawabanmu. Itu berarti sebetulnya
tak ada penghianatan apapun. Tapi harus kau tahu, kedatanganmu kini mengacaukan semuanya.”
“Mengapa?”
“Setidaknya aku menjadi bimbang untuk melanjutkan
cintaku pada yang lain.”
“Tapi kau sudah tak menyintaiku lagi.”
“Memang.”
“Ya, lupakan saja diriku.”
“Lalu buat apa kau temui aku?”
“Aku hanya rindu saja. Ok, yang penting aku sudah
sampaikan kebenaran masa laluku. Aku juga tak berharap kembali padamu. Aku
realistis saja. Dengan keadaanku ini tak mungkin kau akan kembali padaku.
Selamat berburu cinta Laras.”
“Ah, kau mau kemana?”
“Cari Kerja, baru lanjutkan kuliah lagi.”
Giga meninggalkan Laras dengan gontai. Membawa kelu di
hati. Sementara Laras menarik nafas panjang. Menatap lelaki muda itu dengan
perasaan sedih. Maafkan aku, Giga. Aku bukannya tak pernah mendengar kau masuk
penjara. Tetapi memang dunia kita sudah berbeda. Aku tak mau menikah dengan
lelaki mantan Napi. Maafkan aku.
Laras kemudian gontai
melangkah. Hatinya sunyi. Tiba-tiba ia sadar, bahwa ia kehilangan Bagas. O,
kemana perginya?
Rasa sunyi itu membuat Laras berlinang. Bagas, jika
lelaki sebaik engkau tak bisa kurengkuh, lalu lelaki seperti apa yang harus kucintai? Haruskah aku kembali kepada Giga yang sudah
seharusnya aku lupakan?
Angin semilir bertiup. Menggeriapkan rambut Giga yang
melintas di taman kampus yang hening. Mentari panas menyengat kulit. Dan kampus
mulai terasa sunyi.
****
Senja yang indah. Mobil Bagas sudah menembus kota Temanggung.
Lalu meluncur ke arah Secang, setelah melewati Weleri dan Sukorejo. Mereka
menuju sebuah kawasan di Bukit Tidar, sebelah selatan terminal.
Sebuah rumah suram tertutup pintunya.
Lama Bagas menatap rumah yang seperti tanpa penghuni itu. Lama hatinya kecewa, karena ia tak menemukan
sambutan hangat dari kakaknya. Atau dari anak yang dilahirkannya. Kemana
gerangan sang kakak?”
Rumah yang jauh dari keramaian itu sendiri, seperti
menyimpan kesuraman. Tanpa tetangga, tanpa sentuhan perawatan sehingga semak
belukar tumbuh disana.
“Kok sunyi? Kemana
kakakmu?” Tanya Rusman yang kebenaran melihat itu dalam keterasingan dan liar
serta kumuh.
“Entahlah…..”
Dari jauh, seorang pengendara sepeda motor
menghentikan laju kendaraannya tiba-tiba. Pengendara itu membuka helmnya.
“Bagas? Benarkah itu
kau?” Cowok itu menatap Bagas terheran-heran. Begitu juga dengan Bagas.
“Jamal?”
“Ya, aku Jamal Subhan, sahabatmu”
“Tahukan kau, mengapa rumah ini seperti tak terawat,
Jam?”
“Sebaiknya ke rumahku dulu, yuk, nanti aku ceritakan.
Rumah itu sudah dijual oleh suami kakamu.”
“Ha, benarkah?”
“Iya, banyak kejadian yang menimpa keluarga kakakmu.
Ayo ke rumahku. Malam ini kau jadi tamuku saja. Besok pagi kita ke Jatiroto…….”
“Jatiroto?”
“Mereka tinggal di sana. Namun berita suram aku
dengar, hanya saja aku tak bisa mencampuri urusan rumah tangga mereka. Ayolah
ke rumahku. Sebentar lagi maghrib. Besok pagi kita ke Candiroto…….”
“Aku tadi lewat sana.”
“Dari Jakarta?”
“Iya…..”
“Ya, sudah, sholat maghrib di tempatku aja. Bagaimanapun aku tetap teman kamu.”
“Baiklah, yuk……..”
“Rumah itu sudah bukan milikmu lagi. Rencananya akan
dibuat kantor, Karena dijual kepada
seorang pengusaha.”
“Pantas rumah itu seperti hancur.”
“Bukan hancur lagi, tiga tahun ini sudah menjadi rumah
hantu. Banyak yang takut lewat di sana.”
Hati Bagas berdesir. Lima tahun ia tak pulang. Lima
tahun ia tak menjenguk kakaknya. Ternyata lima tahun telah mengubah rumah damai
menjadi sebuah rumah hantu yang sunyi,
senyap, terasing.
Bagas kemudian masuk ke dalam mobilnya, mengikuti
rumah Jamal. Teman di SMU dulu, yang sebetulnya, Bagas pun nyaris lupa dengan
teman satu kelas itu.
“Kau tak pernah menjenguk kakakmu?”
Tanya Rusman yang sebetulnya tahu bahwa keluarga Bagas
memang sudah tiada. Saat itu jam di tangan Bagas menunjukkan pukul lima lebih
tiga puluh menit.
Mereka akhirnya meninggalkan rumah kenangan yang kini
menyisakan rasa getir dan pahit di hati
Bagas. Rumah kenangan itu menjadi rumah terasing, kumuh dan membiaskan
kesuraman.
Potret Pasar Tingkat (Pasting) Sanggeng - Manokwari
in
Menulis
- on May 05, 2017
- No comments
Pasar Tingkat Sanggeng atau sering disebut Pasting merupakan pasar milik Pemerintah Daerah Kabupaten Manokwari yang dihuni pedagang-pedagang yang berdomisili di Manokwari yaitu warga masyarakat pendatang dan pribumi yang membuka usaha, menjual barang dan jasa dan mempertahankan hidup dan kehidupannya di tempat ini. Disebut pasar tingkat karena memang desain bangunannya bertingkat. Warna cat bangunannya bervariasi, ada warna biru, kuning, oranye, putih, dan hijau. Dibagian depan pasar terdapat tulisan “PASAR SANGGENG PINTU CENDRAWASIH” yang ditulis pada selebar seng plat dan ditempel pada tembok. Ketika saya melakukan penelitian, beberapa stan di pasar tingkat ini tidak dibuka karena memang pada hari itu bertepatan dengan hari raya Sabtu Suci bagi umat kristiani.
Adapun jenis usaha yang saya temui di Pasar Tingkat adalah antara lain: jualan pakaian, sepatu dan sandal, jualan perhiasan (kalung, gelang,dan anting), jualan perabot rumah tangga, jualan sembako, jualan sayur-sayuran dan buah-buahan, jualan gorengan, jualan Alat Tulis Kantor (ATK) dan buku; penyewaan jasa (jahit pakaian, pengetikan dan foto copy, pembuatan stempel, bordir, perbaikan alat elektronik, pangkas rambut, jahit sepatu dan sandal).
Dilihat dari bentuk desain bangunan, tampak depan dan kiri Pasar Tingkat, kita hanya bisa melihat lantai pertama dan lantai kedua, sementara jika kita masuk dan melihat isinya, kita akan menemukan satu lantai bawah tanah. Namun berbeda jika kita menelusuri pasar dari bagian kanan atau belakang, akan tampak jelas bahwa Pasar Tingkat memang terdiri dari 3 lantai yang mana tidak ada lantai bawah tanah karena lantai bawah tanah yang terlihat dari bagian kiri dan depan merata dengan tanah bagian kanan dan belakang pasar ini. Pada bagian luar Pasar Tingkat yaitu antara lain bagian depan baik lantai satu maupun dua, kita akan menemukan beberapa tempat penjualan perhiasan, tempat penjualan buku-buku, pos penjagaan dan tempat parkir, tempat penjualan pakaian, tempat penjualan bakso dan minuman jenis sirup dan jus dan tempat pencetakan foto. Pada bagian kiri Pasar Tingkat baik lantai satu dan dua terdapat jenis usaha penyewaan jasa pangkas rambut, penjualan perhiasan, para penjahit sepatu dan sandal, dan tempat parkir kendaraan roda dua dan roda empat, tempat perbaikan alat elektronik yang rusak, beberapa penjahit, tempat penjualan alat elektronik dan tempat foto copy dan penjulan Alat Tulis Kantor (ATK).
Di lantai di bawah tanah dan lantai pertama kita akan banyak menemukan para pedagang pakaian dan barang elektronik, perabotan rumah tangga dan tempat pencucian foto, tempat penjualan perhiasan dan buku-buku. Di bagian kanan pasar terdapat toilet umum dengan tarif Rp. 3.000,- untuk Buang Air Kecil (BAK) dan Rp. 5.000,- untuk Buang Air Besar (BAB), tempat pembuangan sampah umum, para pedagang sayur dan sembako yang berderet di sepanjang jalur samping kanan Pasar Tingkat. “Setiap pengusaha di Pasar Tingkat ini wajib memberikan Retribusi Pasar sebesar Rp. 3.000,- /hari, Retribusi Sampah sebesar Rp. 20.000,-/bulan, Retribusi Daerah sebesar Rp. 50.000,-/bulan, pajak reklame sebesar Rp. 547.500/tahun, iuran keamanan sebesar Rp. 120.000,-/bulan dan pajak bumi dan bangunan sebesar Rp. 50.000/tahun”, ujar Joko Purwanto pemilik rental pengetikan di Pasar Tingkat. “Jika di hitung pengeluaran lebih besar daripada pemasukan. Pemasukan tergantung ramainya para pembeli dan yang ingin menyewakan jasa. Dalam sehari kadang tidak ada penghasilan, namun terkadang juga kalau sedang ramai penghasian bisa sampai ratusan ribu per hari”, lanjut Pria 35 tahun itu.
Saat ini kondisi pasar tingkat sangat memprihatinkan dan jauh dari kata kebersihan. Jika kita telusuri di setiap lantai, terdapat begitu banyak sampah yang berserakan dan tidak ditemukan tempat sampah yang tersedia di setiap lorong dan lantai selain yang terdapat di tempat pembuangan sampah umum. Ketika musim penghujan, di bagian sebelah kanan dan lantai dasar selalu kebanjiran sehingga daerah itu berbecek. Belum ada upaya dari pemerintah daerah terkait perbaikan, penyediaan fasilitas untuk menunjang kebersihan, seperti tempat sampah, dan minimnya kesadaran para warga pasar dalam hal menjaga kebersihan bersama.
Adapun jenis usaha yang saya temui di Pasar Tingkat adalah antara lain: jualan pakaian, sepatu dan sandal, jualan perhiasan (kalung, gelang,dan anting), jualan perabot rumah tangga, jualan sembako, jualan sayur-sayuran dan buah-buahan, jualan gorengan, jualan Alat Tulis Kantor (ATK) dan buku; penyewaan jasa (jahit pakaian, pengetikan dan foto copy, pembuatan stempel, bordir, perbaikan alat elektronik, pangkas rambut, jahit sepatu dan sandal).
Dilihat dari bentuk desain bangunan, tampak depan dan kiri Pasar Tingkat, kita hanya bisa melihat lantai pertama dan lantai kedua, sementara jika kita masuk dan melihat isinya, kita akan menemukan satu lantai bawah tanah. Namun berbeda jika kita menelusuri pasar dari bagian kanan atau belakang, akan tampak jelas bahwa Pasar Tingkat memang terdiri dari 3 lantai yang mana tidak ada lantai bawah tanah karena lantai bawah tanah yang terlihat dari bagian kiri dan depan merata dengan tanah bagian kanan dan belakang pasar ini. Pada bagian luar Pasar Tingkat yaitu antara lain bagian depan baik lantai satu maupun dua, kita akan menemukan beberapa tempat penjualan perhiasan, tempat penjualan buku-buku, pos penjagaan dan tempat parkir, tempat penjualan pakaian, tempat penjualan bakso dan minuman jenis sirup dan jus dan tempat pencetakan foto. Pada bagian kiri Pasar Tingkat baik lantai satu dan dua terdapat jenis usaha penyewaan jasa pangkas rambut, penjualan perhiasan, para penjahit sepatu dan sandal, dan tempat parkir kendaraan roda dua dan roda empat, tempat perbaikan alat elektronik yang rusak, beberapa penjahit, tempat penjualan alat elektronik dan tempat foto copy dan penjulan Alat Tulis Kantor (ATK).
Di lantai di bawah tanah dan lantai pertama kita akan banyak menemukan para pedagang pakaian dan barang elektronik, perabotan rumah tangga dan tempat pencucian foto, tempat penjualan perhiasan dan buku-buku. Di bagian kanan pasar terdapat toilet umum dengan tarif Rp. 3.000,- untuk Buang Air Kecil (BAK) dan Rp. 5.000,- untuk Buang Air Besar (BAB), tempat pembuangan sampah umum, para pedagang sayur dan sembako yang berderet di sepanjang jalur samping kanan Pasar Tingkat. “Setiap pengusaha di Pasar Tingkat ini wajib memberikan Retribusi Pasar sebesar Rp. 3.000,- /hari, Retribusi Sampah sebesar Rp. 20.000,-/bulan, Retribusi Daerah sebesar Rp. 50.000,-/bulan, pajak reklame sebesar Rp. 547.500/tahun, iuran keamanan sebesar Rp. 120.000,-/bulan dan pajak bumi dan bangunan sebesar Rp. 50.000/tahun”, ujar Joko Purwanto pemilik rental pengetikan di Pasar Tingkat. “Jika di hitung pengeluaran lebih besar daripada pemasukan. Pemasukan tergantung ramainya para pembeli dan yang ingin menyewakan jasa. Dalam sehari kadang tidak ada penghasilan, namun terkadang juga kalau sedang ramai penghasian bisa sampai ratusan ribu per hari”, lanjut Pria 35 tahun itu.
Saat ini kondisi pasar tingkat sangat memprihatinkan dan jauh dari kata kebersihan. Jika kita telusuri di setiap lantai, terdapat begitu banyak sampah yang berserakan dan tidak ditemukan tempat sampah yang tersedia di setiap lorong dan lantai selain yang terdapat di tempat pembuangan sampah umum. Ketika musim penghujan, di bagian sebelah kanan dan lantai dasar selalu kebanjiran sehingga daerah itu berbecek. Belum ada upaya dari pemerintah daerah terkait perbaikan, penyediaan fasilitas untuk menunjang kebersihan, seperti tempat sampah, dan minimnya kesadaran para warga pasar dalam hal menjaga kebersihan bersama.
Sekian...
===========
Oleh:
ariesrutung95
Potret hutan Gunung Meja Manokwari - Papua Barat
in
Menulis
- on May 05, 2017
- No comments
Hutan merupakan tanah luas yang ditumbuhi pohon-pohon yang biasanya tidak dipelihara orang atau tumbuh secara liar. Hutan memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Di Provinsi Papua Barat terdapat banyak hutan yang masih belum disentuh dan masih terasa kealamiannya baik yang dilindungi oleh pemerintah daerah maupun tidak.
Adalah Hutan Gunung Meja yang terletak di Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat. Hutan Gunung Meja merupakan jenis hutan lindung juga sebagai habitat dari beberapa makhluk hidup. Hutan ini belum disentuh oleh pembangunan dan kodisi hutannya masih alami serta belum ada aktivitas pembukaan lahan. Di hutan Gunung Meja terdapat begitu banyak poho-pohon besar nan tinggi yang diperkirakan berusia sekitar puluhan tahun, sudah berlumut dan kulit luarnya sudah terkupas. Ketika kita menyusuri hutan Gunung Meja melewati jalan yang disediakn pemerintah, kita akan menemukan beberapa pohon di pinggir jalan yang diberi lebel, berisikan keterangan tentang nama pohon itu dalam indonesia dan bahasa ilmiah, menghirup udara segar dan terasa dingin namun menakutkan. Pohon-pohon yang diberi lebel itu merupakan penanda suku pohon yang sejenis atau satu rumpun yang tingginya mencapai belasan bahkan puluhan meter. Banyak satwa yang hidup di hutan ini seperti burung, moluska dan lain-lain.
Ironisnya, ada masyarakat yang membuang sampah di tempat ini yang berupa logam dan plastik seperti yang terlihat pada gambar diatas. Kesadaran untuk menjaga keadaan hutan tetap bersih dari sampah plastik dan logam dan kehidupan makhluk hidup di hutan ini tetap aman masih sangat minim. Kondisi jalan yang melintasi hutan ini meskipun sudah diaspal namun masih ada bagian tertentu yang sudah rusak akibat kondisi tanah yang kurang padat sehingga mudah dikikis air hujan dan pepohonan yang tumbang menutupi jalan dibiarkan begitu saja, malah membuat jalan baru.
Adalah Hutan Gunung Meja yang terletak di Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat. Hutan Gunung Meja merupakan jenis hutan lindung juga sebagai habitat dari beberapa makhluk hidup. Hutan ini belum disentuh oleh pembangunan dan kodisi hutannya masih alami serta belum ada aktivitas pembukaan lahan. Di hutan Gunung Meja terdapat begitu banyak poho-pohon besar nan tinggi yang diperkirakan berusia sekitar puluhan tahun, sudah berlumut dan kulit luarnya sudah terkupas. Ketika kita menyusuri hutan Gunung Meja melewati jalan yang disediakn pemerintah, kita akan menemukan beberapa pohon di pinggir jalan yang diberi lebel, berisikan keterangan tentang nama pohon itu dalam indonesia dan bahasa ilmiah, menghirup udara segar dan terasa dingin namun menakutkan. Pohon-pohon yang diberi lebel itu merupakan penanda suku pohon yang sejenis atau satu rumpun yang tingginya mencapai belasan bahkan puluhan meter. Banyak satwa yang hidup di hutan ini seperti burung, moluska dan lain-lain.
Ironisnya, ada masyarakat yang membuang sampah di tempat ini yang berupa logam dan plastik seperti yang terlihat pada gambar diatas. Kesadaran untuk menjaga keadaan hutan tetap bersih dari sampah plastik dan logam dan kehidupan makhluk hidup di hutan ini tetap aman masih sangat minim. Kondisi jalan yang melintasi hutan ini meskipun sudah diaspal namun masih ada bagian tertentu yang sudah rusak akibat kondisi tanah yang kurang padat sehingga mudah dikikis air hujan dan pepohonan yang tumbang menutupi jalan dibiarkan begitu saja, malah membuat jalan baru.
Sekian.....
==========
Oleh:
ariesrutung95
Oleh:
ariesrutung95
Potret pantai Pasir Putih (Pasput) Manokwari
in
Menulis
- on May 05, 2017
- No comments
Masyarakat Manokwari pasti sudah sangat akrab dengan Pantai Pasir Putih atau Pasput. Pantai Pasir Putih (Pasput) Manokwari adalah salah satu tempat wisata milik Pemerintah Kabupaten Manokwari- Papua Barat yang merupakan salah satu destinasi wisata terbaik bagi warga masyarakat mulai dari anak-anak, dewasa dan orang tua dalam menghabiskan waktu akhir pekan mereka, waktu liburan atau bahkan hari di sela-sela kesibukan kerja. Pantai Pasir Putih merupakan salah satu dari beberapa pilihan tempat wisata lainnya seperti Pantai Bakaro, Pulau Mansinam dan lain-lain yang ada di Daerah Manokwari. Keindahan alam dan letaknya yang strategis serta dekat dari pusat kota Manokwari, dipadu dengan indahnya Pulau Mansinam yang berada tepat di hadapan pantai ini, cukup memanjakan mata paara pengunjung.
Jika kita berkunjung kesana, biaya untuk masuk dan menikmati/mengakses fasilitas yang tersedia di area pasir putih ini tidak terlalu mahal, cukup dengan membayar lahan parkir yang berkisar Rp. 5.000,- per kendaraan. Di dalam area pasir putih ini kita akan menemukan banyak pedagang yang menjual dagangannya terutama makanan jadi, diantaranya bakso, lalapan, es kelapa muda, dan lain sebagainya dengan harga yang terjangkau sekitar belasan ribu sampai puluhan ribu.
Air laut yang jernih dan bersih berwarna biru serta terbebas dari sampah. Terlihat batu karang di dasar laut yang berwarna coklat-kehitaman yang dilapisi lumut. Hal inilah yang membuat pegunjung tidak pernah bosan mengunjungi pantai ini untuk mandi, piknik, reunian, atau sekadar menikmati keidahan pantai bersama keluarga atau dengan teman.
Dalam menjaga dan melindungi pantai, warga yang berdomisili di dekat pantai diikutsertakan seperti halnya dalam mengelola tempat parkir, menyewakan barang-barang tertentu kepada para pengunjung pantai seperti ban, dan retribusi dari para pedagang yang menjual dagangannya di tempat ini. Mereka juga bekerja sama dalam membersihkan pinggiran pantai agar tetap bersih dan menjaga jalan agar tidak rusak dan tidak ditutupi pasir akibat terbawa oleh hujan. Pantai ini sering dikunjungi hampir setiap hari meskipun tidak seramai akhir pekan (sabtu dan minggu), namun setidaknya setiap hari ada pengunjung dengan tujuan yang bervariasi. Di wilayah pantai pasir putih terdapat beberapa bangunan milik warga dan pemerintah yang didirikan sebelum dan sesudah pantai ini dijadikan tempat wisata.
Sebagai tempat wisata umum, semoga saja pantai ini tetap terjaga kebersihan dan keamanannya, terutama terkait pencurian kendaraan yang sering terjadi. Pengamanan perlu diperketat dan dipandang perlu untuk menyediakan tempat parkir yang lebih luas sehingga kendaraan yang diparkir tidak memakan ruas jalan.
Sekian...
========
Oleh:
ariesrutung95
Jika kita berkunjung kesana, biaya untuk masuk dan menikmati/mengakses fasilitas yang tersedia di area pasir putih ini tidak terlalu mahal, cukup dengan membayar lahan parkir yang berkisar Rp. 5.000,- per kendaraan. Di dalam area pasir putih ini kita akan menemukan banyak pedagang yang menjual dagangannya terutama makanan jadi, diantaranya bakso, lalapan, es kelapa muda, dan lain sebagainya dengan harga yang terjangkau sekitar belasan ribu sampai puluhan ribu.
Air laut yang jernih dan bersih berwarna biru serta terbebas dari sampah. Terlihat batu karang di dasar laut yang berwarna coklat-kehitaman yang dilapisi lumut. Hal inilah yang membuat pegunjung tidak pernah bosan mengunjungi pantai ini untuk mandi, piknik, reunian, atau sekadar menikmati keidahan pantai bersama keluarga atau dengan teman.
Dalam menjaga dan melindungi pantai, warga yang berdomisili di dekat pantai diikutsertakan seperti halnya dalam mengelola tempat parkir, menyewakan barang-barang tertentu kepada para pengunjung pantai seperti ban, dan retribusi dari para pedagang yang menjual dagangannya di tempat ini. Mereka juga bekerja sama dalam membersihkan pinggiran pantai agar tetap bersih dan menjaga jalan agar tidak rusak dan tidak ditutupi pasir akibat terbawa oleh hujan. Pantai ini sering dikunjungi hampir setiap hari meskipun tidak seramai akhir pekan (sabtu dan minggu), namun setidaknya setiap hari ada pengunjung dengan tujuan yang bervariasi. Di wilayah pantai pasir putih terdapat beberapa bangunan milik warga dan pemerintah yang didirikan sebelum dan sesudah pantai ini dijadikan tempat wisata.
Sebagai tempat wisata umum, semoga saja pantai ini tetap terjaga kebersihan dan keamanannya, terutama terkait pencurian kendaraan yang sering terjadi. Pengamanan perlu diperketat dan dipandang perlu untuk menyediakan tempat parkir yang lebih luas sehingga kendaraan yang diparkir tidak memakan ruas jalan.
Sekian...
========
Oleh:
ariesrutung95


